FITNESS & HEALTH
Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Potensi Penyakit Menular di Lokasi Pengungsian
Yatin Suleha
Kamis 08 Januari 2026 / 07:05
Jakarta: Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyakit menular di lokasi pengungsian yang masih menampung ratusan ribu warga terdampak bencana, khususnya penyakit campak.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemantauan penyakit dilakukan setiap hari melalui sistem pelaporan yang terintegrasi. Data tersebut menjadi dasar penyesuaian distribusi obat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan.
Berdasarkan hasil pemantauan, penyakit yang paling banyak ditemukan di pengungsian meliputi infeksi saluran pernapasan akut, penyakit kulit, dan diare.
“Obat-obatan kita sesuaikan dengan jenis penyakitnya,” ujar Menkes Budi dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Sumatra di Grha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1).
Selain penyakit umum, Kemenkes juga memberikan perhatian khusus terhadap penyakit menular dengan tingkat penularan tinggi.
“Penyakit menular yang kita amati dengan sangat dekat itu yang kita paling takut campak,” ucap Menkes Budi.
.jpg)
(Pada Desember lalu, Menkes juga sebutkan anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan keterbatasan akses layanan kesehatan memerlukan perhatian khusus. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Ia menjelaskan, campak memiliki tingkat penularan yang sangat cepat, sehingga berisiko menimbulkan wabah di lingkungan pengungsian yang padat.
Saat ini, Kemenkes telah mengidentifikasi kasus campak di lima kabupaten terdampak. Deteksi dini dilakukan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, terutama pada anak-anak.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah segera menjalankan program imunisasi khusus di wilayah yang terdeteksi.
“Kita sudah lakukan imunisasi program khusus, jalan sejak minggu ini,” ujar Menkes Budi.
Imunisasi difokuskan pada anak-anak di wilayah pengungsian serta daerah dengan risiko penularan tinggi.
Upaya pencegahan penyakit menular ini menjadi bagian penting dari penanganan bencana untuk menjaga kondisi kesehatan masyarakat tetap terkendali selama masa pemulihan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemantauan penyakit dilakukan setiap hari melalui sistem pelaporan yang terintegrasi. Data tersebut menjadi dasar penyesuaian distribusi obat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan.
Berdasarkan hasil pemantauan, penyakit yang paling banyak ditemukan di pengungsian meliputi infeksi saluran pernapasan akut, penyakit kulit, dan diare.
Baca Juga :
Pemulihan Layanan Kesehatan di RSUD Langsa Terus Berlangsung secara Bertahap Pascabanjir
“Obat-obatan kita sesuaikan dengan jenis penyakitnya,” ujar Menkes Budi dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Sumatra di Grha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1).
Selain penyakit umum, Kemenkes juga memberikan perhatian khusus terhadap penyakit menular dengan tingkat penularan tinggi.
“Penyakit menular yang kita amati dengan sangat dekat itu yang kita paling takut campak,” ucap Menkes Budi.
.jpg)
(Pada Desember lalu, Menkes juga sebutkan anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan keterbatasan akses layanan kesehatan memerlukan perhatian khusus. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Ia menjelaskan, campak memiliki tingkat penularan yang sangat cepat, sehingga berisiko menimbulkan wabah di lingkungan pengungsian yang padat.
Saat ini, Kemenkes telah mengidentifikasi kasus campak di lima kabupaten terdampak. Deteksi dini dilakukan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, terutama pada anak-anak.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah segera menjalankan program imunisasi khusus di wilayah yang terdeteksi.
“Kita sudah lakukan imunisasi program khusus, jalan sejak minggu ini,” ujar Menkes Budi.
Imunisasi difokuskan pada anak-anak di wilayah pengungsian serta daerah dengan risiko penularan tinggi.
Upaya pencegahan penyakit menular ini menjadi bagian penting dari penanganan bencana untuk menjaga kondisi kesehatan masyarakat tetap terkendali selama masa pemulihan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)