Jakarta: Upaya pemulihan pascabencana terus dilakukan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Tim Relawan Solidarity for Humanity Jhonlin Group kembali turun langsung membantu masyarakat dengan melakukan revitalisasi muara Sungai Kuala Peunaga yang terdampak banjir.
Melalui proyek pengerukan atau dragging, Jhonlin Group berupaya mengatasi pendangkalan akibat sedimentasi yang menutup akses nelayan ke laut.
Seperti diketahui, material sedimen yang terbawa banjir sebelumnya menghambat aktivitas masyarakat pesisir, terutama para nelayan yang bergantung pada jalur muara tersebut.
Normalisasi muara untuk pulihkan aktivitas nelayan
Program ini difokuskan pada pengerukan sedimen agar kedalaman dan lebar alur muara kembali optimal.
"Kita dalam rangka Solidarity for Humanity. Kita ke sini itu karena kita harus mengeruk atau dragging sedimen yang memang menumpuk pasca banjir Sumatera kemarin ya. Jadi kita berharap dengan kita normalisasi alur ini dengan kedalaman 6, lebar 70, mungkin panjangnya bisa 5 kilometer," kata salah satu tim Solidarity for Humanity dikutip pada Kamis, 26 Februari 2026.
Dengan normalisasi tersebut, diharapkan nelayan bisa kembali beraktivitas tanpa harus menunggu pasang surut air laut.
"Berharap khususnya ya masyarakat di pesisir sungai yang bisa keluar masuk untuk mencari ikan tanpa harus menunggu pasang surut. Tujuan utama dilakukannya proyek pengerukan ini adalah untuk memulihkan kedalaman muara sehingga masyarakat pesisir bisa kembali beraktivitas secara normal tanpa bergantung pada pasang surut," ucap tim Solidarity for Humanity.
Target pengerjaan hingga 1,5 tahun
Proyek pengerukan ini direncanakan berjalan secara bertahap. Estimasi waktu pengerjaan diproyeksikan sekitar satu hingga satu setengah tahun.
"Pengerjaan dragging sepanjang 5 kilometer, estimasi pengerjaan kita kurang lebih 1 tahun atau 1,5 tahun. Kita usahakan secepat mungkin supaya alur ini bisa bermanfaat bagi para nelayan khususnya nelayan tamyang saat melaut bisa membawa hasil tangkapan ikan sesuai dengan waktunya supaya ikan-ikan tidak mengalami kerusakan," jelasnya.
Dengan alur muara yang kembali normal, kapal nelayan diharapkan dapat keluar masuk dengan lancar dan hasil tangkapan ikan bisa segera dibawa ke darat dalam kondisi segar.
Perkuat ketahanan kawasan pesisir
Selain mengembalikan fungsi muara sebagai jalur transportasi laut bagi nelayan, proyek ini juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan kawasan pesisir dari dampak sedimentasi berulang di masa mendatang.
Revitalisasi ini menjadi bagian dari komitmen kemanusiaan dan lingkungan yang diusung Jhonlin Group melalui gerakan Solidarity for Humanity, terutama dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.
Jakarta: Upaya pemulihan pascabencana terus dilakukan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Tim Relawan Solidarity for Humanity Jhonlin Group kembali turun langsung membantu masyarakat dengan melakukan revitalisasi muara Sungai Kuala Peunaga yang terdampak
banjir.
Melalui proyek pengerukan atau dragging, Jhonlin Group berupaya mengatasi pendangkalan akibat sedimentasi yang menutup akses nelayan ke laut.
Seperti diketahui, material sedimen yang terbawa banjir sebelumnya menghambat aktivitas masyarakat pesisir, terutama para nelayan yang bergantung pada jalur muara tersebut.
Normalisasi muara untuk pulihkan aktivitas nelayan
Program ini difokuskan pada pengerukan sedimen agar kedalaman dan lebar alur muara kembali optimal.
"Kita dalam rangka Solidarity for Humanity. Kita ke sini itu karena kita harus mengeruk atau dragging sedimen yang memang menumpuk pasca banjir Sumatera kemarin ya. Jadi kita berharap dengan kita normalisasi alur ini dengan kedalaman 6, lebar 70, mungkin panjangnya bisa 5 kilometer," kata salah satu tim Solidarity for Humanity dikutip pada Kamis, 26 Februari 2026.
Dengan normalisasi tersebut, diharapkan nelayan bisa kembali beraktivitas tanpa harus menunggu pasang surut air laut.
"Berharap khususnya ya masyarakat di pesisir sungai yang bisa keluar masuk untuk mencari ikan tanpa harus menunggu pasang surut. Tujuan utama dilakukannya proyek pengerukan ini adalah untuk memulihkan kedalaman muara sehingga masyarakat pesisir bisa kembali beraktivitas secara normal tanpa bergantung pada pasang surut," ucap tim Solidarity for Humanity.
Target pengerjaan hingga 1,5 tahun
Proyek pengerukan ini direncanakan berjalan secara bertahap. Estimasi waktu pengerjaan diproyeksikan sekitar satu hingga satu setengah tahun.
"Pengerjaan dragging sepanjang 5 kilometer, estimasi pengerjaan kita kurang lebih 1 tahun atau 1,5 tahun. Kita usahakan secepat mungkin supaya alur ini bisa bermanfaat bagi para nelayan khususnya nelayan tamyang saat melaut bisa membawa hasil tangkapan ikan sesuai dengan waktunya supaya ikan-ikan tidak mengalami kerusakan," jelasnya.
Dengan alur muara yang kembali normal, kapal nelayan diharapkan dapat keluar masuk dengan lancar dan hasil tangkapan ikan bisa segera dibawa ke darat dalam kondisi segar.
Perkuat ketahanan kawasan pesisir
Selain mengembalikan fungsi muara sebagai jalur transportasi laut bagi nelayan, proyek ini juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan kawasan pesisir dari dampak sedimentasi berulang di masa mendatang.
Revitalisasi ini menjadi bagian dari komitmen kemanusiaan dan lingkungan yang diusung Jhonlin Group melalui gerakan Solidarity for Humanity, terutama dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)