FITNESS & HEALTH

Indonesia Jadi Negara Pertama Jalankan Aliansi United Against Dengue

A. Firdaus
Jumat 13 Maret 2026 / 12:10
Ringkasnya gini..
  • DBD/dengue masih menjadi ancaman kesehatan utama.
  • United Against Dengue adalah kolaborasi regional multi-tahun.
  • Program ini juga mendukung strategi nasional pengendalian dengue Kemenkes .
Jakarta: Takeda, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), dan Palang Merah Indonesia (PMI) Rabu 12 Maret 2026 mengumumkan peluncuran aliansi 'United Against Dengue: Penguatan Kemitraan untuk Pencegahan Dengue dan Peningkatan Ketangguhan Masyarakat' di Indonesia. 

Peluncuran ini dilakukan mengikuti kemitraan United Against Dengue (UAD) di tingkat regional yang diluncurkan pada Juni 2025 lalu dan menandai langkah penting dalam memperluas kolaborasi regional menjadi aksi yang dipimpin secara lokal (di tingkat negara) untuk memperkuat upaya pencegahan DBD/dengue, kesiapan, dan ketahanan masyarakat di Indonesia. 

Indonesia juga menjadi negara pertama yang mengaktifkan kemitraan ini di tingkat nasional. Sekaligus menunjukkan bagaimana komitmen regional tersebut diterjemahkan menjadi aksi
nyata berbasis komunitas.
 
DBD/dengue masih menjadi ancaman kesehatan utama bagi masyarakat di dunia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), terdapat 14,6 juta kasus dan 12.000 kematian pada tahun 2024. Berdasarkan data dari BPJS Kesehatan pada 2024, terdapat 1.055.255 rawat inap di Indonesia akibat DBD/dengue (di luar Kejadian Luar Biasa) dengan beban ekonomi mencapai hampir Rp 3 triliun pada 2024.

Oleh sebab itu, DBD/dengue menjadi ancaman serius bagi seluruh masyarakat, baik mereka yang terdampak langsung maupun tidak langsung.

"Sebagai mitra jangka panjang bagi Indonesia, Takeda berkomitmen untuk melawan DBD/dengue melalui kemitraan publik-swasta yang kuat guna mendukung tercapainya tujuan besar pemerintah Indonesia untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030. Melalui aliansi United Against Dengue, kami ingin mendorong penguatan upaya pencegahan melalui edukasi yang menjangkau berbagai elemen masyarakat dan komunitas di Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan terkait," ujar Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines.


Peluncuran ini dilakukan mengikuti kemitraan United Against Dengue (UAD) di tingkat regional yang diluncurkan pada Juni 2025 lalu. Dok. Ist

"Kami berharap, komitmen bersama ini dapat memperkuat aksi di tingkat komunitas, di tengah masyarakat, dalam menghadapi ancaman DBD/dengue yang ada sepanjang tahun di Indonesia," sambungnya.

United Against Dengue dirancang untuk memperkuat upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan intervensi berbasis masyarakat melalui kolaborasi multisektor, strategi berbasis bukti, penguatan keterlibatan komunitas, serta pemanfaatan inovasi untuk menurunkan penularan dan tingkat keparahan DBD/dengue. 

Terkait hal ini, Kathryn Clarkson, Head of Delegation and Representative to ASEAN, Country Cluster for Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapore and Timor-Leste, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies menyampaikan apresiasi atas komitmen kuat Takeda dalam upaya pencegahan dengue di Indonesia dan secara global. 

Dengan jejaring luas Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di Indonesia dan di berbagai negara serta dukungan relawan di tingkat masyarakat, IFRC berkomitmen untuk memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat melalui pendekatan berbasis masyarakat, peningkatan kesadaran, dan kesiapsiagaan terhadap dengue. 

"Kami percaya bahwa melalui kemitraan yang kuat di tingkat regional maupun nasional, kita dapat bersama-sama mengurangi beban dengue dan melindungi generasi mendatang," ujar Kathryn.

Lebih lanjut, Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes., Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia, menyatakan, PMI meyakini pentingnya kolaborasi multipihak yang menyeluruh agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi populasi terdampak. 

"Bagi PMI, inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk terus berkontribusi dalam mendukung agenda kesehatan masyarakat serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko penyakit menular. Program ini juga mendukung strategi nasional pengendalian dengue Kementerian Kesehatan RI, di mana PMI berperan sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat implementasi di tingkat masyarakat," terang Prof. Fachmi.

Perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), WHO Indonesia, Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut menghadiri acara peluncuran, menunjukkan dukungan mereka terhadap upaya pencegahan DBD/dengue.

United Against Dengue adalah kolaborasi regional multi-tahun yang bertujuan untuk memperkuat pencegahan dan pengelolaan dengue di seluruh kawasan Asia-Pasifik. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan komunitas, mempromosikan advokasi kebijakan, dan memberikan dukungan kepada masyarakat terkait dengue.

Diinisiasi oleh IFRC dan Takeda, kolaborasi regional ini berkomitmen untuk mendukung tujuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ASEAN dalam mengeliminasi kematian akibat DBD/dengue yang dapat dicegah pada tahun 2030. Kolaborasi ini didasarkan pada tiga pilar strategis: Mendidik, Mengadvokasi, dan Memberikan Dukungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH