KULINER

Di Sudut Jalan Klenteng, Madam Hoek Merawat Kenangan Lewat Rasa dan Ruang

A. Firdaus
Selasa 27 Januari 2026 / 19:55
Ringkasnya gini..
  • Madam Hoek bukan sekadar menawarkan kuliner, tapi tempat nongkrong asik.
  • Jazz intim tanpa jarak panggung.
  • Soal makanan, Madam Hoek memilih jalan yang tak lazim: tanpa menu signature tunggal.
Di sudut Jalan Klenteng, Bandung, berdiri sebuah bangunan tua yang tak sekadar menua oleh waktu. Fasadnya tetap setia pada rupa awal, sebuah rumah heritage yang menyimpan lapisan sejarah kolonial, peranakan Tionghoa, dan Indonesia tempo dulu. Di dalamnya, kini berdenyut kehidupan baru bernama Madam Hoek. 

Bangunan ini secara resmi tercatat sebagai bangunan heritage. Ketika proses pengajuan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), satu hal yang tak bisa ditawar adalah wajah luarnya. Fasad harus tetap sama. 

"Looks-nya memang seperti itu dari awal,” ujar Sylvie Purnamsidi kepada Medcom.id. 
Dan justru dari keterbatasan itulah konsep Madam Hoek lahir. Nama Hoek diambil dari bahasa Belanda yang berarti sudut, merujuk pada posisi bangunan yang berada di pojok jalan. Sementara Madam datang dari kebiasaan personal: panggilan akrab 'ibu' yang terasa hangat, membumi, dan dekat. 

Nama itu kemudian menyatu dengan latar kawasan Jalan Klenteng, sebuah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai pemukiman Tionghoa dan titik pertemuan lintas budaya. 
 

Vintage yang Hidup, Bukan Sekadar Pajangan 


Masuk ke dalam, kejutan dimulai. Bangunan yang dulu hanya satu lantai, kini menjadi dua lantai setelah renovasi besar-besaran. Fondasi lama dibuka ulang karena kondisi bangunan yang sempat rusak total. Namun satu prinsip dijaga ketat: profil bangunan luar tetap mengikuti bentuk aslinya. 

Interiornya berbeda cerita. Nuansa vintage mendominasi, dipadukan sentuhan modern secara halus. Biru menjadi warna kunci, sebuah penghormatan pada masa lalu ketika bangunan ini dikenal warga sebagai 'Toko Biru'. Warna itu dihadirkan kembali sebagai jembatan nostalgia, terutama bagi mereka yang telah lama melintasi Jalan Klenteng. 


Desain jadoel dengan ornamen klasik menghiasi sudut Waroeng Madam Hoek. Dok. A. Firdaus/Medcom

Barang-barang jadul menghiasi ruang: sepeda tua, perabot lawas, hingga ornamen-ornamen kecil yang sebagian besar merupakan koleksi pribadi, titipan teman, atau pemberian komunitas. 

Toilet pun dirancang serius, dengan konsep visual yang tak kalah artistik. Dindingnya dipenuhi foto-foto hitam putih, hasil bidikan sang pemilik dan dua rekannya, yang awalnya direncanakan sebagai ruang pamer komunitas fotografi. 


Toilet Estetik. Dok. A. Firdaus/Medcom

"Tempat ini saya bayangkan sebagai ruang aktivitas,” katanya. 

Foto-foto itu belum diganti lebih dari setahun, karena ke depan Sylvie ingin menghadirkan kurasi tematik, bukan sekadar rotasi dekorasi. 
 

Dapur tanpa Menu Andalan, Tapi Penuh Rasa Pulang 


Soal makanan, Madam Hoek memilih jalan yang tak lazim: tanpa menu signature tunggal. Meski banyak yang menyebut lodeh atau sajian Nusantara tertentu sebagai favorit, sang pemilik menolak gagasan 'memaksa orang membeli satu menu'. 


Nasi Ayam Taliwang Komplit. Dok. A. Firdaus/Medcom

Baginya, signature adalah rasa nyaman. Comfort food. Sajian yang terasa seperti pulang ke rumah. Itu sebabnya menu di Madam Hoek beragam, dari nasi ayam taliwang khas Lombok, ifu mie siram peranakan, hingga nasi cumi cabai ijo dan paru. Semua lahir dari kebiasaan sederhana: hobi jajan dan kecintaan pada rasa. 

