FITNESS & HEALTH

Gangguan Mental yang Bisa Terjadi Saat Pandemi

Yatin Suleha
Senin 10 Januari 2022 / 19:08
Jakarta: Tak terhitung hari sudah pandemi covid-19 masih terjadi. Dengan merebaknya varian Omicron yang penyebarannya dinilai lebih cepat, yakni post-covid syndrome yang dapat menyerang tak hanya fisik, tetapi bisa 'menyerang' juga mental. 

Dr. Leonardi A. Goenawan, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa yang berparktik di RS Pondok Indah – Puri Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya membeberkan pandemi covid-19 telah mengubah hampir semua aspek kehidupan sehari-hari. 

Dalam rilis yang dikeluarkan dari RS Pondok Indah Group, sejak berlangsungnya pandemi, kasus insomnia semakin meningkat hingga mencapai 40 persen. Sering disebut dengan istilah COVID-somnia, atau “Corona-somnia” mulai dikenal sekitar musim panas 2020 untuk menggambarkan dampak pandemi global terhadap pola tidur seseorang. 

Data yang diperoleh dari hampir seluruh belahan dunia memperlihatkan adanya jumlah besar populasi yang mengalami kesulitan tidur. Pada 2020, British Sleep Society melaporkan bahwa kurang dari separuh penduduk Inggris mendapatkan "tidur yang menyegarkan". Sementara di Amerika Serikat, masalah kurang tidur sudah dianggap sebagai epidemi oleh CDC (Centers for Disease Control). 

Sebuah studi observasional terhadap lebih dari 230.000 rekam medis pasien yang dimuat dalam jurnal The Lancet Psychiatry (April 2021), menyatakan bahwa satu dari tiga orang penyintas covid-19 akan mengalami gangguan saraf atau gangguan psikiatri dalam kurun waktu enam bulan setelah terinfeksi virus covid-19. 

Gangguan psikiatri yang paling umum ditemukan menurut studi tersebut adalah insomnia dan gangguan kecemasan. Sebanyak 13 persen dari pasien covid-19 terdiagnosis mengalami keluhan ini. Diagnosis tersebut menjadi diagnosis pertama kali, artinya mereka tidak pernah memiliki riwayat gangguan tersebut sebelumnya.


apa penyebab gangguan tidur
(Dr. Leonardi A. Goenawan, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa yang berparktik di RS Pondok Indah – Puri Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya. Foto: Dok. Istimewa)
 

Tiga hal yang dianggap sebagai penyebab gangguan tidur: 

 

1. Meningkatnya stres


Dr. Leonardi A. Goenawan, Sp.KJ memaparkan stres emosional akibat pandemi dapat mengubah arsitektur tidur, memperpendek durasi gelombang lambat yang bersifat restoratif, meningkatkan REM (rapid eye movement), dan cenderung membuat seseorang lebih sering terbangun di malam hari. 

Dalam suatu penelitian dikatakan bahwa kondisi ini dapat tetap terjadi selama dua tahun setelah seseorang mengalami tekanan emosional yang berat seperti pada pandemi ini. Stres juga akan meningkatkan kadar kortisol, suatu hormon yang bekerja berlawanan dengan melatonin – hormon yang bertanggung jawab untuk kualitas tidur. 

Selama hormon kortisol kita tetap dalam konsentrasi yang tinggi, maka produksi melatonin akan terganggu, sehingga kualitas tidur juga akan terganggu.

Terjebak di rumah karena menjalankan “lockdown” juga memberikan tekanan tersendiri. Tidak bisa keluar rumah selama berhari-hari, melakukan segalanya dari rumah-–bersama seluruh anggota keluarga yang juga sedang berusaha menyesuaikan diri untuk belajar/bekerja secara daring, kurangnya paparan sinar matahari, selain menimbulkan stres, juga akan mengganggu irama sirkadian (proses alami yang mengatur siklus tidur-bangun setiap harinya).
 

2. Hilangnya rutinitas harian


Protokol untuk “menjaga jarak”, mengubah banyak aspek dalam menjalankan kesenangan pribadi hingga kehidupan sosial. Hilangnya berbagai aktivitas ini akan menimbulkan perasaan terisolasi dan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. 

Sementara berbagai aktivitas yang normal memiliki kontribusi yang besar untuk menjaga kestabilan irama sirkadian, karena berfungsi sebagai penanda waktu. 

Sejak pandemi, seluruh aktivitas ini menjadi sangat minimal bahkan hilang. Ketiadaan aktivitas rutin tersebut cenderung membuat tidur lebih larut dan bangun lebih siang. 

Di samping kualitas tidur menjadi buruk, gangguan pada irama sirkadian tersebut juga akan berdampak pada fungsi biologis lainnya, termasuk pencernaan, respons imunitas, dan lainnya. 
 

3. Peningkatan konsumsi informasi


Terlalu banyak mengonsumsi informasi akan secara bermakna meningkatkan tekanan mental dalam bentuk kecemasan dan ketakutan. Belum lagi berhadapan dengan disinformasi dan hoaks. 

Durasi kita berada di depan monitor (screen time), dikaitkan dengan menurunnya kualitas tidur, terutama apabila dilakukan pada malam hari. Sinar biru dari monitor akan merangsang tubuh kita untuk mempertahankan kadar kortisol tetap tinggi dan menekan produksi melatonin.

(TIN)

MOST SEARCH