FITNESS & HEALTH
Terapi Sel Imun untuk Harapan Baru Melengkapi Pengobatan Kanker
Aulia Putriningtias
Sabtu 29 Agustus 2026 / 13:42
- Perkembangan teknologi kesehatan saat ini kian pesat, termasuk untuk pengobatan kanker.
- Terapi sel imun menjadi salah satu harapan baru ini.
- Hal ini memanfaatkan sekaligus merekayasa sel kekebalan tubuh pasien agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker.
Jakarta: Perkembangan teknologi kesehatan saat ini kian pesat, termasuk untuk pengobatan kanker. Terapi sel imun menjadi salah satu harapan baru ini.
Perkembangan terapi sel imun (immune cell therapy) kini membuka peluang baru dalam pengobatan kanker. Hal ini memanfaatkan sekaligus merekayasa sel kekebalan tubuh pasien agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker.
Teknologi ini menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan precision medicine, yakni pendekatan pengobatan yang berusaha menyesuaikan terapi dengan karakteristik biologis dan genetik masing-masing pasien.
Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung, Regenic Stem Cell, dr. Sandy Qlintang , M.Biomed., mengatakan perkembangan precision medicine dan cell therapy perlu dikuti dengan kesiapan ekosistem agar inovasi dapat diterapkan secara aman dan berkelanjutan.
Dr. Sandy menjelaskan bahwa terapi sel imun pasien diambil dari tubuh, kemudian diproses dan diperkuat di laboratorium. Setelahnya, sel dikembalikan ke tubuh dengan harapan dapat membantu sistem imun mengenali dan menyerang sel kanker.
"Terapi sel itu adalah ajuvan jadi menambah, memperkuat dan bukan sebagai pengganti pengobatan seperti kemoterapi," ujar dr. Sandy kepada awak media melalui acara Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS), Sabtu, 29 Agustus 2026.
Apakah terapi sel imun ini bisa menggantikan kemoterapi? Menurut dr. Sandy, terapi ini bukan untuk mengganti, tetapi melengkapi menjadi lebih strategis dalam penanganan kanker yang sesuai.
"Terapi kanker itu kan ada tahapannya. Pertama yang paling terstandar adalah kemoterapi. Bedah yang dibuang, ada radioterapi. Pada pengobatan yang lebih advance lagi seperti penggunaan antibodi. Nah, itu kan yang menjadi target. Lalu terakhir adalah terapi sel. Tahapan-tahapan itu harus dilalui," jelasnya.
Ia melanjutkan bahwa pasien kanker tidak cukup hanya mendapatkan satu jenis terapi tanpa mempertimbangkan kebutuhan medis secara keseluruhan. Jadi, terapi sel imun sejatinya untuk melengkapi lebih optimal untuk penanganan.
"Tidak bisa pengobatan hanya dilakukan dengan terapi sel imun saja. Harus berbarengan membuat suatu integrasi yang baik antara terapi-terapi modalitas yang sudah ada," katanya.
Sejalan dengan perkembangan terapi sel imun, pengembangan precision medicine juga sejalan dengan transformasi sistem kesehatan nasional. Pemerintah Indonesia melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGS/) terus memperkuat pemanfaatan data genomik sebagai salah satu fondasi pengembangan kedokteran presisi.
Pendekatan ini membuka peluang untuk memahami karakteristik biologis dan genetik penyakit secara lebih mendalam sehingga pencegahan, diagnosis, maupun pilihan terapi dapat semakin tepat dan personal.
Selain immune cell therapy, DBSDLS 2026 membahas perkembangan teknologi gene editing, termasuk platform seperti CRISPR, ang membuka peluang dalam pengembangan pengobatan berbagai penyakit genetik, kanker, dan penyakit degeneratif.
Forum ini turut membahas aspek keamanan, etika, regulasi, serta pentingnya bukti ilmiah dalam pengembangan dan penerapan teknologi tersebut. Pembahasan juga mencakup tantangan adoptive cell therapy pada kanker padat serta perkembangan ekosistem terapi sel imun di kawasan Asia.
Melalui DBSDLS 2026, Kalbe dan SCI Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kemajuan ilmu kedokteran berbasis bukti serta pengembangan ekosistem precision medicine dan cell therapy di Indonesia.
(TIN)
Perkembangan terapi sel imun (immune cell therapy) kini membuka peluang baru dalam pengobatan kanker. Hal ini memanfaatkan sekaligus merekayasa sel kekebalan tubuh pasien agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker.
Teknologi ini menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan precision medicine, yakni pendekatan pengobatan yang berusaha menyesuaikan terapi dengan karakteristik biologis dan genetik masing-masing pasien.
Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung, Regenic Stem Cell, dr. Sandy Qlintang , M.Biomed., mengatakan perkembangan precision medicine dan cell therapy perlu dikuti dengan kesiapan ekosistem agar inovasi dapat diterapkan secara aman dan berkelanjutan.
Dr. Sandy menjelaskan bahwa terapi sel imun pasien diambil dari tubuh, kemudian diproses dan diperkuat di laboratorium. Setelahnya, sel dikembalikan ke tubuh dengan harapan dapat membantu sistem imun mengenali dan menyerang sel kanker.
"Terapi sel itu adalah ajuvan jadi menambah, memperkuat dan bukan sebagai pengganti pengobatan seperti kemoterapi," ujar dr. Sandy kepada awak media melalui acara Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS), Sabtu, 29 Agustus 2026.
Apakah terapi sel imun ini bisa menggantikan kemoterapi? Menurut dr. Sandy, terapi ini bukan untuk mengganti, tetapi melengkapi menjadi lebih strategis dalam penanganan kanker yang sesuai.
"Terapi kanker itu kan ada tahapannya. Pertama yang paling terstandar adalah kemoterapi. Bedah yang dibuang, ada radioterapi. Pada pengobatan yang lebih advance lagi seperti penggunaan antibodi. Nah, itu kan yang menjadi target. Lalu terakhir adalah terapi sel. Tahapan-tahapan itu harus dilalui," jelasnya.
Ia melanjutkan bahwa pasien kanker tidak cukup hanya mendapatkan satu jenis terapi tanpa mempertimbangkan kebutuhan medis secara keseluruhan. Jadi, terapi sel imun sejatinya untuk melengkapi lebih optimal untuk penanganan.
"Tidak bisa pengobatan hanya dilakukan dengan terapi sel imun saja. Harus berbarengan membuat suatu integrasi yang baik antara terapi-terapi modalitas yang sudah ada," katanya.
Sejalan dengan perkembangan terapi sel imun, pengembangan precision medicine juga sejalan dengan transformasi sistem kesehatan nasional. Pemerintah Indonesia melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGS/) terus memperkuat pemanfaatan data genomik sebagai salah satu fondasi pengembangan kedokteran presisi.
Pendekatan ini membuka peluang untuk memahami karakteristik biologis dan genetik penyakit secara lebih mendalam sehingga pencegahan, diagnosis, maupun pilihan terapi dapat semakin tepat dan personal.
Selain immune cell therapy, DBSDLS 2026 membahas perkembangan teknologi gene editing, termasuk platform seperti CRISPR, ang membuka peluang dalam pengembangan pengobatan berbagai penyakit genetik, kanker, dan penyakit degeneratif.
Forum ini turut membahas aspek keamanan, etika, regulasi, serta pentingnya bukti ilmiah dalam pengembangan dan penerapan teknologi tersebut. Pembahasan juga mencakup tantangan adoptive cell therapy pada kanker padat serta perkembangan ekosistem terapi sel imun di kawasan Asia.
Melalui DBSDLS 2026, Kalbe dan SCI Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kemajuan ilmu kedokteran berbasis bukti serta pengembangan ekosistem precision medicine dan cell therapy di Indonesia.
(TIN)