FITNESS & HEALTH

Ngeri! Riset BRIN Ungkap Sisi Gelap Vape

Mia Vale
Minggu 04 Oktober 2026 / 12:09
Ringkasnya gini..
  • Vaping sering kali digadang-gadang sebagai alternatif yang lebih bersih atau aman dibanding rokok konvensional.
  • Bagi penderita diabetes, vaping dapat memperburuk kontrol gula darah harian dan mengganggu kesehatan jangka panjang.
  • Kepala BRIN, Arif Satria, mengungkapkan bahwa pengguna vape di Indonesia saat ini sudah menembus angka 4 juta orang.
Jakarta: Vaping sering kali digadang-gadang sebagai alternatif yang lebih bersih atau aman dibanding rokok konvensional. Padahal, vape jelas bukan tanpa risiko. 

Saat diisap, paru-paru, jantung, otak, hingga pembuluh darah kamu tetap terpapar. Kalau kamu pengguna vape atau baru berniat mencobanya, penting banget untuk paham bagaimana kebiasaan ini memengaruhi kesehatan tubuhmu.

Penelitian yang dikutip dari Hispano Medical Center menunjukkan adanya hubungan kuat antara kebiasaan merokok dan meningkatnya risiko diabetes tipe 2. 

Data CDC bahkan menyebutkan bahwa perokok punya peluang 30–40% lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibanding mereka yang tidak merokok. Studi terbaru juga mengaitkan penggunaan vape dengan kondisi prediabetes. 

Jika dibandingkan dengan non-perokok, pengguna rokok konvensional memiliki potensi prediabetes 15% lebih tinggi, pengguna rokok elektrik 7% lebih tinggi, dan pengguna ganda yang mengonsumsi keduanya melonjak hingga 28% lebih tinggi. 
 
Bagi penderita diabetes, vaping dapat memperburuk kontrol gula darah harian dan mengganggu kesehatan jangka panjang. 

Pasalnya, kandungan nikotin memicu respons fight-or-flight tubuh yang melepaskan hormon stres, sehingga kadar gula darah dan tekanan darah langsung melonjak.
 

Vape memengaruhi kadar gula darah


Banyak orang menganggap vaping sebagai kebiasaan yang tergolong aman. Padahal bagi kamu yang fokus menjaga kadar gula darah, dampaknya perlu sangat diwaspadai. 

 
vape (3)
(Riset BRIN mengungkapkan bahwa seluruh sampel pengguna vape terdeteksi menderita diabetes akibat penurunan produksi insulin. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Nikotin sebagai kandungan utama dalam e-liquid memang tidak mengandung gula, tapi zat ini tetap mengganggu cara tubuh mengelola glukosa tanpa kita sadari. 

Baik kamu sudah punya riwayat diabetes maupun baru berisiko mencapainya, vaping dapat merusak kemampuan alami tubuh dalam mengontrol gula darah secara efektif.
 

Temuan riset BRIN


Tak hanya itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengungkapkan bahwa pengguna vape di Indonesia saat ini sudah menembus angka 4 juta orang. 

Berdasarkan riset yang dilakukan pada sampel pengguna vape, terungkap sejumlah masalah kesehatan serius seperti diabetes, gangguan paru-paru, hingga kerusakan fungsi pankreas. 

Dalam pemaparannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (29/9), ia menegaskan bahwa 100% sampel pengguna vape yang diuji terdeteksi menderita diabetes akibat penurunan kemampuan tubuh dalam memproduksi insulin.
   

Dampak buruk vape pada paru-paru


Tak berhenti di situ, vape bekerja dengan cara melapisi paru-paru menggunakan racikan bahan kimia berbahaya. Mengutip dari Halodoc, cairan e-liquid umumnya mengandung campuran perasa, aditif aromatik, dan nikotin. 

Salah satu zat yang paling disorot adalah vitamin E yang sering dipakai sebagai pengental. Walaupun aman dikonsumsi sebagai suplemen atau dioles ke kulit, efeknya berbalik menjadi berbahaya saat dihirup karena dapat memicu iritasi dan merusak jaringan paru-paru. 

Hal ini sejalan dengan temuan BRIN, di mana sekitar 92% sampel pengguna vape terdeteksi mengalami kerusakan organ pernapasan. Ini membuktikan bahwa dampak buruk vape memang sangat serius bagi tubuh.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH