WISATA
Serui Mau Naik Kelas! Jalan Rusak dan Bandara Mulai Dibenerin
A. Firdaus
Kamis 21 Mei 2026 / 12:11
- Akses transportasi masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat, terutama saat cuaca ekstrem datang menghantam wilayah pesisir.
- Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen juga mengusulkan penambahan runway sepanjang 250 meter.
- Pembangunan akses jalan dan bandara menjadi langkah penting agar masyarakat tetap terhubung.
Serui: Papua tidak hanya bicara soal keindahan alam dan laut biru. Di balik pesonanya, akses transportasi masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat, terutama saat cuaca ekstrem datang menghantam wilayah pesisir.
Hal inilah yang menjadi perhatian serius Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri. Saat mengunjungi Kabupaten Kepulauan Yapen, ia menegaskan pentingnya pembangunan jalur barat serta peningkatan fasilitas Bandara Stevamus Rumbewas di Serui demi memperkuat konektivitas, layanan kesehatan, hingga roda ekonomi masyarakat.
Menurut Fakhiri, jalur barat punya peran vital karena menjadi penghubung utama wilayah utara Yapen, terutama saat kondisi laut tidak memungkinkan untuk dilalui.
“Di waktu tertentu, bulan Oktober sampai Februari, ombak di wilayah sini bisa sampai 4-5 meter. Ini pasti akan menyulitkan masyarakat untuk beraktivitas kalau mau ke Serui, khususnya apabila ada yang sakit,” ujar Fakhiri.
Cuaca ekstrem tersebut sering membuat aktivitas masyarakat terganggu, mulai dari distribusi barang, perjalanan warga, hingga akses pasien menuju fasilitas kesehatan.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Papua berencana memperbaiki sejumlah jembatan di jalur barat, termasuk mengganti jembatan kayu yang sudah tidak layak digunakan.
Bagi Fakhiri, pembangunan infrastruktur bukan sekadar soal jalan mulus, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat di kampung nelayan dan wilayah pertanian.
“Kalau akses putus, mata rantai ekonomi juga putus. Berarti percuma kita bicara menumbuhkan ekonomi,” katanya.
Tak hanya jalur darat, perhatian juga diarahkan ke Bandara Serui. Saat ini panjang landasan bandara sekitar 1,6 kilometer, namun sebagian runway mengalami kerusakan akibat gempa bumi.
Pemerintah pusat disebut sudah memasukkan perbaikan bandara ke dalam program APBN. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen juga mengusulkan penambahan runway sepanjang 250 meter yang akan mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua.
Peningkatan kapasitas bandara diharapkan membuat pesawat ATR bisa mendarat dengan lebih optimal di Serui. Kehadiran akses udara yang lebih baik diyakini akan membantu mobilitas masyarakat, mempercepat distribusi hasil laut, hingga mendukung layanan kesehatan rujukan ke Biak.
“Kami berharap pesawat ATR bisa landing sehingga aktivitas bandara lancar dan masyarakat dapat bepergian dengan baik,” ucapnya.
Di tengah tantangan geografis Papua yang tidak mudah, pembangunan akses jalan dan bandara menjadi langkah penting agar masyarakat tetap terhubung, baik untuk kebutuhan ekonomi maupun keselamatan hidup sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Hal inilah yang menjadi perhatian serius Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri. Saat mengunjungi Kabupaten Kepulauan Yapen, ia menegaskan pentingnya pembangunan jalur barat serta peningkatan fasilitas Bandara Stevamus Rumbewas di Serui demi memperkuat konektivitas, layanan kesehatan, hingga roda ekonomi masyarakat.
Menurut Fakhiri, jalur barat punya peran vital karena menjadi penghubung utama wilayah utara Yapen, terutama saat kondisi laut tidak memungkinkan untuk dilalui.
“Di waktu tertentu, bulan Oktober sampai Februari, ombak di wilayah sini bisa sampai 4-5 meter. Ini pasti akan menyulitkan masyarakat untuk beraktivitas kalau mau ke Serui, khususnya apabila ada yang sakit,” ujar Fakhiri.
Cuaca ekstrem tersebut sering membuat aktivitas masyarakat terganggu, mulai dari distribusi barang, perjalanan warga, hingga akses pasien menuju fasilitas kesehatan.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Papua berencana memperbaiki sejumlah jembatan di jalur barat, termasuk mengganti jembatan kayu yang sudah tidak layak digunakan.
Bagi Fakhiri, pembangunan infrastruktur bukan sekadar soal jalan mulus, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat di kampung nelayan dan wilayah pertanian.
“Kalau akses putus, mata rantai ekonomi juga putus. Berarti percuma kita bicara menumbuhkan ekonomi,” katanya.
Tak hanya jalur darat, perhatian juga diarahkan ke Bandara Serui. Saat ini panjang landasan bandara sekitar 1,6 kilometer, namun sebagian runway mengalami kerusakan akibat gempa bumi.
Pemerintah pusat disebut sudah memasukkan perbaikan bandara ke dalam program APBN. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen juga mengusulkan penambahan runway sepanjang 250 meter yang akan mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua.
Peningkatan kapasitas bandara diharapkan membuat pesawat ATR bisa mendarat dengan lebih optimal di Serui. Kehadiran akses udara yang lebih baik diyakini akan membantu mobilitas masyarakat, mempercepat distribusi hasil laut, hingga mendukung layanan kesehatan rujukan ke Biak.
“Kami berharap pesawat ATR bisa landing sehingga aktivitas bandara lancar dan masyarakat dapat bepergian dengan baik,” ucapnya.
Di tengah tantangan geografis Papua yang tidak mudah, pembangunan akses jalan dan bandara menjadi langkah penting agar masyarakat tetap terhubung, baik untuk kebutuhan ekonomi maupun keselamatan hidup sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)