FITNESS & HEALTH
Penyakit Jantung Tak Lagi Menunggu Usia Tua, Pentingnya Cek Kesehatan Sejak Dini
Elang Riki Yanuar
Rabu 09 September 2026 / 09:00
- Penyakit jantung mulai mengancam usia produktif, sehingga pemeriksaan kesehatan penting dilakukan sejak muda meski tubuh terasa bugar.
- Gaya hidup kurang sehat, merokok, minim aktivitas fisik, kurang tidur, dan stres dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung pada usia muda.
- World Heart Day menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan jantung melalui pemeriksaan rutin dan perubahan gaya hidup sejak dini.
Jakarta: Penyakit jantung masih sering dikaitkan dengan orang yang sudah berusia lanjut. Padahal, berbagai data menunjukkan bahwa gangguan pada jantung juga mulai ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk mereka yang masih berada dalam usia produktif.
Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi penyakit jantung di Indonesia meningkat dari 0,5 persen pada 2013 menjadi 1,5 persen pada 2018. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jantung tidak bisa lagi dianggap hanya berkaitan dengan proses penuaan.
Perhatian juga perlu diberikan terhadap serangan jantung pada kelompok usia lebih muda. Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi serangan jantung pada masyarakat berusia di bawah 40 tahun meningkat sekitar 2 persen setiap tahun sepanjang periode 2000 hingga 2016.
Data Riskesdas 2018 bahkan menemukan penyakit jantung pada kelompok usia 25 hingga 34 tahun sebesar 0,8 persen. Pada kelompok usia 35 hingga 44 tahun, angkanya mencapai 1,3 persen.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa usia muda bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari risiko penyakit jantung. Kondisi tubuh yang masih terasa bugar juga tidak selalu menunjukkan bahwa kesehatan jantung berada dalam kondisi optimal.
Gaya hidup masyarakat usia produktif menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kesibukan pekerjaan, waktu duduk yang panjang, minim aktivitas fisik, pola makan kurang seimbang, kebiasaan merokok, hingga kurang tidur dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Stres yang berlangsung dalam waktu lama juga kerap muncul di tengah tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Berbagai kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan faktor risiko penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang meningkat, gula darah tinggi, serta berat badan berlebih.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menyebut pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan penggunaan tembakau sebagai sejumlah faktor perilaku yang berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular. Artinya, kebiasaan sehari-hari memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Masalahnya, sejumlah faktor risiko penyakit jantung tidak selalu menimbulkan keluhan. Seseorang bisa tetap menjalani aktivitas seperti biasa meski tekanan darah atau kadar kolesterolnya sudah berada di atas batas yang dianjurkan.
Hipertensi menjadi salah satu contohnya. Kondisi tersebut sering kali tidak disertai gejala yang jelas sehingga seseorang bisa saja tidak menyadari dirinya memiliki tekanan darah tinggi.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan tidak sebaiknya dilakukan hanya ketika tubuh mulai menunjukkan keluhan. Pemeriksaan berkala dapat membantu seseorang mengetahui kondisi tubuh sekaligus mengenali faktor risiko yang mungkin membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Deteksi dini juga memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan sebelum masalah kesehatan berkembang lebih jauh. Langkah tersebut dapat dimulai dari memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, menjaga berat badan, mengelola stres, hingga mendapatkan penanganan medis jika diperlukan.
Momentum World Heart Day yang diperingati setiap 29 September dapat menjadi pengingat untuk mulai memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan jantung. Peringatan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kembali kebiasaan sehari-hari yang selama ini dijalani.
Pemeriksaan kesehatan jantung tidak selalu berarti menunggu munculnya tanda atau keluhan tertentu. Dengan melakukan skrining secara berkala, seseorang dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatan dan faktor risiko yang dimiliki.
Salah satu penyedia layanan kesehatan yang menghadirkan program pemeriksaan dalam momentum World Heart Day adalah Prodia. Sepanjang September 2026, tersedia harga khusus untuk sejumlah panel dan pemeriksaan yang berkaitan dengan fungsi serta kesehatan jantung di Prodia Laboratorium dan Klinik.
Namun, pemeriksaan kesehatan sebaiknya tidak berhenti pada hasil angka laboratorium. Hasil pemeriksaan dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan perubahan gaya hidup atau konsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing.
"Jangan tunggu sampai tubuh memberikan peringatan untuk mulai peduli. Karena di tengah banyaknya hal yang masih ingin dilakukan, jantung yang sehat adalah salah satu bekal penting untuk terus melangkah," kata Rina Triana, Product & Research Support Manager Prodia.
Kesadaran menjaga kesehatan jantung pada akhirnya tidak mengenal batas usia. Ketika faktor risiko dapat muncul sejak usia muda, kebiasaan untuk memeriksa kondisi tubuh secara berkala juga penting dimulai lebih awal, bukan setelah masalah kesehatan muncul.
(ELG)
Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi penyakit jantung di Indonesia meningkat dari 0,5 persen pada 2013 menjadi 1,5 persen pada 2018. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jantung tidak bisa lagi dianggap hanya berkaitan dengan proses penuaan.
Perhatian juga perlu diberikan terhadap serangan jantung pada kelompok usia lebih muda. Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi serangan jantung pada masyarakat berusia di bawah 40 tahun meningkat sekitar 2 persen setiap tahun sepanjang periode 2000 hingga 2016.
Data Riskesdas 2018 bahkan menemukan penyakit jantung pada kelompok usia 25 hingga 34 tahun sebesar 0,8 persen. Pada kelompok usia 35 hingga 44 tahun, angkanya mencapai 1,3 persen.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa usia muda bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari risiko penyakit jantung. Kondisi tubuh yang masih terasa bugar juga tidak selalu menunjukkan bahwa kesehatan jantung berada dalam kondisi optimal.
Gaya hidup masyarakat usia produktif menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kesibukan pekerjaan, waktu duduk yang panjang, minim aktivitas fisik, pola makan kurang seimbang, kebiasaan merokok, hingga kurang tidur dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Stres yang berlangsung dalam waktu lama juga kerap muncul di tengah tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Berbagai kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan faktor risiko penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang meningkat, gula darah tinggi, serta berat badan berlebih.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menyebut pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan penggunaan tembakau sebagai sejumlah faktor perilaku yang berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular. Artinya, kebiasaan sehari-hari memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Masalahnya, sejumlah faktor risiko penyakit jantung tidak selalu menimbulkan keluhan. Seseorang bisa tetap menjalani aktivitas seperti biasa meski tekanan darah atau kadar kolesterolnya sudah berada di atas batas yang dianjurkan.
Hipertensi menjadi salah satu contohnya. Kondisi tersebut sering kali tidak disertai gejala yang jelas sehingga seseorang bisa saja tidak menyadari dirinya memiliki tekanan darah tinggi.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan tidak sebaiknya dilakukan hanya ketika tubuh mulai menunjukkan keluhan. Pemeriksaan berkala dapat membantu seseorang mengetahui kondisi tubuh sekaligus mengenali faktor risiko yang mungkin membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Deteksi dini juga memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan sebelum masalah kesehatan berkembang lebih jauh. Langkah tersebut dapat dimulai dari memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, menjaga berat badan, mengelola stres, hingga mendapatkan penanganan medis jika diperlukan.
Momentum World Heart Day yang diperingati setiap 29 September dapat menjadi pengingat untuk mulai memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan jantung. Peringatan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kembali kebiasaan sehari-hari yang selama ini dijalani.
Pemeriksaan kesehatan jantung tidak selalu berarti menunggu munculnya tanda atau keluhan tertentu. Dengan melakukan skrining secara berkala, seseorang dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatan dan faktor risiko yang dimiliki.
Salah satu penyedia layanan kesehatan yang menghadirkan program pemeriksaan dalam momentum World Heart Day adalah Prodia. Sepanjang September 2026, tersedia harga khusus untuk sejumlah panel dan pemeriksaan yang berkaitan dengan fungsi serta kesehatan jantung di Prodia Laboratorium dan Klinik.
Namun, pemeriksaan kesehatan sebaiknya tidak berhenti pada hasil angka laboratorium. Hasil pemeriksaan dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan perubahan gaya hidup atau konsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing.
"Jangan tunggu sampai tubuh memberikan peringatan untuk mulai peduli. Karena di tengah banyaknya hal yang masih ingin dilakukan, jantung yang sehat adalah salah satu bekal penting untuk terus melangkah," kata Rina Triana, Product & Research Support Manager Prodia.
Kesadaran menjaga kesehatan jantung pada akhirnya tidak mengenal batas usia. Ketika faktor risiko dapat muncul sejak usia muda, kebiasaan untuk memeriksa kondisi tubuh secara berkala juga penting dimulai lebih awal, bukan setelah masalah kesehatan muncul.
(ELG)