WISATA

Festival Budaya Lembah Baliem 2026 Jadi Magnet Wisata Papua Pegunungan

A. Firdaus
Sabtu 08 Agustus 2026 / 13:12
Ringkasnya gini..
  • Penyelenggaraan FBLB dapat memberikan efek berantai bagi berbagai sektor.
  • Salah satu atraksi yang paling dikenal dalam FBLB adalah simulasi perang tradisional.
  • Salah satunya adalah Kopi Wamena yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui penguatan skala ekonomi koperasi.
Wamena: Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2026 kembali hadir membawa warna budaya Papua Pegunungan. Tak sekadar menjadi panggung seni dan tradisi, festival ini diharapkan mampu menggerakkan pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan penyelenggaraan FBLB dapat memberikan efek berantai bagi berbagai sektor, mulai dari pelaku seni dan UMKM, akomodasi, transportasi, hingga kuliner.

"Seni dan pariwisata memiliki kekuatan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Dampaknya bisa dirasakan tidak hanya oleh pemerintah dan masyarakat, tetapi juga pelaku seni budaya, UMKM, penyedia akomodasi dan transportasi, hingga usaha makanan dan minuman," kata Ni Luh saat membuka FBLB ke-34 di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Jumat (7/8/2026).
 

FBLB 2026 berlangsung pada 7-8 Agustus 2026 dan kembali masuk dalam jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Pencapaian tersebut memperkuat posisi festival sebagai salah satu agenda budaya yang menjadi daya tarik wisata Indonesia.
 

Bukan Sekadar Festival, Ada Pesan Perdamaian


Lembah Baliem punya kombinasi alam dan budaya yang kuat. Tradisi masyarakat adat yang masih terjaga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman budaya secara lebih autentik.

Salah satu atraksi yang paling dikenal dalam FBLB adalah simulasi perang tradisional. Namun, atraksi tersebut kini tidak sekadar menampilkan keberanian dan kekuatan, tetapi juga membawa pesan tentang perdamaian, persaudaraan, dan persatuan.

"Keberanian sejati bukan diukur dari kemampuan mengalahkan sesama, tetapi dari kebijaksanaan menjaga kedamaian dan ketenangan tanpa kehilangan jati diri," ujar Ni Luh.

Menurutnya, festival menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Papua Pegunungan kepada wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Pengembangan pariwisata juga diharapkan tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga tradisi. Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor agar budaya lokal tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
 

Sanggar Seni Ikut Didorong Berkembang


Dalam pembukaan FBLB 2026, Ni Luh juga menanggapi aspirasi masyarakat terkait penguatan sanggar seni budaya di Jayawijaya.

Kementerian Pariwisata bersama Kementerian Koperasi berkomitmen mendorong kolaborasi untuk memperkuat ekosistem seni budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pelaku seni.

"Kami menerima amanat dari masyarakat mengenai perhatian terhadap sanggar-sanggar seni budaya di Jayawijaya. Bersama Kementerian Koperasi, kami berkomitmen berkolaborasi agar sanggar-sanggar tersebut terus berkembang, mampu mempertahankan tradisi, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," kata Ni Luh.

Ia juga berharap keberadaan FBLB dapat membuat semakin banyak generasi muda tertarik untuk mengenal sekaligus melestarikan adat dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

"Mudah-mudahan festival ini terus berkembang, semakin berkualitas, dan mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk datang ke Papua Pegunungan," ujarnya.
 

Kopi Wamena hingga Produk Lokal Ikut Didorong


Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang turut hadir dalam pembukaan FBLB 2026 mengatakan, pihaknya siap memperkuat pemberdayaan pelaku seni melalui pengembangan ekonomi berbasis koperasi.

Menurutnya, pendampingan terhadap sanggar seni budaya dapat memperluas keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan FBLB pada tahun-tahun mendatang.

Tak hanya seni, potensi produk lokal juga menjadi perhatian. Salah satunya adalah Kopi Wamena yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui penguatan skala ekonomi koperasi.

"Selain itu, produk-produk unggulan seperti Kopi Wamena dan berbagai komoditas potensial lainnya juga akan kami kembangkan melalui penguatan skala ekonomi koperasi sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat," ujar Ferry.
 

Lokasi Festival Terus Berpindah


Bupati Jayawijaya Athenius Murip mengatakan FBLB menjadi momentum penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya masyarakat Papua Pegunungan sekaligus memperkenalkan potensi wisata daerah kepada dunia.

Menariknya, lokasi penyelenggaraan festival terus bergilir. Tahun ini FBLB digelar di Distrik Walesi setelah sebelumnya berlangsung di Distrik Usilimo.

"Tahun ini festival diselenggarakan di Distrik Walesi setelah sebelumnya di Distrik Usilimo. Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Jayawijaya bukan hanya kaya akan budaya, tetapi juga memiliki potensi pariwisata yang luar biasa," kata Athenius.

Dengan kekayaan tradisi, seni, alam, dan produk lokal yang dimiliki, FBLB diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Festival ini juga menjadi pintu masuk untuk mengenalkan Papua Pegunungan sebagai destinasi wisata yang punya pengalaman budaya berbeda dan autentik.

Pada akhirnya, semakin banyak wisatawan yang datang berarti semakin besar pula peluang masyarakat lokal untuk ikut tumbuh melalui sektor pariwisata, ekonomi kreatif, kuliner, hingga produk budaya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH