FITNESS & HEALTH

Gejala Penyakit Paru Obstruksi Kronis serta Faktor Risikonya

Raka Lestari
Kamis 19 November 2020 / 07:07
Jakarta: Masih banyak orang yang belum mengetahui Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Menurut data prevalensi Risekdas 2013, diperkirakan ada lebih dari 10 juta orang yang hidup dengan PPOK di Indonesia, di mana mayoritasnya dengan riwayat merokok atau hidup di area dengan polusi udara. PPOK biasanya dialami lebih banyak pada pria dibandingkan wanita.

"Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah penyakit kronis saluran napas yang ditandai dengan hambatan aliran udara khususnya udara ekspirasi dan bersifat progresif dimana semakin lama akan semakin memburuk," ujar dr. Budhi Antariksa, SpP (K), Ph.D, dokter spesialis paru, konsultan asma dan PPOK di RSUP Persahabatan, dalam rangka Hari PPOK Sedunia 2020 yang diadakan secara virtual pada Rabu, 18 November 2020.

Ia menambahkan bahwa, awal terjadinya penyakit PPOK biasanya pada usia pertengahan dan tidak hilang dengan pengobatan. Adapun gejala-gejala PPOK yaitu mengalami sesak napas yang bertambah ketika beraktivitas dan bertambah seiring bertambahnya usia, disertai batuk berdahak atau pernah mengalami sesak napas disertai batuk berdahak.

"Faktor risiko PPOK di Indonesia termasuk tinggi mengingat prevalensi perokok di Indonesia peringkat tiga esar terbanyak di dunia," ujar dr. Budhi.

Data GATS 2013 menunjukkan prevalensi perokok di Indonesia usia kurang dari 15 tahun adalah 67 persen untuk laki-laki.

Faktor risiko lain dari PPOK di antaranya adalah:

1. Usia pertenghan (lebih dari 45 tahun).

2. Asap rokok.

3. Polusi udara.

4. Polusi tempat kerja.

"Seseorang dinyatakan PPOK secara klinis apabila sekurang-kurangnya pada anamnesis/gejala penyakit ditemukan adanya riwayat pajanan faktor risiko disertai batuk kronik dan berdahak, dengan sesak napas terutama pada saat melakukan aktivitas pada seseorang yang berusia pertengahan atau lebih," tutup dr. Budhi.
(FIR)

MOST SEARCH