"Kalau makanan, saya selalu mulai dari lidah,” kata Sylvie. 

Tak ada latar belakang kuliner formal. Ide hadir di kepala, lalu diterjemahkan bersama tim dapur melalui proses coba-coba, riset, dan tes rasa berulang. Konsep ramesan atau prasmanan yang sempat dihadirkan di awal pembukaan akhirnya dihentikan. 

"Tren berubah, preferensi pengunjung bergeser. Menu tetap ada, tapi formatnya kini ala carte, disajikan di piring, bukan etalase. Evolusi tanpa kehilangan identitas," kata perempuan kelahiran Bandung, 1 Februari 1978.
 

Milo Malaysia dan Prinsip Rasa 


Satu pengecualian hadir di minuman: Milo. Madam Hoek hanya menggunakan Milo Malaysia. Alasannya sederhana tapi tegas, rasa. Milo Indonesia dianggap terlalu powdery, sementara Milo Malaysia menawarkan tekstur crunchy yang tetap terasa meski dingin. 


Milo Goodzila. Dok. A. Firdaus/Medcom

Dari situlah lahir menu favorit lintas usia: Milo Godzilla: Milo dingin dengan tambahan es krim. Affordable, tapi serius soal kualitas. 

"Kalau Milo Malaysia nggak ada, menu itu nggak saya keluarin,” tegasnya. 
 

Warung, Musik, dan Ruang Sosial 


Madam Hoek bukan sekadar tempat makan. Ia adalah ruang berkumpul. Sang pemilik, mantan pekerja perbankan yang memilih berhenti demi mengurus anak, memulai perjalanan bisnisnya dari warung kopi sejak 2013. Nongkrong, ngobrol, dan membangun relasi menjadi fondasi. 


Musik menyatukan antara kuliner dan budaya di Madam Hoek. Dok. Ist

Itu pula yang melahirkan live music setiap Kamis malam. Jazz intim tanpa jarak panggung. Musisi dan penonton nyaris bersentuhan. Musik bukan latar, melainkan atraksi utama, makanan menjadi pendamping. 

Band Season Jazz bahkan terbentuk di Madam Hoek. Manajemennya pun 'Madam Hoek'. Bagi para musisi, tempat ini terasa seperti rumah. 
 

Hijau di Tengah Asap dan Beton 


Di area tengah, sebuah pohon berdiri teduh. Bukan kebetulan. Area ini memang dirancang sebagai inner court, ruang terbuka hijau yang memenuhi koefisien dasar hijau, sekaligus tempat favorit perokok. 

"Kalau orang mau nongkrong lama, harus nyaman,” katanya. 

Kini pohon itu tumbuh rindang. Orang betah berlama-lama, bahkan hingga larut malam. 
 

Harga, Porsi, dan Prinsip 


Dengan luas bangunan 198 meter persegi dan lahan 139 meter persegi, Madam Hoek menjaga harga tetap bersahabat. Minuman mulai dari Rp8 ribu, sementara menu termahal sekitar Rp60–65 ribu. 




Porsi besar menjadi prinsip: lebih baik pelanggan kenyang dan membawa pulang sisa, daripada pulang dengan rasa kurang. 
 

Lebih dari Sekadar Tempat Makan 


Madam Hoek juga terbuka untuk acara privat, pre-wedding, hingga syuting. Namun tetap dengan batasan: karakter bangunan heritage dan suasana rumahan tak boleh hilang.

Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, sang pemilik memilih tetap jujur pada apa yang ia suka, musik, rasa, dan pertemuan manusia. Semua dituangkan apa adanya.

Madam Hoek bukan restoran yang berteriak minta perhatian. Ia berbisik pelan, lewat rasa, ruang, dan kenangan. Dan mungkin, itulah yang membuat orang ingin kembali.

Madam Hoek
Jl. Kelenteng No.54, Bandung
Buka: 06.00 WIB - 22.00 WIB
Kisaran harga: 8K hingga 65K


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH