- Sistem pendidikan profesi dokter agar makin banyak tenaga medis.
- Kolaborasi ini jadi sinyal kuat bahwa masa depan.
- Sebuah terobosan penting untuk memperkuat layanan kesehatan lokal.
Papua: Pendidikan dokter di Papua lagi masuk fase serius, tapi dengan semangat kolaborasi yang kuat. Pemerintah Provinsi Papua bersama Universitas Cenderawasih sepakat memperkuat sistem pendidikan profesi dokter agar makin banyak tenaga medis berkualitas lahir langsung dari Tanah Papua.
Komitmen ini ditegaskan Wakil Gubernur Papua Aryoko A.F. Rumaropen dalam rapat koordinasi bersama Fakultas Kedokteran Uncen dan manajemen rumah sakit pendidikan di Jayapura. Menurutnya, Papua harus menyiapkan dokter dari putra-putri daerah sendiri — bukan terus bergantung pada tenaga medis dari luar.
“Kita harus menyiapkan anak-anak Papua sendiri menjadi dokter yang berkualitas. Tidak mungkin kita terus bergantung pada tenaga medis dari luar daerah. Seluruh tahapan pendidikan, termasuk administrasi mahasiswa koas, harus dipastikan berjalan optimal,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan dari dokter senior dan akademisi agar dokter muda Papua bisa berkembang maksimal — bukan hanya secara akademik, tapi juga siap menghadapi kebutuhan layanan kesehatan di daerah.
Dalam skema kolaborasi terbaru, RSUD Dok II Jayapura tetap menjadi rumah sakit pendidikan utama yang berfokus pada pengembangan program pascasarjana dan spesialis. Sementara RSUD Abepura akan menjadi pusat pendidikan profesi dokter (koas) dengan kurikulum baru yang lebih terarah.
Langkah konkret berikutnya sudah di depan mata. Pemprov Papua dan Uncen dijadwalkan meluncurkan program pendidikan dokter spesialis anestesi pada akhir Februari 2026, sebuah terobosan penting untuk memperkuat layanan kesehatan lokal.
Dekan Fakultas Kedokteran Uncen, Inneke Viviane Sumolang, memastikan pihak kampus siap mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan rumah sakit mitra dan pengembangan program spesialis.
Kolaborasi ini jadi sinyal kuat bahwa masa depan layanan kesehatan Papua sedang dibangun dari dalam, lewat pendidikan, pendampingan, dan kesempatan bagi generasi muda untuk menjadi tenaga medis yang kompeten sekaligus memahami kebutuhan daerahnya sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Komitmen ini ditegaskan Wakil Gubernur Papua Aryoko A.F. Rumaropen dalam rapat koordinasi bersama Fakultas Kedokteran Uncen dan manajemen rumah sakit pendidikan di Jayapura. Menurutnya, Papua harus menyiapkan dokter dari putra-putri daerah sendiri — bukan terus bergantung pada tenaga medis dari luar.
“Kita harus menyiapkan anak-anak Papua sendiri menjadi dokter yang berkualitas. Tidak mungkin kita terus bergantung pada tenaga medis dari luar daerah. Seluruh tahapan pendidikan, termasuk administrasi mahasiswa koas, harus dipastikan berjalan optimal,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan dari dokter senior dan akademisi agar dokter muda Papua bisa berkembang maksimal — bukan hanya secara akademik, tapi juga siap menghadapi kebutuhan layanan kesehatan di daerah.
Dalam skema kolaborasi terbaru, RSUD Dok II Jayapura tetap menjadi rumah sakit pendidikan utama yang berfokus pada pengembangan program pascasarjana dan spesialis. Sementara RSUD Abepura akan menjadi pusat pendidikan profesi dokter (koas) dengan kurikulum baru yang lebih terarah.
Langkah konkret berikutnya sudah di depan mata. Pemprov Papua dan Uncen dijadwalkan meluncurkan program pendidikan dokter spesialis anestesi pada akhir Februari 2026, sebuah terobosan penting untuk memperkuat layanan kesehatan lokal.
Dekan Fakultas Kedokteran Uncen, Inneke Viviane Sumolang, memastikan pihak kampus siap mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan rumah sakit mitra dan pengembangan program spesialis.
Kolaborasi ini jadi sinyal kuat bahwa masa depan layanan kesehatan Papua sedang dibangun dari dalam, lewat pendidikan, pendampingan, dan kesempatan bagi generasi muda untuk menjadi tenaga medis yang kompeten sekaligus memahami kebutuhan daerahnya sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)