FAMILY
Aman Berselancar, Sudin Kominfotik Jaksel Gas Terus Kampanye Anti Kekerasan Seksual
Yatin Suleha
Rabu 29 Juli 2026 / 14:22
- Sudin Kominfotik Jakarta Selatan baru saja mengadakan acara Literasi Digital yang seru banget di RPTRA Beringin, Jagakarsa.
- Acara ini fokus ngebahas soal "Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak di Ruang Digital".
- Kegiatan ini kolaborasi antar berbagai sektor buat ngebangun masyarakat yang makin cerdas, aman, dan terlindungi.
Jakarta: Sudin Kominfotik Jakarta Selatan baru saja mengadakan acara Literasi Digital yang seru banget di RPTRA Beringin, Jagakarsa. Acara ini fokus ngebahas soal "Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak di Ruang Digital".
Kepala Sudin Kominfotik Jaksel, Netti Herawati, bilang kalau kegiatan ini murni bentuk kolaborasi keren antar berbagai sektor buat ngebangun masyarakat yang makin cerdas, aman, dan terlindungi, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
"Ini kami laksanakan sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya bersama dalam merespons meningkatnya kasus kekerasan di Jakarta Selatan," ujarnya, Rabu (29/7), seperti dilansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta.
Netti menjelaskan, berdasarkan data Semester I 2026 dari Laporan Bulanan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi DKI Jakarta, tren kasus kekerasan di Jakarta Selatan menunjukkan kecenderungan meningkat dengan total 169 kasus.
"Dari seluruh kecamatan di Jakarta Selatan, Kecamatan Jagakarsa tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sebanyak 27 kasus," terangnya.
Pos pengaduan di RPTRA ternyata jadi andalan warga banget buat lapor kalau ada kasus kekerasan, dengan catatan total ada 12 laporan.
Lewat angka itu, keliatan banget kalau RPTRA sukses jadi tempat aman yang benar-benar dipercaya masyarakat buat cari perlindungan dan bantuan, lho.

(Sudin Kominfotik Jaksel menggelar literasi digital di Jagakarsa untuk menekan tingginya kasus kekerasan di wilayah tersebut, khususnya pelecehan seksual di ruang digital yang rentan dialami perempuan dan anak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
"Selain lokasi fisik, saat ini juga terdapat satu ruang yang semakin rentan menjadi tempat terjadinya berbagai bentuk kekerasan, khususnya kekerasan seksual, yaitu ruang digital," ungkapnya.
Netti menuturkan, kemudahan berinteraksi melalui ruang digital, seperti media sosial, WhatsApp, maupun forum diskusi, juga menghadirkan risiko terjadinya kekerasan seksual.
"Bentuknya dapat berupa penyebaran foto atau video pribadi bermuatan seksual tanpa izin, pelecehan melalui pesan teks yang tidak pantas, komentar daring, hingga penguntitan siber," ucapnya.
Ia menambahkan, kekerasan tersebut tidak hanya berdampak terhadap keamanan digital seseorang, tetapi juga dapat menimbulkan trauma psikologis, tekanan sosial, bahkan mengganggu masa depan korban.
Untuk itu, kegiatan literasi digital penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai upaya pencegahan kekerasan seksual di ruang digital sekaligus menekan angka kekerasan di Jakarta Selatan.
Ia mengajak seluruh peserta, baik yang mengikuti secara daring maupun luring, untuk mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan aktif berdiskusi.
"Semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar, sehingga kita dapat menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan," imbuhnya.
Sekretaris Camat Jagakarsa, Imam Hadi, juga sempat mengatakan kalau sekarang ini teknologi dan medsos sudah jadi hal wajib yang gak bisa dipisahkan dari hidup kita. Hampir semuanya pasti punya akun medsos dan pakai aplikasi digital tiap hari.
Tapi sayangnya, masih banyak juga nih yang belum paham cara pakai teknologi dengan bijak. Alhasil, hal ini gampang banget memicu dampak negatif pas kita lagi asyik berselancar di dunia maya
"Adanya kegiatan literasi digital ini sangat baik bagi para peserta. Mereka diharapkan dapat menangkap materi dengan baik, lalu mengaplikasikannya juga secara baik dan bijak. Sebab, di era digital saat ini masyarakat sangat mudah menerima dan menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu menyaringnya," tandasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Kepala Sudin Kominfotik Jaksel, Netti Herawati, bilang kalau kegiatan ini murni bentuk kolaborasi keren antar berbagai sektor buat ngebangun masyarakat yang makin cerdas, aman, dan terlindungi, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
"Ini kami laksanakan sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya bersama dalam merespons meningkatnya kasus kekerasan di Jakarta Selatan," ujarnya, Rabu (29/7), seperti dilansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta.
Netti menjelaskan, berdasarkan data Semester I 2026 dari Laporan Bulanan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi DKI Jakarta, tren kasus kekerasan di Jakarta Selatan menunjukkan kecenderungan meningkat dengan total 169 kasus.
"Dari seluruh kecamatan di Jakarta Selatan, Kecamatan Jagakarsa tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sebanyak 27 kasus," terangnya.
Pos pengaduan di RPTRA ternyata jadi andalan warga banget buat lapor kalau ada kasus kekerasan, dengan catatan total ada 12 laporan.
Lewat angka itu, keliatan banget kalau RPTRA sukses jadi tempat aman yang benar-benar dipercaya masyarakat buat cari perlindungan dan bantuan, lho.

(Sudin Kominfotik Jaksel menggelar literasi digital di Jagakarsa untuk menekan tingginya kasus kekerasan di wilayah tersebut, khususnya pelecehan seksual di ruang digital yang rentan dialami perempuan dan anak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
"Selain lokasi fisik, saat ini juga terdapat satu ruang yang semakin rentan menjadi tempat terjadinya berbagai bentuk kekerasan, khususnya kekerasan seksual, yaitu ruang digital," ungkapnya.
Netti menuturkan, kemudahan berinteraksi melalui ruang digital, seperti media sosial, WhatsApp, maupun forum diskusi, juga menghadirkan risiko terjadinya kekerasan seksual.
"Bentuknya dapat berupa penyebaran foto atau video pribadi bermuatan seksual tanpa izin, pelecehan melalui pesan teks yang tidak pantas, komentar daring, hingga penguntitan siber," ucapnya.
Ia menambahkan, kekerasan tersebut tidak hanya berdampak terhadap keamanan digital seseorang, tetapi juga dapat menimbulkan trauma psikologis, tekanan sosial, bahkan mengganggu masa depan korban.
Untuk itu, kegiatan literasi digital penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai upaya pencegahan kekerasan seksual di ruang digital sekaligus menekan angka kekerasan di Jakarta Selatan.
Ia mengajak seluruh peserta, baik yang mengikuti secara daring maupun luring, untuk mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan aktif berdiskusi.
"Semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar, sehingga kita dapat menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan," imbuhnya.
Sekretaris Camat Jagakarsa, Imam Hadi, juga sempat mengatakan kalau sekarang ini teknologi dan medsos sudah jadi hal wajib yang gak bisa dipisahkan dari hidup kita. Hampir semuanya pasti punya akun medsos dan pakai aplikasi digital tiap hari.
Tapi sayangnya, masih banyak juga nih yang belum paham cara pakai teknologi dengan bijak. Alhasil, hal ini gampang banget memicu dampak negatif pas kita lagi asyik berselancar di dunia maya
"Adanya kegiatan literasi digital ini sangat baik bagi para peserta. Mereka diharapkan dapat menangkap materi dengan baik, lalu mengaplikasikannya juga secara baik dan bijak. Sebab, di era digital saat ini masyarakat sangat mudah menerima dan menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu menyaringnya," tandasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)