KULINER
Makanan Siap Saji Jemaah Haji Wajib Lolos Standar Ketat BPOM
Elang Riki Yanuar
Rabu 01 Juli 2026 / 09:00
- BPOM menegaskan makanan siap saji untuk jemaah haji harus memenuhi standar keamanan pangan melalui Program Manajemen Risiko.
- PT HATI mendapat apresiasi BPOM atas konsistensi menjaga keamanan makanan siap saji bagi jemaah haji Indonesia.
- Makanan siap saji tanpa pengawet untuk jemaah haji diklaim tetap aman, bergizi, dan bercita rasa seperti makanan segar.
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan pentingnya menjaga standar keamanan pangan untuk produk makanan siap saji yang disiapkan bagi jemaah haji Indonesia. Hal tersebut menjadi perhatian utama mengingat makanan yang dikirim ke Arab Saudi harus tetap aman, bergizi, dan layak dikonsumsi selama proses distribusi hingga pelaksanaan ibadah.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan Program Manajemen Risiko (PMR) yang diterapkan di industri pangan. BPOM menilai sistem ini menjadi salah satu cara untuk memastikan setiap tahapan produksi memenuhi standar keamanan yang telah ditetapkan.
Salah satu perusahaan yang memperoleh apresiasi atas penerapan program tersebut adalah PT Halalan Tayyiban Indonesia (HATI), produsen makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) yang selama beberapa tahun terakhir memasok kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia.
Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., mengatakan Program Manajemen Risiko terus berkembang dalam satu dekade terakhir dan kini diterapkan tidak hanya oleh industri besar, tetapi juga pelaku usaha skala kecil dan menengah.
"Lewat program ini kami membuat auto-control atau self-control dari industri yang kita atur dari standar keamanannya, standar gizinya, standar processing-nya, standar proses pengemasannya, dan sebagainya," paparnya.
Taruna menjelaskan bahwa penerima apresiasi dari BPOM dipilih melalui proses penilaian yang ketat. Dari ribuan industri pangan di Indonesia, hanya tujuh perusahaan yang dinilai memenuhi berbagai indikator yang telah ditetapkan, termasuk PT. HATI (Halalan Tayyiban Indonesia).
"Pertama, tentu hitungannya sudah berapa lama melaksanakan program ini. Kedua, selama melaksanakan program ini apakah sudah memenuhi ketentuan atau tidak. Berikutnya perkembangan kemajuan industrinya kita lihat. Nah, berdasarkan itulah tidak mudah kita putuskan dengan berbagai pertimbangan," paparnya.
Direktur Utama PT HATI, Sugiri, mengatakan pendampingan dari BPOM telah dilakukan sejak 2019. Menurutnya, proses tersebut mencakup pembinaan, evaluasi, hingga audit berkala untuk memastikan seluruh sistem berjalan sesuai standar keamanan pangan.
"Concern utama BPOM adalah bagaimana industri pangan mengikuti standar yang ketat dengan tujuan utama menjaga food safety atau keamanan pangan. Karena dampaknya sangat besar apabila makanan tidak aman," kata Sugiri.
Ia menjelaskan bahwa setelah memperoleh sertifikasi PMR, perusahaan masih harus menjalankan berbagai kewajiban, termasuk menyampaikan laporan implementasi setiap enam bulan. Selain itu, BPOM juga melakukan inspeksi langsung menjelang musim haji untuk memastikan seluruh proses produksi memenuhi ketentuan.
"Setiap menjelang haji, BPOM selalu datang melakukan visit saat proses produksi untuk memastikan seluruh proses berjalan aman sebelum produk dikirim ke Arab Saudi," ujarnya.
Sugiri menilai pengawasan yang dilakukan BPOM turut meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk makanan siap saji yang dikonsumsi jemaah haji. Menurutnya, aspek keamanan menjadi faktor utama yang harus dijaga selain kualitas rasa.
"Brand awareness salah satunya adalah kepercayaan konsumen. Karena BPOM merupakan otoritas negara yang memiliki kompetensi di bidang keamanan pangan, tentu apresiasi ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas, keamanan, rasa, hingga kepuasan jemaah haji," katanya.
Sementara itu, Owner PT HATI, Puspo Wardoyo, mengungkapkan bahwa perusahaan telah hampir lima tahun mengembangkan makanan siap saji khusus untuk kebutuhan ibadah haji. Ia mengakui masih banyak tantangan, terutama mengubah anggapan masyarakat terhadap produk makanan siap saji.
"Alhamdulillah, kami memang sudah hampir lima tahun menyediakan makanan untuk haji. Banyak tantangannya, terutama mengubah persepsi masyarakat terhadap makanan siap saji," kata Puspo kepada wartawan.
Menurut Puspo, produk Meal Ready to Eat yang diproduksi perusahaannya berbeda dari makanan siap saji pada umumnya karena tidak menggunakan bahan pengawet, namun tetap dapat disimpan pada suhu ruang tanpa mengurangi cita rasa.
"Imej makanan siap saji selama ini dianggap tidak enak dan memakai pengawet. Padahal produk kami tanpa bahan pengawet, bisa disimpan pada suhu ruang, tetapi rasanya tetap seperti makanan segar," ujarnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan Program Manajemen Risiko (PMR) yang diterapkan di industri pangan. BPOM menilai sistem ini menjadi salah satu cara untuk memastikan setiap tahapan produksi memenuhi standar keamanan yang telah ditetapkan.
Salah satu perusahaan yang memperoleh apresiasi atas penerapan program tersebut adalah PT Halalan Tayyiban Indonesia (HATI), produsen makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) yang selama beberapa tahun terakhir memasok kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia.
Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., mengatakan Program Manajemen Risiko terus berkembang dalam satu dekade terakhir dan kini diterapkan tidak hanya oleh industri besar, tetapi juga pelaku usaha skala kecil dan menengah.
"Lewat program ini kami membuat auto-control atau self-control dari industri yang kita atur dari standar keamanannya, standar gizinya, standar processing-nya, standar proses pengemasannya, dan sebagainya," paparnya.
Taruna menjelaskan bahwa penerima apresiasi dari BPOM dipilih melalui proses penilaian yang ketat. Dari ribuan industri pangan di Indonesia, hanya tujuh perusahaan yang dinilai memenuhi berbagai indikator yang telah ditetapkan, termasuk PT. HATI (Halalan Tayyiban Indonesia).
Baca Juga :
BPOM Temukan 11 Kosmetik Berbahaya di 2026, Ada yang Mengandung Merkuri hingga Pemicu Kanker
"Pertama, tentu hitungannya sudah berapa lama melaksanakan program ini. Kedua, selama melaksanakan program ini apakah sudah memenuhi ketentuan atau tidak. Berikutnya perkembangan kemajuan industrinya kita lihat. Nah, berdasarkan itulah tidak mudah kita putuskan dengan berbagai pertimbangan," paparnya.
Direktur Utama PT HATI, Sugiri, mengatakan pendampingan dari BPOM telah dilakukan sejak 2019. Menurutnya, proses tersebut mencakup pembinaan, evaluasi, hingga audit berkala untuk memastikan seluruh sistem berjalan sesuai standar keamanan pangan.
"Concern utama BPOM adalah bagaimana industri pangan mengikuti standar yang ketat dengan tujuan utama menjaga food safety atau keamanan pangan. Karena dampaknya sangat besar apabila makanan tidak aman," kata Sugiri.
Ia menjelaskan bahwa setelah memperoleh sertifikasi PMR, perusahaan masih harus menjalankan berbagai kewajiban, termasuk menyampaikan laporan implementasi setiap enam bulan. Selain itu, BPOM juga melakukan inspeksi langsung menjelang musim haji untuk memastikan seluruh proses produksi memenuhi ketentuan.
"Setiap menjelang haji, BPOM selalu datang melakukan visit saat proses produksi untuk memastikan seluruh proses berjalan aman sebelum produk dikirim ke Arab Saudi," ujarnya.
Sugiri menilai pengawasan yang dilakukan BPOM turut meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk makanan siap saji yang dikonsumsi jemaah haji. Menurutnya, aspek keamanan menjadi faktor utama yang harus dijaga selain kualitas rasa.
"Brand awareness salah satunya adalah kepercayaan konsumen. Karena BPOM merupakan otoritas negara yang memiliki kompetensi di bidang keamanan pangan, tentu apresiasi ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas, keamanan, rasa, hingga kepuasan jemaah haji," katanya.
Sementara itu, Owner PT HATI, Puspo Wardoyo, mengungkapkan bahwa perusahaan telah hampir lima tahun mengembangkan makanan siap saji khusus untuk kebutuhan ibadah haji. Ia mengakui masih banyak tantangan, terutama mengubah anggapan masyarakat terhadap produk makanan siap saji.
"Alhamdulillah, kami memang sudah hampir lima tahun menyediakan makanan untuk haji. Banyak tantangannya, terutama mengubah persepsi masyarakat terhadap makanan siap saji," kata Puspo kepada wartawan.
Menurut Puspo, produk Meal Ready to Eat yang diproduksi perusahaannya berbeda dari makanan siap saji pada umumnya karena tidak menggunakan bahan pengawet, namun tetap dapat disimpan pada suhu ruang tanpa mengurangi cita rasa.
"Imej makanan siap saji selama ini dianggap tidak enak dan memakai pengawet. Padahal produk kami tanpa bahan pengawet, bisa disimpan pada suhu ruang, tetapi rasanya tetap seperti makanan segar," ujarnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)