FITNESS & HEALTH

Kasus Virus Nipah Kembali Merebak? Ini Gejala dan Langkah Pencegahannya

A. Firdaus
Selasa 27 Januari 2026 / 10:02
Jakarta: Virus Nipah termasuk kelompok patogen berbahaya yang menjadi perhatian dunia. Sebab kemampuan penularannya lintas spesies dan tingkat kematian yang tinggi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan virus ini sebagai penyakit zoonosis, yakni infeksi yang dapat berpindah dari hewan ke manusia dan juga menyebar antarmanusia. Reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus.

Di tubuh manusia, infeksi virus Nipah berdampak serius karena menyerang dua sistem vital sekaligus, yaitu sistem pernapasan dan sistem saraf pusat. Salah satu komplikasi paling mematikan adalah peradangan otak akut atau ensefalitis, yang kerap berkembang cepat dan sulit ditangani.

Awal tahun 2026 menjadi penanda munculnya kembali ancaman virus ini di India. Di negara bagian Benggala Barat (West Bengal), otoritas kesehatan mengonfirmasi lima kasus infeksi Nipah. Penularan tidak hanya terjadi pada masyarakat umum, tetapi juga melibatkan tenaga kesehatan, termasuk dokter dan perawat yang tertular saat menjalankan tugas medis.

Dilansir dari Independent, sekitar 100 orang telah diminta menjalani isolasi mandiri di rumah sebagai langkah pengendalian. Pasien-pasien yang terinfeksi dirawat di sejumlah rumah sakit di wilayah Kolkata dan sekitarnya, dengan satu kasus dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Meski jumlah kasus pada manusia relatif sedikit, para ahli menilai risiko penularan tetap signifikan. Infeksi umumnya terjadi ketika manusia terpapar virus dari kelelawar, terutama melalui konsumsi buah atau makanan yang telah tercemar air liur, urine, atau kotoran hewan tersebut.
 

Gejala infeksi virus Nipah


Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menjelaskan bahwa virus Nipah memiliki masa inkubasi yang cukup panjang, yakni rata-rata 4 hingga 21 hari, bahkan dapat melebihi rentang tersebut dalam kondisi tertentu. Hal ini membuat deteksi dini menjadi sulit.

Dilansir dari Kumparan.com, tahap awal infeksi sering kali ditandai dengan keluhan ringan yang menyerupai penyakit flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, serta kelelahan ekstrem. Pada sebagian pasien, infeksi berkembang menjadi gangguan pernapasan, mulai dari batuk dan sesak napas hingga pneumonia dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Dalam perjalanan gejalanya, gejala neurologis biasanya muncul setelah beberapa hari atau minggu. Penderita dapat mengalami kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma. Selain ensefalitis, beberapa kasus juga disertai dengan meningitis.

Virus Nipah dikenal memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi. Berdasarkan berbagai laporan wabah, angka kematian berada pada kisaran 40 hingga 75%, bergantung pada karakteristik virus dan sistem penanganan kesehatan di wilayah terdampak.

Bagi pasien yang berhasil bertahan hidup, risiko jangka panjang tetap ada. Badan Keamanan Kesehatan Inggris mencatat bahwa penyintas dapat mengalami gangguan neurologis berkepanjangan, seperti kejang berulang atau perubahan kepribadian. Dalam situasi yang jarang terjadi, peradangan otak bahkan dapat muncul kembali berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi awal.

Selain penularan dari hewan, penyebaran virus Nipah antar-manusia juga telah terdokumentasi. Penularan ini umumnya terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas layanan kesehatan.
 

Pencegahan untuk memutus penyebaran virus Nipah


Hingga saat ini, belum tersedia terapi antivirus khusus maupun vaksin untuk mencegah infeksi virus Nipah. Penanganan pasien masih bersifat suportif, dengan fokus pada perawatan intensif dan pengendalian komplikasi.

Atas dasar potensi epidemi yang besar, WHO memasukkan virus Nipah ke dalam daftar patogen prioritas dalam cetak biru Riset dan Pengembangan global.

Karena ketiadaan vaksin, pencegahan menjadi strategi utama dalam menekan risiko penularan. Lembaga kesehatan internasional merekomendasikan beberapa langkah mitigasi.

Hal tersebut di antaranya membatasi konsumsi nira kurma mentah dan buah yang berisiko terkontaminasi, menerapkan praktik kebersihan saat menangani hewan sakit atau ternak, serta menghindari kontak langsung tanpa alat pelindung dengan penderita.

Kebiasaan mencuci tangan secara rutin juga ditekankan sebagai langkah sederhana namun efektif untuk memutus rantai penularan.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH