FITNESS & HEALTH

Sorry Syndrome, Kenali Saat Seseorang Minta Maaf Terus Menerus

Medcom
Sabtu 15 Juli 2023 / 14:08
Jakarta: Kata maaf memang menjadi bentuk kesopanan yang diterapkan oleh manusia. Bahkan, kata maaf menjadi bagian '3 kata ajaib' yang terdiri atas maaf, tolong, dan terima kasih.

Minta maaf memang baik, tetapi bagaimana jika terus menerus meminta maaf atau berlebihan? Hal ini biasanya menimbulkan rasa waspada. Sehingga, pengidapnya merasa tidak aman jika belum meminta maaf terus menerus.

Ini adalah kondisi yang bernama Sorry Syndrome atau Sindrom Permintaan Maaf. Bagi seseorang yang mengalami kondisi ini, gejala yang mereka alami bisa kamu lihat dalam perilaku atau kondisi emosional.

Menurut dr. Airindya Bella dalam Alodokter, belum diketahui secara pasti apa penyebab sorry syndrome. Akan tetapi, beberapa penelitian menyatakan bahwa trauma masa lalu, seperti korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bisa menjadi salah satu penyebab sorry syndrome.

Sorry syndrome juga sering dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan sosial, gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif komplusif (OCD), gangguan kepribadian ambang (BPD), serta gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Untuk mengetahui lebih lanjut, begini ciri-ciri yang bisa kamu rasakan atau mungkin orang sekitarmu merasakan sorry syndrome ini, antara lain:

- Minta maaf pada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.
- Minta maaf atas kesalahan orang lain.
- Minta maaf kepada benda mati.
- Minta maaf saat berinteraksi dengan orang lain, misalnya saat melewati orang duduk.
- Minta maaf ketika tidak melakukan kesalahan.
- Minta maaf saat harus bertindak tegas.
- Berusaha menyenangkan orang lain (people pleaser).
- Memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Perlu kamu ketahui, maaf memang menjadi sikap yang sopan dan sebenarnya wajib diterapkan semua orang. Namun, jika minta maaf secara berlebihan, orang lain akan menganggapmu lain.

Orang lain akan menganggap kata maaf kamu tidak tulus, lalu juga mudah untuk merendahkanmu karena terus menerus minta maaf. Jadi, kamu perlu menyadari apakah memiliki sindrom ini atau tidak.
 

Bagaimana cara untuk mengendalikan sindrom minta maaf ini?


Kamu bisa belajar untuk mulai mengendalikan diri agar tidak terlalu sering minta maaf, terutama saat tidak melakukan kesalahan. Belajarlah untuk menempatkan dengan benar kapan harus menggunakan ungkapan 'maaf' dengan tepat.

Bila sindrom maaf ini disebabkan oleh kesehatan mental tertentu, orang dengan sorry syndrome perlu mendapatkan perawatan, seperti psikoterapi atau obat-obatan tertentu, dari dokter. Karena yang bisa membantu adalah tenaga profesional.

Bila kamu terus-menerus minta maaf, selalu merasa bersalah, atau bahkan merasa kehadiranmu selalu menyusahkan orang lain, sebaiknya konsultasikan ke psikolog. Terutama, saat kondisi tersebut disertai keinginan untuk mengakhiri hidup.

Aulia Putriningtias

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH