FITNESS & HEALTH
Kenali Gejala Migrain dan Cara Mencegahnya Sejak Dini
Elang Riki Yanuar
Selasa 16 Juni 2026 / 08:12
- Dokter mengingatkan migrain bukan sekadar sakit kepala biasa dan dapat menurunkan kualitas hidup jika tidak ditangani.
- Risiko migrain bisa meningkat setelah usia 40 tahun akibat stres, perubahan hormon, pola tidur buruk, dan penyakit penyerta.
- Seminar kesehatan di Bandung mengedukasi masyarakat tentang migrain sekaligus menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis.
Jakarta: Kesadaran masyarakat terhadap bahaya migrain terus menjadi perhatian berbagai pihak. Dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Migrain Sedunia yang diperingati setiap Juni, Holywings Peduli menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dan seminar edukasi kesehatan di Superhouse Paskal, Bandung, Minggu, 14 Juni 2026.
Kegiatan yang mengusung tema Kenali Migrain, Kendalikan Gejalanya untuk Hidup Lebih Berkualitas itu disambut antusias ratusan warga Kelurahan Pasir Kaliki. Sejak pagi, peserta sudah memadati lokasi untuk mengikuti seminar kesehatan sekaligus memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang tersedia.
Dalam sesi seminar, dokter narasumber dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta menjelaskan bahwa migrain merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan nyeri kepala berdenyut yang umumnya terjadi pada satu sisi kepala. Kondisi ini juga dapat disertai gejala lain seperti mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
Dokter menjelaskan bahwa serangan migrain bisa berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari. Berbagai faktor dapat memicu munculnya migrain, di antaranya stres, kurang tidur, perubahan hormon, hingga pola makan yang tidak teratur. Karena itu, masyarakat perlu mengenali faktor pemicu agar dapat mengurangi risiko kekambuhan.
"Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Kondisi ini merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling sering menyebabkan penurunan kualitas hidup. Dengan menjaga pola tidur, mengelola stres, berolahraga secara rutin, dan menghindari faktor pemicu, risiko kekambuhan migrain dapat ditekan secara signifikan," jelas dr Ivana Lola.
Dalam kesempatan tersebut, dr Ivana juga menjelaskan bahwa risiko migrain dapat meningkat saat seseorang memasuki usia 40 tahun. Hal itu dipengaruhi sejumlah faktor seperti perubahan hormon pada perempuan menjelang masa perimenopause, tingginya tingkat stres pekerjaan maupun keluarga, pola tidur yang kurang teratur, hingga adanya penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan kecemasan.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan keluhan sakit kepala berat yang baru muncul setelah usia 40 tahun. Pemeriksaan medis tetap diperlukan guna memastikan tidak ada penyebab lain yang lebih serius.
Selain faktor usia, pola makan juga memiliki peran penting dalam memicu maupun mencegah migrain. Beberapa jenis makanan diketahui dapat meningkatkan risiko serangan migrain pada sebagian orang. Makanan olahan dengan kandungan MSG tinggi, daging olahan seperti sosis dan kornet, keju fermentasi, cokelat, konsumsi kafein berlebihan, minuman beralkohol, serta pemanis buatan tertentu termasuk yang perlu diwaspadai.
Sebaliknya, konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah segar, ikan kaya omega-3 seperti salmon dan tuna, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta menjaga kecukupan cairan tubuh dinilai dapat membantu menekan risiko migrain. Selain itu, pola makan yang teratur juga penting karena keterlambatan makan sering menjadi pemicu munculnya serangan.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, gangguan sakit kepala memengaruhi sekitar 40 persen populasi global. Migrain sendiri menjadi salah satu penyebab utama disabilitas neurologis di dunia. Di Indonesia, prevalensi migrain diperkirakan mencapai 11 hingga 12 persen populasi dengan angka kejadian yang lebih tinggi pada perempuan.
Dalam acara ini, berbagai layanan kesehatan diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Mulai dari pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini masalah kesehatan.
Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengatakan bahwa edukasi kesehatan menjadi salah satu fokus utama kegiatan sosial yang dijalankan perusahaan. Menurutnya, migrain masih sering dianggap sebagai sakit kepala biasa, padahal dampaknya dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.
"Migrain seringkali dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari. Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat sekaligus mendorong deteksi dini berbagai faktor risiko kesehatan melalui pemeriksaan gratis," ujar Andrew Susanto.
Melalui kombinasi seminar kesehatan, layanan pemeriksaan gratis, dan kegiatan hiburan yang edukatif, Holywings Peduli berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Program ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Kegiatan yang mengusung tema Kenali Migrain, Kendalikan Gejalanya untuk Hidup Lebih Berkualitas itu disambut antusias ratusan warga Kelurahan Pasir Kaliki. Sejak pagi, peserta sudah memadati lokasi untuk mengikuti seminar kesehatan sekaligus memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang tersedia.
Dalam sesi seminar, dokter narasumber dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta menjelaskan bahwa migrain merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan nyeri kepala berdenyut yang umumnya terjadi pada satu sisi kepala. Kondisi ini juga dapat disertai gejala lain seperti mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
Dokter menjelaskan bahwa serangan migrain bisa berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari. Berbagai faktor dapat memicu munculnya migrain, di antaranya stres, kurang tidur, perubahan hormon, hingga pola makan yang tidak teratur. Karena itu, masyarakat perlu mengenali faktor pemicu agar dapat mengurangi risiko kekambuhan.
"Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Kondisi ini merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling sering menyebabkan penurunan kualitas hidup. Dengan menjaga pola tidur, mengelola stres, berolahraga secara rutin, dan menghindari faktor pemicu, risiko kekambuhan migrain dapat ditekan secara signifikan," jelas dr Ivana Lola.
Dalam kesempatan tersebut, dr Ivana juga menjelaskan bahwa risiko migrain dapat meningkat saat seseorang memasuki usia 40 tahun. Hal itu dipengaruhi sejumlah faktor seperti perubahan hormon pada perempuan menjelang masa perimenopause, tingginya tingkat stres pekerjaan maupun keluarga, pola tidur yang kurang teratur, hingga adanya penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan kecemasan.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan keluhan sakit kepala berat yang baru muncul setelah usia 40 tahun. Pemeriksaan medis tetap diperlukan guna memastikan tidak ada penyebab lain yang lebih serius.
Selain faktor usia, pola makan juga memiliki peran penting dalam memicu maupun mencegah migrain. Beberapa jenis makanan diketahui dapat meningkatkan risiko serangan migrain pada sebagian orang. Makanan olahan dengan kandungan MSG tinggi, daging olahan seperti sosis dan kornet, keju fermentasi, cokelat, konsumsi kafein berlebihan, minuman beralkohol, serta pemanis buatan tertentu termasuk yang perlu diwaspadai.
Sebaliknya, konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah segar, ikan kaya omega-3 seperti salmon dan tuna, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta menjaga kecukupan cairan tubuh dinilai dapat membantu menekan risiko migrain. Selain itu, pola makan yang teratur juga penting karena keterlambatan makan sering menjadi pemicu munculnya serangan.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, gangguan sakit kepala memengaruhi sekitar 40 persen populasi global. Migrain sendiri menjadi salah satu penyebab utama disabilitas neurologis di dunia. Di Indonesia, prevalensi migrain diperkirakan mencapai 11 hingga 12 persen populasi dengan angka kejadian yang lebih tinggi pada perempuan.
Dalam acara ini, berbagai layanan kesehatan diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Mulai dari pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini masalah kesehatan.
Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengatakan bahwa edukasi kesehatan menjadi salah satu fokus utama kegiatan sosial yang dijalankan perusahaan. Menurutnya, migrain masih sering dianggap sebagai sakit kepala biasa, padahal dampaknya dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.
"Migrain seringkali dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari. Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat sekaligus mendorong deteksi dini berbagai faktor risiko kesehatan melalui pemeriksaan gratis," ujar Andrew Susanto.
Melalui kombinasi seminar kesehatan, layanan pemeriksaan gratis, dan kegiatan hiburan yang edukatif, Holywings Peduli berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Program ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)