FITNESS & HEALTH
Air Ketuban atau Kecing? Bumil, Begini Cara Mengetahuinya
Yatin Suleha
Senin 05 Januari 2026 / 11:31
Jakarta: Ketuban bocor atau rembes adalah keluarnya cairan ketuban dari rahim melalui vagina sebelum persalinan dimulai atau saat persalinan belum waktunya
Wajar jika bertanya-tanya apakah cairan ketuban bisa bocor. Aliran cairan yang perlahan bisa terasa seperti pecahnya air ketuban, tetapi hal lain juga bisa menyebabkan perasaan ini.
Banyak wanita mengalami peningkatan lendir vagina selama kehamilan, terutama saat mendekati tanggal persalinan. Lendir tersebut bisa bening seperti cairan atau memiliki warna pink mendekati persalinan.
Infeksi jamur juga dapat meningkatkan jumlah lendir yang diproduksi. Apa yang dirasakan juga bisa jadi urine. Berat bayi yang menekan kandung kemih dapat menyebabkan kebocoran, terutama saat bergerak.
Untuk memastikan, ibu hamil bisa menggunakan pembalut dan memeriksa apakah cairan terus keluar. Jika lendir meningkat, itu normal menjelang persalinan, tapi jika ada bau atau warna aneh, sebaiknya periksa ke dokter.
Kebocoran urine sering terjadi karena tekanan bayi dan bisa diatasi dengan latihan kegel atau konsultasi medis. Jika bocor perlahan, itu mungkin tanda kecil pecah, jadi jangan abaikan.
(2).jpg)
(Ketuban bocor (pecah dini) bisa terjadi karena infeksi, riwayat persalinan prematur sebelumnya, atau perdarahan vagina. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Sulit membedakannya, terutama jika belum pernah mengalami kebocoran urine sebelumnya. Dapat mendapatkan petunjuk dari penampilan dan baunya. Urine biasanya berwarna kuning dan memiliki bau khas.
Cairan ketuban bening dan sering kali tidak berbau atau memiliki bau manis yang ringan. Dapat mencoba menggunakan pembalut bersih dan duduk atau berbaring selama sekitar 30 menit.
Jika pembalut basah pada akhir waktu tersebut, itu bisa jadi cairan ketuban. Jika kering, kemungkinan besar itu urine atau lendir. Jika tidak yakin jenis cairan apa yang keluar, konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan.
Kebocoran urine terkadang merupakan tanda infeksi kandung kemih. Di rumah sakit, penyedia layanan kesehatan dapat menguji pH cairan dan memeriksanya di bawah mikroskop untuk menentukan apakah itu cairan ketuban.
Jika benar, kemungkinan akan dirawat di rumah sakit, bahkan jika belum mengalami kontraksi. Tes ini akurat dan membantu menghindari kesalahan diagnosis, sehingga ibu hamil bisa mendapatkan perawatan yang tepat. Jika cairan berwarna hijau atau coklat, itu bisa tanda masalah dan perlu perhatian segera.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Wajar jika bertanya-tanya apakah cairan ketuban bisa bocor. Aliran cairan yang perlahan bisa terasa seperti pecahnya air ketuban, tetapi hal lain juga bisa menyebabkan perasaan ini.
Banyak wanita mengalami peningkatan lendir vagina selama kehamilan, terutama saat mendekati tanggal persalinan. Lendir tersebut bisa bening seperti cairan atau memiliki warna pink mendekati persalinan.
Infeksi jamur juga dapat meningkatkan jumlah lendir yang diproduksi. Apa yang dirasakan juga bisa jadi urine. Berat bayi yang menekan kandung kemih dapat menyebabkan kebocoran, terutama saat bergerak.
Untuk memastikan, ibu hamil bisa menggunakan pembalut dan memeriksa apakah cairan terus keluar. Jika lendir meningkat, itu normal menjelang persalinan, tapi jika ada bau atau warna aneh, sebaiknya periksa ke dokter.
Kebocoran urine sering terjadi karena tekanan bayi dan bisa diatasi dengan latihan kegel atau konsultasi medis. Jika bocor perlahan, itu mungkin tanda kecil pecah, jadi jangan abaikan.
Cara membedakan antara air ketuban pecah atau kencing
(2).jpg)
(Ketuban bocor (pecah dini) bisa terjadi karena infeksi, riwayat persalinan prematur sebelumnya, atau perdarahan vagina. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Sulit membedakannya, terutama jika belum pernah mengalami kebocoran urine sebelumnya. Dapat mendapatkan petunjuk dari penampilan dan baunya. Urine biasanya berwarna kuning dan memiliki bau khas.
Cairan ketuban bening dan sering kali tidak berbau atau memiliki bau manis yang ringan. Dapat mencoba menggunakan pembalut bersih dan duduk atau berbaring selama sekitar 30 menit.
Jika pembalut basah pada akhir waktu tersebut, itu bisa jadi cairan ketuban. Jika kering, kemungkinan besar itu urine atau lendir. Jika tidak yakin jenis cairan apa yang keluar, konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan.
Kebocoran urine terkadang merupakan tanda infeksi kandung kemih. Di rumah sakit, penyedia layanan kesehatan dapat menguji pH cairan dan memeriksanya di bawah mikroskop untuk menentukan apakah itu cairan ketuban.
Jika benar, kemungkinan akan dirawat di rumah sakit, bahkan jika belum mengalami kontraksi. Tes ini akurat dan membantu menghindari kesalahan diagnosis, sehingga ibu hamil bisa mendapatkan perawatan yang tepat. Jika cairan berwarna hijau atau coklat, itu bisa tanda masalah dan perlu perhatian segera.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)