FITNESS & HEALTH
Teknologi Bedah Robotik Medis: Bukan Pengganti, Justru Pelengkap
Aulia Putriningtias
Selasa 15 September 2026 / 19:54
- Bedah robotik di Indonesia saat ini masih di dalam tahap perkembangan.
- Saat ini, dr. Sita merupakan dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia sejak 2013.
- Robot dalam bedah robotik tidak punya mode otomatis; tidak ada keputusan yang diambil alat itu sendiri.
Jakarta: Bedah robotik di Indonesia saat ini masih di dalam tahap perkembangan. Namun, pernahkah kamu terpikir, akankah hal ini menjadi pengganti peran dokter di ruang operasi?
Bagi dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, M.Sc. (Humrepro), FESICOG, MIGS, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Bunda Jakarta, justru memiliki jawaban yang begitu kuat.
Saat ini, dr. Sita merupakan dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia sejak 2013. Untuk pertama kalinya, ia tidak berdiri tepat di sisi pasien, melainkan duduk beberapa meter dari meja operasi, menempekan wajah pada viewer konsol, sementara tangan dan jarinya mengendalikan instrumen robotik.
"Awalnya terasa sangat berbeda. Saya juga harus membangun kepercayaan terhadap teknologinya," katanya kepada tim media.
Kata "robot" memang mudah menimbulkan bayangan mesin yang bergerak dan mengambil keputusan sendiri. Pikir pasien mungkin tanpa campur tangan manusia, yang padahal kenyataannya berbeda.
"Sekitar empat belas tahun lalu, saya sendiri juga butuh waktu untuk percaya diri duduk di depan konsol. Bedah robotik kala itu teknologi baru, jadi wajar kalau pasien pun butuh waktu untuk percaya," kenang dr. Sita.
Robot dalam bedah robotik tidak punya mode otomatis; tidak ada keputusan yang diambil alat itu sendiri. Setiap gerakan instrumen di dalam tubuh pasien berasal langsung dari tangan dokter di konsol.
Sebelum tindakan dimulai, sistem robotik melalui rangkaian pemeriksaan keamanan (safety check) untuk memastikan seluruh instrumen berfungsi optimal.
Sistem juga dilengkapi tremor filter yang menyaring getaran kecil tangan dokter, sehingga gerakan yang diterjemahkan ke instrumen lebih stabil dan presisi. Jadi, istilah dokter diam dan robot akan lakukan hal sama adalah benar.
"Kalau tangan saya diam, instrumennya juga diam. Robot ini membantu saya bergerak lebih presisi dari tangan 'telanjang', tapi soal jaringan mana yang diangkat dan sejauh mana batasnya, itu murni keputusan dokter," tambah dr. Sita.
Sepanjang kariernya, dr. Sita bersama tim menangani berbagai kasus kompleks. Mulai dari mioma multipel berukuran besar, kista dengan perlengketan luas. hingga endometriosis berat vang melibatkan banyak organ di sekitar rahim.
"Kasus-kasus ini dulu identik dengan operasi besar dan pemulihan panjang. Dengan robotik, kami bisa masuk ke area rumit tanpa membuka rongga perut selebar operasi konvensional," ujar dr. Sita.
Pada kasus dan pasien yang sesuai, pendekatan minimal invasif dapat memberikan sejumlah keuntungan, antara lain sayatan yang lebih kecil dan masa pemulihan yang relatif lebih singkat dibandingkan operasi terbuka.
Namun, pilihan metode operasi tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan pertimbangan dokter. Kontrol penuh inilah yang memberi dokter fleksibilitas menyesuaikan tindakan pada situasi kompleks yang butuh presisi tinggi.
"Pada pasien yang memenuhi indikasi, teknologi robotik dapat membantu dokter melakukan pengangkatan miom dengan tetap mempertahankan rahim. Ini penting, terutama bagi pasien usia reproduktif yang sebelumnya mungkin harus menghadapi pilihan jauh lebih berat," jelas dr. Sita.
Teknologi secanggih apapun tetap butuh dokter bedah (surgeon) dan tim multidisiplin yang solid khususnya untuk kasus kompleks. Direktur Utama PT Bundamedik Tbk, Agus Heru Darjono, menegaskan kesiapan ini dijaga sebagai standar baku, bukan formalitas.
Reputasi dokter bedah dan rekam jejak institusi sama pentingnya dengan kecanggihan alat itu sendiri. Bagi dr. Sita, teknologi dapat sama, tetapi pengalaman dokter dan kesiapan tim tetap punya peran sangat penting dalam tindakan.
(FIR)
Bagi dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, M.Sc. (Humrepro), FESICOG, MIGS, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Bunda Jakarta, justru memiliki jawaban yang begitu kuat.
Saat ini, dr. Sita merupakan dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia sejak 2013. Untuk pertama kalinya, ia tidak berdiri tepat di sisi pasien, melainkan duduk beberapa meter dari meja operasi, menempekan wajah pada viewer konsol, sementara tangan dan jarinya mengendalikan instrumen robotik.
"Awalnya terasa sangat berbeda. Saya juga harus membangun kepercayaan terhadap teknologinya," katanya kepada tim media.
Kata "robot" memang mudah menimbulkan bayangan mesin yang bergerak dan mengambil keputusan sendiri. Pikir pasien mungkin tanpa campur tangan manusia, yang padahal kenyataannya berbeda.

"Sekitar empat belas tahun lalu, saya sendiri juga butuh waktu untuk percaya diri duduk di depan konsol. Bedah robotik kala itu teknologi baru, jadi wajar kalau pasien pun butuh waktu untuk percaya," kenang dr. Sita.
Robot dalam bedah robotik tidak punya mode otomatis; tidak ada keputusan yang diambil alat itu sendiri. Setiap gerakan instrumen di dalam tubuh pasien berasal langsung dari tangan dokter di konsol.
Sebelum tindakan dimulai, sistem robotik melalui rangkaian pemeriksaan keamanan (safety check) untuk memastikan seluruh instrumen berfungsi optimal.
Sistem juga dilengkapi tremor filter yang menyaring getaran kecil tangan dokter, sehingga gerakan yang diterjemahkan ke instrumen lebih stabil dan presisi. Jadi, istilah dokter diam dan robot akan lakukan hal sama adalah benar.
"Kalau tangan saya diam, instrumennya juga diam. Robot ini membantu saya bergerak lebih presisi dari tangan 'telanjang', tapi soal jaringan mana yang diangkat dan sejauh mana batasnya, itu murni keputusan dokter," tambah dr. Sita.
Presisi robotik dan kesiapan tim menjadi kunci
Sepanjang kariernya, dr. Sita bersama tim menangani berbagai kasus kompleks. Mulai dari mioma multipel berukuran besar, kista dengan perlengketan luas. hingga endometriosis berat vang melibatkan banyak organ di sekitar rahim.
"Kasus-kasus ini dulu identik dengan operasi besar dan pemulihan panjang. Dengan robotik, kami bisa masuk ke area rumit tanpa membuka rongga perut selebar operasi konvensional," ujar dr. Sita.
Pada kasus dan pasien yang sesuai, pendekatan minimal invasif dapat memberikan sejumlah keuntungan, antara lain sayatan yang lebih kecil dan masa pemulihan yang relatif lebih singkat dibandingkan operasi terbuka.
Namun, pilihan metode operasi tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan pertimbangan dokter. Kontrol penuh inilah yang memberi dokter fleksibilitas menyesuaikan tindakan pada situasi kompleks yang butuh presisi tinggi.
"Pada pasien yang memenuhi indikasi, teknologi robotik dapat membantu dokter melakukan pengangkatan miom dengan tetap mempertahankan rahim. Ini penting, terutama bagi pasien usia reproduktif yang sebelumnya mungkin harus menghadapi pilihan jauh lebih berat," jelas dr. Sita.
Teknologi secanggih apapun tetap butuh dokter bedah (surgeon) dan tim multidisiplin yang solid khususnya untuk kasus kompleks. Direktur Utama PT Bundamedik Tbk, Agus Heru Darjono, menegaskan kesiapan ini dijaga sebagai standar baku, bukan formalitas.
Reputasi dokter bedah dan rekam jejak institusi sama pentingnya dengan kecanggihan alat itu sendiri. Bagi dr. Sita, teknologi dapat sama, tetapi pengalaman dokter dan kesiapan tim tetap punya peran sangat penting dalam tindakan.
(FIR)