Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologis. Sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026.a
Dalam kondisi tersebut, masyarakat diingatkan untuk tidak langsung memilih obat berdasarkan kebiasaan atau rekomendasi orang lain ketika mengalami flu dan batuk. Mengenali gejala menjadi langkah penting sebelum menentukan penanganan secara mandiri.
Hal itu dibahas dalam acara edukasi yang digelar Actifed bersama Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) di Depok, Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema pencegahan flu dan batuk di musim pancaroba sekaligus memperkenalkan panduan swamedikasi bagi apoteker.
Gejala Flu dan Batuk Bisa Berbeda
Dr. apt. Lucy Novianti, MM, yang merupakan penulis modul sekaligus Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, mengatakan masyarakat kerap menentukan obat berdasarkan pengalaman sebelumnya atau rekomendasi dari orang lain.Menurutnya, kondisi setiap orang tidak selalu sama. Begitu pula dengan gejala yang muncul dan tingkat keparahannya.
Karena itu, masyarakat perlu memahami keluhan yang dialami sebelum menentukan langkah penanganan. Apoteker juga dapat menjadi tempat berkonsultasi ketika seseorang masih ragu mengenai gejala atau obat yang sesuai.
Dalam acara tersebut, Actifed dan IAI turut meluncurkan modul “Batuk dan Pilek dari Perspektif Pasien: Menjawab Keluhan Pasien dengan Edukasi dan Konseling Berbasis Self-Care.”
Modul tersebut ditujukan untuk membantu apoteker memberikan edukasi dan konseling kepada masyarakat terkait swamedikasi batuk dan pilek, termasuk mengenali kondisi yang membutuhkan penanganan tenaga medis.
Baca Juga :
Cek Gejala Influenza A yang Bikin 'Remuk' Body!
Perhatikan Perkembangan Gejala
Dokter umum dr. Ikhsanuddin Qoth’i menjelaskan bahwa gejala batuk dan pilek dapat berbeda pada setiap orang, baik dari karakteristik, intensitas, maupun durasinya.Karena itu, perkembangan gejala perlu diperhatikan. Gejala yang tidak kunjung membaik, semakin berat, atau disertai tanda tertentu dapat membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Penting bagi masyarakat untuk memerhatikan perkembangan gejala mereka dari waktu ke waktu,” ujar Ikhsanuddin.
Ia mengatakan masyarakat juga perlu mengetahui kapan keluhan masih dapat ditangani melalui perawatan mandiri dan kapan harus mencari bantuan tenaga kesehatan.
Hal ini menjadi penting karena keluhan batuk dan pilek tidak selalu memiliki penyebab maupun kondisi yang sama. Apabila gejala mengarah pada masalah kesehatan pernapasan lainnya, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau influenza, pasien dapat membutuhkan penanganan yang berbeda.
Peran Apoteker dalam Swamedikasi
Selain dokter, apoteker memiliki peran dalam membantu masyarakat mendapatkan informasi mengenai penggunaan obat secara tepat.Menurut Lucy, akses terhadap apoteker dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berkonsultasi ketika mengalami keluhan kesehatan ringan dan masih membutuhkan panduan mengenai langkah yang dapat dilakukan.
Melalui modul yang diluncurkan bersama IAI, apoteker diharapkan memiliki panduan tambahan untuk memberikan konseling, mendukung penggunaan obat secara bertanggung jawab, serta membantu mengenali kondisi yang membutuhkan saran medis lebih lanjut.
Sementara itu, Actifed juga memperkenalkan kampanye edukasi “Beda Gejalanya, Beda Warnanya” yang bertujuan mendorong masyarakat memahami gejala sebelum menentukan pilihan perawatan mandiri.
Senior Brand Manager OTC Haleon Indonesia, Anindita Pranawestri, mengatakan kampanye tersebut diharapkan dapat membuat informasi mengenai swamedikasi batuk dan pilek lebih mudah dipahami masyarakat.
Di sisi lain, public figure sekaligus kreator konten Nucha Bachri menilai pengetahuan mengenai gejala dan penanganan juga penting bagi orang tua maupun anggota keluarga yang menjadi pendamping ketika ada anggota keluarga mengalami sakit.
Dengan mengenali gejala sejak awal dan memahami kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, masyarakat dapat lebih bijak dalam melakukan swamedikasi, terutama ketika memasuki periode perubahan cuaca.
(Ellen Octovia Suherman)