WISATA
Kemenpar Petakan Potensi Wisata Wellness untuk Perkuat Pariwisata Indonesia
A. Firdaus
Jumat 04 September 2026 / 14:21
- Kemenpar memetakan potensi wisata wellness Indonesia dan menyusun katalog pelaku usaha untuk memperkuat pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
- Pengembangan wisata wellness tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor.
- Kemenpar meminta pelaku usaha memberikan data dan informasi yang dibutuhkan.
Jakarta: Tren wisata wellness atau kebugaran terus berkembang. Melihat peluang tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai memetakan potensi sekaligus ekosistem wisata wellness di Indonesia.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di pasar global sekaligus mendorong hadirnya pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pemerintah daerah, asosiasi, hingga pelaku usaha di sektor wellness.
Beberapa di antaranya adalah Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Asosiasi SPA Indonesia (ASPI), Perkumpulan Pengelola Klinik Kecantikan dan Estetika Indonesia (PRASTIKA), Perhimpunan Pengusaha Pusat Kebugaran Indonesia (PPPKI), Bali Spa & Wellness Association (BSWA), serta pelaku usaha terkait.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, mengatakan industri wellness memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan baru pariwisata Indonesia.
Hal itu disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi dan Identifikasi Peluang Pengembangan Wisata Wellness Indonesia di Ruang Belajar Alex Tilaar, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
“Kita melihat ekosistem ini belum kita bangun secara luas,” ujar Rizki.
Menurut Rizki, pengembangan wisata wellness tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor. Dibutuhkan ekosistem yang terintegrasi agar berbagai layanan dan produk wellness bisa menjadi bagian dari pengalaman wisatawan.
Karena itu, Kemenpar saat ini mulai menyusun katalog usaha wellness Indonesia.
Katalog tersebut nantinya akan diintegrasikan ke dalam basis data Indonesia Travel, sehingga wisatawan dapat lebih mudah menemukan informasi mengenai produk dan layanan wellness di berbagai daerah.
Pemetaan ini tidak hanya mencakup jenis layanan yang tersedia, tetapi juga produk dan pelaku usaha yang berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari perjalanan wisata.
Dengan adanya basis data tersebut, wisatawan diharapkan bisa mendapatkan informasi yang lebih mudah dan akurat ketika mencari pengalaman wisata wellness di Indonesia.
Kemenpar meminta pelaku usaha memberikan data dan informasi yang dibutuhkan, termasuk mendukung proses survei lapangan, penyusunan katalog, hingga rencana temu bisnis.
“Untuk itu, kami mengharapkan dukungan serta komitmen dari seluruh pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan program ini. Kami juga memohon kesediaan Bapak dan Ibu untuk memberikan data, informasi, serta akses yang diperlukan selama proses pemetaan, survei lapangan, penyusunan katalog, hingga pelaksanaan temu bisnis,” kata Rizki.
Ia menambahkan, sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, asosiasi, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk membangun ekosistem wisata wellness yang kuat.
Jika ekosistem tersebut dapat dikembangkan secara terintegrasi, wisata wellness tidak hanya menjadi pilihan aktivitas tambahan saat berlibur, tetapi juga dapat berkembang sebagai salah satu daya tarik utama pariwisata Indonesia.
Kemenpar pun menempatkan wisata wellness sebagai salah satu program unggulan dalam mendorong pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Melalui pemetaan dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia diharapkan memiliki ekosistem wellness yang lebih terarah sekaligus mampu menawarkan pengalaman wisata yang semakin beragam bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
(FIR)
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di pasar global sekaligus mendorong hadirnya pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pemerintah daerah, asosiasi, hingga pelaku usaha di sektor wellness.
Beberapa di antaranya adalah Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Asosiasi SPA Indonesia (ASPI), Perkumpulan Pengelola Klinik Kecantikan dan Estetika Indonesia (PRASTIKA), Perhimpunan Pengusaha Pusat Kebugaran Indonesia (PPPKI), Bali Spa & Wellness Association (BSWA), serta pelaku usaha terkait.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, mengatakan industri wellness memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan baru pariwisata Indonesia.
Hal itu disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi dan Identifikasi Peluang Pengembangan Wisata Wellness Indonesia di Ruang Belajar Alex Tilaar, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
“Kita melihat ekosistem ini belum kita bangun secara luas,” ujar Rizki.
Mulai dari Pemetaan Pelaku Usaha
Menurut Rizki, pengembangan wisata wellness tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor. Dibutuhkan ekosistem yang terintegrasi agar berbagai layanan dan produk wellness bisa menjadi bagian dari pengalaman wisatawan.
Karena itu, Kemenpar saat ini mulai menyusun katalog usaha wellness Indonesia.
Katalog tersebut nantinya akan diintegrasikan ke dalam basis data Indonesia Travel, sehingga wisatawan dapat lebih mudah menemukan informasi mengenai produk dan layanan wellness di berbagai daerah.
Pemetaan ini tidak hanya mencakup jenis layanan yang tersedia, tetapi juga produk dan pelaku usaha yang berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari perjalanan wisata.
Dengan adanya basis data tersebut, wisatawan diharapkan bisa mendapatkan informasi yang lebih mudah dan akurat ketika mencari pengalaman wisata wellness di Indonesia.
Pelaku Usaha Diminta Ikut Terlibat
Rizki menilai keterlibatan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam proses pemetaan tersebut.Kemenpar meminta pelaku usaha memberikan data dan informasi yang dibutuhkan, termasuk mendukung proses survei lapangan, penyusunan katalog, hingga rencana temu bisnis.
“Untuk itu, kami mengharapkan dukungan serta komitmen dari seluruh pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan program ini. Kami juga memohon kesediaan Bapak dan Ibu untuk memberikan data, informasi, serta akses yang diperlukan selama proses pemetaan, survei lapangan, penyusunan katalog, hingga pelaksanaan temu bisnis,” kata Rizki.
Ia menambahkan, sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, asosiasi, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk membangun ekosistem wisata wellness yang kuat.
Jika ekosistem tersebut dapat dikembangkan secara terintegrasi, wisata wellness tidak hanya menjadi pilihan aktivitas tambahan saat berlibur, tetapi juga dapat berkembang sebagai salah satu daya tarik utama pariwisata Indonesia.
Kemenpar pun menempatkan wisata wellness sebagai salah satu program unggulan dalam mendorong pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Melalui pemetaan dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia diharapkan memiliki ekosistem wellness yang lebih terarah sekaligus mampu menawarkan pengalaman wisata yang semakin beragam bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
(FIR)