NasDem Gelar Talk Show Ruang Teduh Ibu, Bongkar Mitos Supermom!
- NasDem menggelar Talk Show Ruang Teduh Ibu dalam rangka memperingati HUT ke-15 Partai NasDem.
- Psikolog Talissa Carmelia membahas tekanan menjadi ibu sempurna hingga risiko parental burnout.
- Dukungan keluarga, perawatan diri, dan bantuan profesional penting untuk menjaga kesehatan mental ibu.
Jakarta: Tuntutan menjadi ibu yang selalu sabar, mampu mengurus anak, mengelola rumah tangga, sekaligus tetap produktif bisa menjadi tekanan tersendiri. Ekspektasi tersebut bahkan bisa membuat ibu merasa bersalah ketika nggak mampu memenuhi semua peran secara bersamaan.
Isu ini dibahas dalam talk show Ruang Teduh Ibu: Damai dan Kekuatan dalam Diri di Ballroom NasDem Tower, Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Perempuan dan Anak DPP Partai NasDem bersama DPP Garnita Malahayati NasDem dalam rangka memperingati HUT ke-15 Partai NasDem.
Salah satu narasumbernya adalah psikolog klinis senior Talissa Carmelia, M.Psi., yang membawakan materi Meruntuhkan Mitos Supermom: Menavigasi Baby Blues, Depresi Postpartum dan Parental Burnout.
Mitos supermom bikin ibu merasa bersalah
Dalam materi presentasinya, Talissa menjelaskan bahwa mitos supermom muncul dari anggapan bahwa ibu harus mampu menyeimbangkan karier, keluarga, dan kehidupan pribadi secara sempurna. Ekspektasi ini bisa datang dari standar diri sendiri, keluarga, norma sosial, hingga gambaran kehidupan ibu di media sosial.
Ketika kenyataan nggak sesuai dengan harapan, ibu bisa mengalami mom guilt atau rasa bersalah karena merasa belum cukup baik dalam menjalankan perannya.
Padahal, menjadi ibu merupakan fase transisi besar yang membawa berbagai perubahan, mulai dari kondisi tubuh, pola tidur, identitas diri, rutinitas, hingga hubungan dengan pasangan. Karena itu, ada kalanya ibu membutuhkan waktu untuk beristirahat atau bantuan orang lain dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Baby blues hingga parental burnout perlu dikenali
Materi talk show ini turut membahas perbedaan baby blues dan depresi postpartum. Baby blues merupakan perubahan emosi sementara setelah persalinan, seperti mudah menangis, sensitif, cemas, dan kewalahan. Kondisi ini umumnya membaik dalam beberapa hari hingga dua minggu.
Sementara itu, depresi postpartum dapat ditandai dengan kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat, rasa bersalah berlebihan, serta kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Kondisi ini membutuhkan penanganan profesional.
Dalam presentasinya, Talissa mencantumkan data BKKBN Januari 2024 yang menyebut sekitar 57 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues. Materi tersebut juga mengutip studi Fish-Williamson dan Hahn-Holbrook (2023) yang menyebut sekitar 19,2 persen ibu mengalami gejala depresi postpartum.
Selain kedua kondisi tersebut, orang tua juga dapat mengalami parental burnout, yaitu kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tekanan pengasuhan yang nggak diimbangi dukungan memadai.
Dukungan keluarga jadi hal penting
Untuk menjaga kesehatan mental, Talissa membahas pentingnya self-care yang mencakup kebutuhan fisik, kognitif, emosional, spiritual, dan sosial. Bentuknya bisa berupa menjaga pola makan, tidur berkualitas, mengekspresikan emosi, serta menetapkan batasan yang sehat.
Materi tersebut juga memperkenalkan teknik relaksasi, seperti deep breathing, butterfly hug, dan metode 5-4-3-2-1 grounding, untuk membantu menenangkan emosi ketika menghadapi situasi sulit.
Selain merawat diri, ibu juga membutuhkan support system yang memberikan dukungan emosional dan bantuan praktis. Keluarga dapat mengambil peran dengan berbagi tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan rumah agar beban tersebut nggak ditanggung ibu seorang diri.
Talissa turut menekankan pentingnya mencari bantuan profesional apabila gejala masalah kesehatan mental berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau menurunkan kualitas hubungan. Dalam materi yang dipaparkan, psikolog klinis, psikiater, dan dokter juga dijelaskan memiliki peran berbeda dalam membantu menangani masalah kesehatan mental sesuai kebutuhan.
Desi I.
(TIN)