FAMILY

Spill Rahasia Biar Anak Lancar Ngobrol Tanpa Perlu Stres Sendiri

Yatin Suleha
Senin 30 Maret 2026 / 08:05
Ringkasnya gini..
  • Mengajarkan anak untuk mulai berbicara, sering kali terasa lebih menantang.
  • Banyak orang tua merasa harus melakukan banyak hal sekaligus, mulai dari mengajarkan kata baru, hingga memastikan perkembangan anak.
  • Padahal, proses belajar bahasa pada anak sebenarnya bisa terjadi secara alami.
Jakarta: Mengajarkan anak untuk mulai berbicara, sering kali terasa lebih menantang dari yang dibayangkan.

Di satu sisi, ada harapan agar anak cepat lancar berkomunikasi, tetapi di sisi lain rutinitas harian yang padat membuat proses belajar ini tidak selalu mudah diterapkan. 

Banyak orang tua merasa harus melakukan banyak hal sekaligus, mulai dari mengajarkan kata baru, hingga memastikan perkembangan anak berjalan sesuai usia. 

Padahal, proses belajar bahasa pada anak sebenarnya bisa terjadi secara alami, melalui interaksi sederhana setiap hari.

Kuncinya bukan pada seberapa banyak yang diajarkan, tetapi seberapa konsisten momen kecil itu dimanfaatkan.
   

Apa yang membuat orang tua kesulitan mengintegrasikan aktivitas belajar?


Salah satu alasan utama terasa sulit, yaitu karena adanya tekanan untuk “mengajarkan semuanya” sekaligus. Padahal, perkembangan bahasa setiap anak berbeda-beda, dan tidak selalu harus dipaksakan sesuai standar tertentu.

Orang tua tidak perlu merasa harus mengajarkan semua konsep komunikasi, dalam waktu singkat. Anak akan berkembang dengan ritmenya sendiri, dan kemampuan bicara biasanya akan semakin terasah ketika mulai berinteraksi lebih luas, misalnya saat masuk sekolah.

“Untuk pertumbuhan yang berkelanjutan, mulailah dengan tujuan kecil dan bangunlah berdasarkan kesuksesan kamu dan anak,” kata Marie Martinez, M.S., M.Ed., CCC-SLP, BCBA, LBA, dan penulis buku Path for Words: Five-Minute Language Learning Activities for Children Ages One to Three Years, dalam Parents.

“Dalam sesi bimbingan orang tua saya, saya selalu berusaha, mengidentifikasi tujuan orang tua dan rutinitas harian mereka. Dengan cara ini, kita dapat mengidentifikasi momen-momen kecil sepanjang hari, yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran bahasa,” tambahnya.


(Kunci si kecil lancar mengobrol dengan si kecil bukan pada seberapa banyak yang diajarkan, tetapi seberapa konsisten momen kecil itu dimanfaatkan. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)

Pendekatan ini menekankan bahwa belajar tidak harus terpisah dari aktivitas sehari-hari. Justru, momen sederhana bisa jadi cara paling efektif untuk melatih komunikasi.

Sebagai contoh, aktivitas ringan seperti perjalanan di mobil bisa jadi awal yang baik. Martinez sering memulai dengan “komunikasi di kursi mobil”, lalu mengembangkannya ke situasi lain, seperti berjalan ke mobil, pergi ke halte bus, atau sekadar mengamati lingkungan sekitar sambil berbincang.

Dengan cara ini, kemampuan bahasa anak berkembang secara bertahap dari kebiasaan kecil, yang dilakukan berulang setiap hari. Seiring waktu, perkembangan tersebut akan terlihat lebih jelas dan terukur.
 

Kapan perlu mencari bantuan Profesional?


Meskipun setiap anak berkembang dengan cara yang berbeda, penting untuk tetap peka terhadap tanda-tanda tertentu, yang mungkin memerlukan perhatian lebih.

Martinez menekankan bahwa orang tua biasanya paling memahami kondisi anaknya sendiri. Jika muncul kekhawatiran, tidak perlu ragu untuk mencari bantuan tenaga medis atau ahli perkembangan anak.

Saran Martinez bagi orang tua, yaitu mereka harus benar-benar mengenal anak-anak mereka dengan baik. 

Jika Moms memiliki kekhawatiran, Moms harus menghubungi dokter anak mereka, yang mungkin dapat merujuk mereka ke terapis wicara dan bahasa, atau ahli intervensi dini lainnya yang dapat membantu mereka memutuskan cara terbaik untuk mendukung anak mereka.

Langkah ini penting karena penanganan sejak dini, bisa memberikan dampak besar pada perkembangan anak ke depannya.

 


“Intervensi dini sangat penting pada tahap ini dalam perkembangan anak, dan pendekatan ‘tunggu dan lihat’ mungkin menimbulkan tekanan tambahan bagi keluarga,” jelas Martinez. 

“Tanda-tanda umum yang perlu diperhatikan keluarga sejak dini, antara lain ketika bayi tidak tersenyum dan berusaha berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, tidak mengoceh, atau hanya mengeluarkan beberapa suara atau gerakan pada usia sembilan bulan,” tambahnya.


Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH