GADGET TALK

Bukan Cuma Joget dan FYP, Kini Muncul Tren Techfluencer di Indonesia

A. Firdaus
Selasa 23 Juni 2026 / 10:10
Ringkasnya gini..
  • Tren ini hadir di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan tetap tumbuh dua digit pada 2025
  • Di balik pesatnya perkembangan tersebut, masih banyak produk digital lokal yang belum dikenal luas.
  • Fenomena techfluencer pun menunjukkan bahwa konten digital kini semakin beragam.
Jakarta: Media sosial kini tak hanya menjadi ruang hiburan dan tempat berburu tren viral. Seiring pesatnya transformasi digital di Indonesia, muncul fenomena baru yang mulai menarik perhatian, yakni kehadiran techfluencer atau kreator konten yang fokus membahas teknologi dan produk digital.

Tren ini hadir di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan tetap tumbuh dua digit pada 2025. Dengan jumlah pengguna media sosial aktif mencapai 143 juta orang, creator economy juga semakin berperan dalam membentuk pola konsumsi masyarakat digital.

Namun, di balik pesatnya perkembangan tersebut, masih banyak produk digital lokal yang belum dikenal luas. Rendahnya awareness, keterbatasan distribusi, hingga minimnya dukungan monetisasi bagi kreator teknologi menjadi tantangan tersendiri.

Melihat kondisi tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Garuda Spark Innovation Hub bersama Ngalup.co menghadirkan program Tech Influencer Ecosystem. Program ini mendorong lahirnya para techfluencer yang tak hanya berorientasi pada popularitas, tetapi juga mampu meningkatkan literasi serta adopsi teknologi di masyarakat.

"Berbeda dengan lifestyle influencer yang berorientasi pada awareness dan engagement, techfluencer mendorong terciptanya pemahaman, penggunaan, hingga transaksi produk digital oleh audiens," kata CEO Ngalup.co, Irfan Rahmad Widiutomo.
 

Kreator kini jadi jembatan produk dan pengguna


Menurut Irfan, peran kreator saat ini tidak lagi sekadar membuat konten. Mereka juga dapat menjadi penggerak distribusi inovasi digital melalui konten edukatif yang lebih mudah dipahami masyarakat.

"Dengan memproduksi konten edukatif teknologi, mereka mampu menjembatani kesenjangan antara produk dan pengguna, sekaligus mempercepat adopsi teknologi di masyarakat," ujarnya.

Program tersebut menargetkan peningkatan kapasitas 200 kreator teknologi. Sebanyak 70 persen di antaranya diharapkan aktif memproduksi konten edukasi teknologi, sementara 60 persen lainnya mampu menyampaikan manfaat produk digital dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami.
 

Profesi baru yang menjanjikan


Di tengah berkembangnya creator economy, techfluencer juga membuka peluang pendapatan baru. Mulai dari program afiliasi berbasis Software as a Service (SaaS), sistem revenue sharing, hingga kolaborasi dengan berbagai startup dan perusahaan teknologi.

Bahkan, dengan sebagian kecil audiens yang akhirnya menggunakan produk digital yang diperkenalkan, dampaknya dapat meluas pada peningkatan transaksi hingga pertumbuhan bisnis startup lokal.

"From Viral to Valuable, dari sekadar konten menjadi dampak nyata," ujar Irfan.
 

Konten teknologi jadi bagian dari gaya hidup digital


Direktur Pengembangan Ekosistem Digital, Sonny Hendra Sudaryana, menilai penguatan ekosistem digital membutuhkan kolaborasi antara talenta, kreator, dan pelaku industri.

"Melalui program ini, kami mendorong lahirnya talenta-talenta yang tidak hanya memiliki kompetensi teknologi, tetapi juga mampu menjadi penggerak adopsi digital di masyarakat," kata Sonny.

Fenomena techfluencer pun menunjukkan bahwa konten digital kini semakin beragam. Jika sebelumnya media sosial identik dengan hiburan, fashion, atau kuliner, kini edukasi teknologi mulai menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat digital Indonesia.

Dengan semakin banyaknya kreator yang membahas teknologi secara ringan dan mudah dipahami, bukan tidak mungkin profesi techfluencer akan menjadi salah satu tren baru dalam creator economy di masa mendatang.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH