WISATA

Kemenpar Dorong Wisata Gunung Api Berbasis Keselamatan

A. Firdaus
Rabu 30 September 2026 / 13:14
Ringkasnya gini..
  • Kemenpar mendorong wisata gunung api berbasis risiko dengan memperkuat standar keselamatan, kompetensi pemandu, dan kesiapsiagaan darurat.
  • Penerapan standar usaha pariwisata berbasis risiko juga mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025.
  • Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan wisata gunung api.
Jakarta: Wisata gunung api menjadi salah satu potensi pariwisata Indonesia yang menawarkan pengalaman alam dan petualangan. Namun, di balik daya tariknya, aktivitas wisata di kawasan gunung api memiliki risiko yang perlu dikelola dengan baik, terutama karena kondisi alam dan aktivitas vulkanik yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun mendorong pengembangan wisata gunung api dengan mengutamakan keselamatan melalui pendekatan berbasis risiko, informasi ilmiah, serta penerapan standar usaha pariwisata. Langkah ini dinilai penting agar aktivitas wisata dapat berlangsung dengan aman tanpa mengabaikan potensi ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Juru Bicara Kemenpar Nia Niscaya mengatakan, keselamatan wisatawan tidak cukup hanya mengandalkan pengamatan visual terhadap kondisi gunung. Wisatawan dan penyelenggara perlu memperhatikan status aktivitas vulkanik serta mengikuti rekomendasi resmi Badan Geologi, khususnya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
 

“Keselamatan wisata gunung api harus dibangun melalui pendekatan berbasis risiko, informasi ilmiah, standar usaha pariwisata, dan kompetensi sumber daya manusia. Wisatawan tidak boleh hanya mengandalkan kondisi visual gunung, tetapi harus mengikuti status aktivitas dan rekomendasi resmi Badan Geologi/PVMBG,” kata Nia kepada melansir Antara.
 

Standar keselamatan wisata gunung api perlu diperkuat


Dari sisi penyelenggara, Kemenpar mendorong penerapan standar keselamatan yang disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat risiko setiap aktivitas wisata. Hal ini mencakup penyusunan prosedur operasional standar (SOP) keselamatan dan keadaan darurat, pengelolaan risiko, hingga kesiapan sumber daya manusia.

Penyelenggara juga perlu memastikan ketersediaan jalur evakuasi, titik kumpul, sistem komunikasi, serta informasi keselamatan yang mudah diakses wisatawan. Kesiapan penanganan keadaan darurat menjadi aspek penting, terutama untuk aktivitas yang dilakukan di medan dengan tingkat risiko berbeda.

Nia mengatakan, penerapan standar usaha pariwisata berbasis risiko juga mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025. Regulasi tersebut menjadi salah satu pedoman bagi pelaku usaha dalam memenuhi aspek keselamatan, kesiapsiagaan darurat, kompetensi SDM, serta ketersediaan sarana dan sistem informasi keselamatan.

Selain penyelenggara, wisatawan juga memiliki peran dalam menjaga keselamatan selama beraktivitas. Kemenpar mendorong wisatawan menggunakan biro perjalanan berizin serta memilih pemandu wisata yang kompeten dan tersertifikasi.

Kemenpar turut mendorong penguatan penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Pemandu Wisata Gunung. Dengan demikian, kompetensi pemandu dapat disesuaikan dengan karakteristik medan dan tingkat risiko aktivitas wisata yang dipandu.
 

Wisata gunung api punya potensi besar


Penguatan aspek keselamatan tersebut sejalan dengan perkembangan tren pariwisata yang semakin mengarah pada pengalaman langsung dan aktivitas di alam terbuka. Sejumlah kegiatan yang diminati wisatawan antara lain trekking, pendakian, trail running, hingga sport tourism atau wisata olahraga.

Kemenpar juga menempatkan wisata gunung dalam tren Nature and Adventure atau wisata alam dan petualangan. Tren ini menjadi salah satu dari enam tren utama pariwisata yang diidentifikasi kementerian.

Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan wisata gunung api. Dengan 127 gunung api aktif yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api, Indonesia memiliki kekayaan geologi yang dapat dikembangkan menjadi beragam pengalaman wisata.

Potensi tersebut tidak terbatas pada wisata petualangan dan olahraga. Kawasan gunung api juga dapat dikembangkan untuk wisata edukasi, geowisata, serta wisata budaya yang mengangkat kehidupan dan tradisi masyarakat di sekitarnya.

Meski demikian, Nia menegaskan pengembangan wisata gunung api harus tetap menjadikan keselamatan sebagai fondasi utama. Pengelolaan risiko yang baik diharapkan dapat menciptakan kegiatan wisata yang aman dan berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH