FITNESS & HEALTH

Kenapa Seseorang Bisa Jadi Mata-mata? Ini 5 Motif di Balik Aksi Spionase

Yatin Suleha
Rabu 04 November 2026 / 16:39
Ringkasnya gini..
  • Motif seseorang melakukan spionase bisa berkaitan dengan uang, ideologi, paksaan, dan ego.
  • Dendam atau kekecewaan pribadi juga dapat mendorong seseorang membocorkan informasi rahasia.
  • Satu orang bisa memiliki lebih dari satu motif saat terlibat dalam spionase.
 
 

Jakarta: Kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan 
sejumlah nomor telepon pejabat negara hingga tokoh masyarakat diduga disadap secara ilegal sejak 2025.  Dan ini membuat istilah penyadapan atau spionase kembali menjadi perbincangan.

Di balik aksi memata-matai dan mengumpulkan informasi rahasia, ternyata ada berbagai alasan yang bisa mendorong seseorang terlibat dalam aktivitas tersebut.

Dilansir dari berbagai sumber, motivasi seseorang melakukan spionase tak selalu berkaitan dengan uang atau kepentingan politik. Faktor psikologis dan pengalaman pribadi juga bisa berperan.

 



Kajian CIA berjudul "The Psychology of Espionage" menjelaskan bahwa krisis pribadi, karakter individu, dan kesempatan mengakses informasi rahasia dapat saling berkaitan dalam mendorong seseorang melakukan spionase.

 

32F5B437-57CD-48E4-AE7C-D3806C364A6D
(Aktivitas spionase dilakukan dengan mengumpulkan informasi rahasia melalui berbagai cara. Motif pelakunya bisa beragam, mulai dari uang, ideologi, tekanan, hingga keinginan mendapat pengakuan. Foto: Dok. AI Generated)

 

5 motif seseorang menjadi mata-mata



Dalam dunia intelijen, terdapat konsep MICE yang digunakan untuk memahami empat motivasi umum seseorang melakukan spionase.

Selain itu, dendam atau kekecewaan pribadi juga bisa menjadi faktor pendorong.
 

1. Money (uang)


Keuntungan finansial menjadi salah satu motivasi yang paling dikenal. Tawaran bayaran besar, utang, hingga kebutuhan ekonomi bisa membuat seseorang tergoda membocorkan informasi rahasia.
 

2. Ideology (ideologi)


Seseorang bisa melakukan spionase karena keyakinan politik atau ideologi tertentu. Mereka mungkin merasa sedang memperjuangkan sesuatu yang dianggap benar, meskipun tindakannya melanggar aturan.
 

3. Coercion (paksaan)


Ancaman, pemerasan, atau tekanan terhadap diri sendiri maupun keluarga bisa membuat seseorang terpaksa bekerja sama dengan pihak lain.

 


 

4. Ego (harga diri)


Keinginan mendapatkan pengakuan, merasa lebih berkuasa, atau membuktikan kemampuan diri bisa menjadi pemicu. Ada pula orang yang menikmati sensasi merasa lebih unggul karena berhasil menyimpan rahasia.
 

5. Grievance (dendam atau kekecewaan)


Rasa sakit hati terhadap atasan, tempat kerja, atau pihak tertentu juga bisa mendorong seseorang melakukan spionase.

Perasaan tidak dihargai, diperlakukan tidak adil, hingga keinginan membalas dendam dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk membocorkan informasi rahasia.

 

Motifnya bisa saling berkaitan



Menariknya, motivasi spionase gak selalu berdiri sendiri. Seseorang bisa memiliki masalah finansial sekaligus menyimpan kekecewaan terhadap tempatnya bekerja.

Karena itu, memahami psikologi spionase membutuhkan lebih dari sekadar melihat tindakan seseorang. Latar belakang, pengalaman, dan situasi yang dihadapi juga perlu diperhatikan.

Pada akhirnya, menjadi mata-mata bukan selalu tentang ambisi besar atau kehidupan penuh aksi seperti film. Ada faktor personal yang kompleks di balik keputusan seseorang untuk membocorkan rahasia.


Desi I.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH