FITNESS & HEALTH

Fenomena Rahim Copot yang Belakangan Ini Viral, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Obgyn

A. Firdaus
Sabtu 29 November 2025 / 17:11
Jakarta: Belakangan ini Indonesia dihebohkan oleh kisah mengerikan 'rahim copot' yang diceritakan oleh dr. Gia Pratama di YouTube milik Raditya Dika.

Kejadian ini terjadi sekitar 15 tahun lalu di sebuah rumah sakit di Garut, Jawa Barat, di mana seorang pasien datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) dalam kondisi kritis setelah melahirkan di rumah oleh dukun beranak.

Pasien tersebut dibawa oleh keluarganya ke UGD dengan rahim yang sudah terlepas dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Penyebabnya adalah tindakan dukun beranak yang menarik tali pusat secara paksa sebelum plasenta lepas, sehingga rahim ikut terlepas atau "copot".

Pasien datang dalam kondisi pucat dengan tekanan darah sangat rendah (70/0 mmHg) akibat pendarahan hebat. dr. Gia Pratama bersama beberapa rekannya segera melakukan operasi darurat karena ada cedera tambahan seperti usus yang robek.

Fenomena tersebut ditanggapi oleh salah satu rekan sejawat dr. Gia yang menjelaskan bahwa, kondisi ini terjadi akibat cara melahirkan yang tidak tepat, terutama saat upaya melahirkan plasenta atau ari-ari.
"Nah, fenomena yang tadi disebutkan rahim sampai copot, itu sudah pasti adanya cara melahirkan yang tidak baik. Nah, di sini kemungkinan besar sepertinya waktu itu tidak dilahirkan oleh dokter-dokter, tetapi dengan berdukun beranak. Dan masalahnya kemungkinan besar adalah usaha dari dia untuk melahirkan plasenta atau ari-arinya. Jadi ditarik terus sampai jebol jadinya," ujar dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG, MM., MARS, Founder dan CEO Health360 Indonesia saat ditemui Tim Medcom.id

Secara anatomi, rahim memiliki penggantung di depan, samping, dan belakang yang bisa copot jika ditarik dengan kekuatan berlebihan.

"Karena memang rahim sendiri secara anatomi memang punya penggantung-penggantung. Jadi ada penggantung di depan, ada yang di samping, ada yang di belakang. Nah, itu bisa aja copot. Kan kalau misalnya operasi angkat rahim, bisa kita copotin. Nah, ini dicopot secara paksa. Karena ditarik dengan kemampuan yang cukup kuat," jelasnya.

Faktor risiko seperti kadar estrogen tinggi pada ibu hamil, anemia, nutrisi kurang, dan jaringan yang rapuh membuat kondisi ini lebih mudah terjadi.

"Sedangkan kita tahu, pada ibu hamil itu memiliki kadar estrogen progression yang tinggi di mana semua jaringannya jadi lunak banget. Jadi gampang banget copotnya karena gampang perdarahan, rapuh, apalagi dengan ibu yang misalnya anemia. Kadar HB-nya rendah. Itu sudah pasti kualitas jaringannya sangat rapuh, sangat tidak baik. Ditambah lagi mungkin nutrisi seratnya kurang jadi rusaknya jaringan itu sangat mudah," ungkap dr. Yeni.

Namun, ia menegaskan bahwa kasus ini sangat jarang terjadi pada persalinan pervaginal normal. "Tidak banyak dan ini amat sangat jarang. Ini benar-benar satu kejadian yang luar biasa yang memang seharusnya tidak terjadi. Jadi itu memang dipaksakan sekali mungkin pada saat melahirkan," katanya.

Mengenai kemungkinan mengembalikan rahim yang copot, dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari menyatakan bahwa hal itu sangat sulit, terutama karena risiko infeksi dan kualitas jaringan yang sudah rusak. 

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(FIR)

MOST SEARCH