FITNESS & HEALTH

Dengan Produk Jamunya, Indonesia Bisa Menjadi Pemain Utama Baru Green Pharmacy

A. Firdaus
Kamis 08 September 2022 / 18:17
Jakarta: Indonesia dikenal sebagai negara yang masyarakatnya kerap mengonsumsi dan memproduksi jamu. Meski, belakangan jamu atau obat tradisional kerap diremehkan.

Padahal jamu menjadi obat yang telah mendunia dan dikonsumsi oleh beberapa negara. Sebut saja di China, penggunaan obat herbal sudah mapan untuk tujuan kesehatan. Sedangkan di Jepang, 50-70 persen jamu telah diresepkan.

Sementara itu, Kantor Regional WHO untuk Amerika (AMOR/PAHO) melaporkan bahwa 71% penduduk Chili dan 40% penduduk Kolombia menggunakan obat tradisional. Bahkan di antara yang maju negara, obat herbal sangat populer. Penggunaan jamu oleh penduduk di Prancis mencapai 49%, Kanada 70%, Inggris 40%, dan Amerika Serikat 42%. Inilah kondisi pasar ekspor jamu ke depan.

Dirjen Farmalkes Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia mengatakan, obat herbal sebagai bagian dari pengobatan tradisional dan komplementer merupakan sumber daya kesehatan yang penting dan sering diremehkan. Dalam banyak aplikasi terutama dalam pencegahan dan pengelolaan gaya hidup terhadap penyakit kronis dan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan populasi yang menua.

"Banyak negara berusaha untuk memperluas cakupan layanan kesehatan esensial, pada saat harapan pelanggan untuk perawatan kesehatan dan sebagian besar anggaran stagnan dan berkurang. Minat Traditional Chines Medicine (TCM) dalam menjalani kebangkitan. Obat herbal menjadi fokus para peneliti dan industri di dunia termasuk negara-negara G20," terang Rizka.

Namun, ada juga tantangan, seperti kurangnya penelitian karena kesulitan, dukungan keuangan untuk penelitian tentang TCM dan pengobatan herbal. Kurangnya kemauan politik dan kapasitas untuk memantau keamanan produk TCM, sistem informasi dan analisis serta integrasi TCM ke dalam sistem kesehatan.

"Kendati demikian, tantangan di atas seharusnya tidak memperlambat potensi produk herbal. Sebaliknya, kita harus melihat ini sebagai peluang," kata Rizka.

Indonesia dengan sekitar 143 ha hutan tropis, dengan 28.000 spesies tumbuhan, 32 ribu bahan telah dimanfaatkan. Indonesia dengan 217 juta penduduk tetap menjadi pemain utama baru untuk Farmasi Hijau (Green Pharmacy) dengan produk jamu.

Untuk mencapai itu, Kementerian Kesehatan mulai menerapkan transformasi sistem kesehatan dengan 6 pilar. Ketahanan sektor farmasi merupakan bagian dari transformasi ini. Agenda transformasi ini mencerminkan dukungan Kementerian Kesehatan dalam pengembangan dan pemanfaatan jamu di bidang kesehatan.

"Di lokasi pengembangan, kami mendorong penelitian, pengembangan, hingga penanganan dan pemanenan bahan baku untuk memastikan standar kualitas dalam produksi. Kami menyelaraskan upaya untuk mendukung UKM untuk mengembangkan bisnis dan pasar mereka," ujar Rizka.

"Di situs permintaan, kami menyediakan Formularium Fitofarmaka yang diluncurkan pada semester pertama tahun ini. Pemerintah menyediakan dana alokasi khusus bagi pemerintah daerah untuk menggunakan produk lokal," sambungnya.

Kemenkes percaya, tindakan ini akan membawa pemanfaatan Green Pharmacy dan memberikan keberlanjutan dalam pengaturan perawatan kesehatan di Indonesia. Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk merupakan bagian dari visi SDGs dan tetap menjadi agenda Kemenkes.

"Hal ini juga sejalan dengan visi Presiden untuk menciptakan masyarakat yang sehat, produktif, mandiri, kami percaya harus ada lebih banyak tindakan kolaboratif antar pemangku kepentingan untuk meningkatkan ketahanan kesehatan kita," ucap Rizka.

"Saya menggarisbawahi bagian penting dari Green Pharmacy, dan mendorong semua peserta untuk memberikan rekomendasi berkelanjutan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan peran Green Pharmacy dalam mendukung arsitektur kesehatan global," pungkasnya.
(FIR)

MOST SEARCH