KULINER
Dari Gendong ke Digital: Jamu Siap Menginvasi Dunia Bareng Kemenekraf!
Yatin Suleha
Senin 25 Mei 2026 / 10:09
- Kemenekraf terima audiensi DJI perkuat ekosistem jamu.
- Tujuannya memperkuat ekosistem jamu supaya makin kokoh sebagai produk kesehatan sekaligus warisan budaya yang bernilai tinggi.
- Ini jadi langkah awal yang strategis banget buat ngenalin dan masarin jamu Indonesia ke pasar global biar makin dikenal dunia.
Jakarta: Jamu lokal siap-siap naik level, nih! Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) baru aja ketemuan sama Dewan Jamu Indonesia (DJI) buat ngebahas masa depan ramuan tradisional kita.
Tujuannya keren banget: memperkuat ekosistem jamu supaya makin kokoh sebagai produk kesehatan sekaligus warisan budaya yang bernilai tinggi. Ini jadi langkah awal yang strategis banget buat ngenalin dan masarin jamu Indonesia ke pasar global biar makin dikenal dunia.
"Jamu bukan sekadar warisan tradisi, tapi produk ekonomi kreatif yang punya potensi besar di pasar dunia. Lewat dukungan ekosistem digital, riset, dan ilmu pengetahuan, kita harus ubah kekayaan budaya ini menjadi produk modern yang diminati global," ujar Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (20/05).
Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, Kementerian Ekraf mendorong penguatan branding, hak kekayaan intelektual (intellectual property/IP), hingga perluasan akses melalui berbagai platform digital.
Selain itu, Kementerian Ekraf juga berencana membantu proses branding hingga kurasi yang ketat agar industri jamu mampu tampil di kancah internasional.
"Kreativitas budaya kita sudah luar biasa sejak dulu, namun tantangan terbesarnya adalah komersialisasi dan monetize. Melalui ekosistem digital, kita bantu branding dan kurasi produk yang unik agar siap menangkap peluang global tanpa harus panik dalam memenuhi kapasitas produksinya," tambah Menteri Ekraf.

("Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu," ungkap Ketua Umum DJI, Daniel Tjen. Foto: Dok. Birkom Kemenekraf)
DJI sendiri merupakan wadah nasional yang menghimpun pelaku usaha, peracik jamu, akademisi, peneliti, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya dalam rangka mengembangkan dan melestarikan jamu sebagai warisan budaya sekaligus produk kesehatan Indonesia.
Audiensi ini juga membahas penguatan kolaborasi dan pematangan konsep penyelenggaraan The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) 2026 yang dijadwalkan berlangsung Oktober 2026, bertepatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober.
Nantinya, 2nd JICE 2026 didesain sebagai platform terpadu berskala internasional yang menggabungkan konferensi ilmiah, pameran industri, dan promosi budaya. Mereka juga bakal mengundang Menteri Ekraf sebagai narasumber dalam podcast pre-event di Candi Borobudur pada 31 Mei 2026.
"Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu. Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini,” ungkap Ketua Umum DJI, Daniel Tjen.
Gelaran 2nd JICE 2026 mengusung tema “Jamu as a Creative Wellness and Health Industry: Driving Sustainable Well-Being through Cultural Innovation, Green Economy, and Global Partnerships”.
Acara puncak direncanakan berlangsung di Royal Ambarrukmo Yogyakarta serta kawasan Candi Borobudur demi menyatukan ekosistem pariwisata heritage dengan industri kreatif jamu.
Dalam audiensi itu, Menteri Ekraf didampingi Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu, Direktur Kuliner Romi Astuti, serta Tenaga Ahli Menteri Gemintang K. Mallarangeng.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Tujuannya keren banget: memperkuat ekosistem jamu supaya makin kokoh sebagai produk kesehatan sekaligus warisan budaya yang bernilai tinggi. Ini jadi langkah awal yang strategis banget buat ngenalin dan masarin jamu Indonesia ke pasar global biar makin dikenal dunia.
"Jamu bukan sekadar warisan tradisi, tapi produk ekonomi kreatif yang punya potensi besar di pasar dunia. Lewat dukungan ekosistem digital, riset, dan ilmu pengetahuan, kita harus ubah kekayaan budaya ini menjadi produk modern yang diminati global," ujar Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (20/05).
Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, Kementerian Ekraf mendorong penguatan branding, hak kekayaan intelektual (intellectual property/IP), hingga perluasan akses melalui berbagai platform digital.
Selain itu, Kementerian Ekraf juga berencana membantu proses branding hingga kurasi yang ketat agar industri jamu mampu tampil di kancah internasional.
"Kreativitas budaya kita sudah luar biasa sejak dulu, namun tantangan terbesarnya adalah komersialisasi dan monetize. Melalui ekosistem digital, kita bantu branding dan kurasi produk yang unik agar siap menangkap peluang global tanpa harus panik dalam memenuhi kapasitas produksinya," tambah Menteri Ekraf.

("Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu," ungkap Ketua Umum DJI, Daniel Tjen. Foto: Dok. Birkom Kemenekraf)
DJI sendiri merupakan wadah nasional yang menghimpun pelaku usaha, peracik jamu, akademisi, peneliti, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya dalam rangka mengembangkan dan melestarikan jamu sebagai warisan budaya sekaligus produk kesehatan Indonesia.
Audiensi ini juga membahas penguatan kolaborasi dan pematangan konsep penyelenggaraan The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) 2026 yang dijadwalkan berlangsung Oktober 2026, bertepatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober.
Nantinya, 2nd JICE 2026 didesain sebagai platform terpadu berskala internasional yang menggabungkan konferensi ilmiah, pameran industri, dan promosi budaya. Mereka juga bakal mengundang Menteri Ekraf sebagai narasumber dalam podcast pre-event di Candi Borobudur pada 31 Mei 2026.
"Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu. Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini,” ungkap Ketua Umum DJI, Daniel Tjen.
Gelaran 2nd JICE 2026 mengusung tema “Jamu as a Creative Wellness and Health Industry: Driving Sustainable Well-Being through Cultural Innovation, Green Economy, and Global Partnerships”.
Acara puncak direncanakan berlangsung di Royal Ambarrukmo Yogyakarta serta kawasan Candi Borobudur demi menyatukan ekosistem pariwisata heritage dengan industri kreatif jamu.
Dalam audiensi itu, Menteri Ekraf didampingi Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu, Direktur Kuliner Romi Astuti, serta Tenaga Ahli Menteri Gemintang K. Mallarangeng.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)