FITNESS & HEALTH
Indonesia Masuk 3 Besar Dunia yang Nguji Target Vaksin 100 Hari
Yatin Suleha
Minggu 13 September 2026 / 07:05
- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menggelar simulasi kesiapsiagaan.
- Untuk hadapi ancaman pandemi baru alias "Penyakit X".
- Lewat simulasi bertajuk Misi 100 Hari ini, pemerintah mau ngetes seberapa cepat respons nasional dalam ngembangin dan memproduksi vaksin.
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menggelar simulasi kesiapsiagaan di Jakarta buat menghadapi ancaman pandemi baru alias "Penyakit X", awal bulan ini.
Lewat simulasi bertajuk Misi 100 Hari ini, pemerintah mau ngetes seberapa cepat respons nasional dalam ngembangin dan memproduksi vaksin—targetnya cuma 100 hari setelah patogen baru teridentifikasi.
Acara yang berlangsung selama 2 hari ini melibatkan lebih dari 120 ahli dari kementerian, akademisi, industri, lembaga riset, sampai otoritas regulasi.
Di simulasi ini, para peserta membedah skenario fiktif wabah "nipah-x", yaitu patogen mutasi mematikan yang menyebar cepat dari hewan ternak ke manusia, bisa menular antarmanusia, dan berpotensi bikin pandemi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan kalau persiapan menghadapi pandemi itu tak boleh dianggap sepele dan harus setara sama investasi pertahanan negara.
Menurutnya, sejarah sudah membuktikan kalau wabah penyakit mematikan bisa melumpuhkan populasi global lebih parah dibanding konflik bersenjata.
“Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II. Karena itu, kita harus berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Menkes Budi.
Misi 100 Hari ini adalah target ambisius tingkat dunia buat memangkas waktu pengembangan vaksin biar jauh lebih cepat, jadi vaksin bisa siap lebih awal untuk mencegah penularan penyakit.
Demi mengejar target ini, Indonesia lagi mengintegrasikan sistem deteksi dini—mulai dari bikin alat tes cepat portabel (POCT) di layanan primer, sampai meningkatkan kapasitas sekuensing genom di berbagai daerah.
.jpg)
(Indonesia menggelar simulasi kesiapsiagaan pengembangan vaksin 100 hari bareng CEPI demi cegah ancaman pandemi baru. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dari segi produksi, pemerintah gak tinggal diam dan langsung menggandeng produsen lokal seperti PT Bio Farma, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan PT Biotis Pharmaceuticals supaya siap produksi massal saat terjadi pandemi.
Direktur Utama CEPI, Dr. Richard Hatchett, menilai Indonesia punya peran sangat penting dalam menjaga ketahanan kesehatan kawasan. Menurutnya, kemajuan riset, industri manufaktur, dan regulasi di Indonesia udah cukup mumpuni buat mendukung target Misi 100 Hari ini.
“Indonesia adalah mitra strategis CEPI. Latihan simulasi seperti ini membantu membangun hubungan dan kesiapan operasional, serta mengidentifikasi celah yang harus ditutup agar respons terhadap wabah berikutnya bisa jauh lebih cepat,” kata Hatchett.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menjamin kalau percepatan pembutan vaksin darurat gak bakal mengorbankan standar keselamatan pasien. Saat ini, BPOM juga lagi mematangkan skema persetujuan bersyarat buat melengkapi mekanisme izin penggunaan darurat (EUA).
“Percepatan inovasi tetap harus berjalan seiring dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan khasiat. Percepatan tidak boleh berarti berkompromi terhadap standar tersebut,” tegas Taruna.
Simulasi Misi 100 Hari ini bikin Indonesia jadi negara ketiga di dunia—setelah Korea Selatan dan Rwanda—yang nguji langsung seluruh rantai respons pandeminya bareng CEPI, mulai dari biosurveilans sampai distribusi logistik medis.
(TIN)
Lewat simulasi bertajuk Misi 100 Hari ini, pemerintah mau ngetes seberapa cepat respons nasional dalam ngembangin dan memproduksi vaksin—targetnya cuma 100 hari setelah patogen baru teridentifikasi.
Acara yang berlangsung selama 2 hari ini melibatkan lebih dari 120 ahli dari kementerian, akademisi, industri, lembaga riset, sampai otoritas regulasi.
Di simulasi ini, para peserta membedah skenario fiktif wabah "nipah-x", yaitu patogen mutasi mematikan yang menyebar cepat dari hewan ternak ke manusia, bisa menular antarmanusia, dan berpotensi bikin pandemi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan kalau persiapan menghadapi pandemi itu tak boleh dianggap sepele dan harus setara sama investasi pertahanan negara.
Menurutnya, sejarah sudah membuktikan kalau wabah penyakit mematikan bisa melumpuhkan populasi global lebih parah dibanding konflik bersenjata.
“Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II. Karena itu, kita harus berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Menkes Budi.
Misi 100 Hari ini adalah target ambisius tingkat dunia buat memangkas waktu pengembangan vaksin biar jauh lebih cepat, jadi vaksin bisa siap lebih awal untuk mencegah penularan penyakit.
Demi mengejar target ini, Indonesia lagi mengintegrasikan sistem deteksi dini—mulai dari bikin alat tes cepat portabel (POCT) di layanan primer, sampai meningkatkan kapasitas sekuensing genom di berbagai daerah.
.jpg)
(Indonesia menggelar simulasi kesiapsiagaan pengembangan vaksin 100 hari bareng CEPI demi cegah ancaman pandemi baru. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dari segi produksi, pemerintah gak tinggal diam dan langsung menggandeng produsen lokal seperti PT Bio Farma, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan PT Biotis Pharmaceuticals supaya siap produksi massal saat terjadi pandemi.
Direktur Utama CEPI, Dr. Richard Hatchett, menilai Indonesia punya peran sangat penting dalam menjaga ketahanan kesehatan kawasan. Menurutnya, kemajuan riset, industri manufaktur, dan regulasi di Indonesia udah cukup mumpuni buat mendukung target Misi 100 Hari ini.
“Indonesia adalah mitra strategis CEPI. Latihan simulasi seperti ini membantu membangun hubungan dan kesiapan operasional, serta mengidentifikasi celah yang harus ditutup agar respons terhadap wabah berikutnya bisa jauh lebih cepat,” kata Hatchett.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menjamin kalau percepatan pembutan vaksin darurat gak bakal mengorbankan standar keselamatan pasien. Saat ini, BPOM juga lagi mematangkan skema persetujuan bersyarat buat melengkapi mekanisme izin penggunaan darurat (EUA).
“Percepatan inovasi tetap harus berjalan seiring dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan khasiat. Percepatan tidak boleh berarti berkompromi terhadap standar tersebut,” tegas Taruna.
Simulasi Misi 100 Hari ini bikin Indonesia jadi negara ketiga di dunia—setelah Korea Selatan dan Rwanda—yang nguji langsung seluruh rantai respons pandeminya bareng CEPI, mulai dari biosurveilans sampai distribusi logistik medis.
(TIN)