FITNESS & HEALTH
Data: 8 dari 10 Anak Indonesia Kekurangan DHA, Sebaiknya Lakukan Apa?
Aulia Putriningtias
Senin 10 Agustus 2026 / 12:00
- DHA atau docosahexaenoic acid adalah jenis asam lemak omega-3 yang sangat penting untuk pertumbuhan.
- Sekitar 8 dari 10 anak Indonesia usia 4-12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah tingkat minimum.
- Kebiasaan dan pilihan makanan dan minuman anak yang memasuki usia sekolah mulai berubah.
Jakarta: Parents, mungkin kita sering mendengar perihal kepentingan DHA untuk tumbuh kembang anak. Sebenarnya seberapa penting, sih?
DHA atau docosahexaenoic acid adalah jenis asam lemak omega-3 yang sangat penting untuk pertumbuhan, fungsi otak, dan kesehatan mata. Nutrisi ini merupakan komponen utama penyusun jaringan saraf di dalam otak dan retina mata manusia.
Fakta mengejutkan sekaligus alarm untuk kita bahwa sekitar 8 dari 10 anak Indonesia usia 4-12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah tingkat minimum yang direkomendasikan FAO/WHO. Data ini berasal dari publikasi British Journal of Nutrition pada tahun 2016.
Padahal, DHA sebagai salah satu asam lemak omega-3 memiliki peran penting dalam perkembangan dan fungsi sistem saraf, termasuk otak. Temuan ini menjadi semakin relevan ketika kebiasaan dan pilihan makanan dan minuman anak yang memasuki usia sekolah mulai berubah.
Ketika anak memasuki jenjang sekolah dasar, umumnya di rentang usia 7 hingga 12 tahun, preferensi minuman mereka berubah drastis. Minuman bercita rasa seperti minuman cokelat, teh kemasan, hingga minuman ringan menjadi pilihan utama.
Sayangnya, susu yang selama ini menjadi sumber utama nutrisi penting mulai ditinggalkan. Padahal, susu selama ini dikenal sebagai salah satu sumber DHA yang mudah dikonsumsi oleh anak-anak.
Menurut dr. Shyrien Amalina MSc, SpA, Dokter Spesialis Anak, ketika konsumsi susu turun drastis, asupan DHA pun ikut merosot sementara kebutuhan otak anak di usia ini justru tengah berada di puncaknya.
"DHA penting bagi anak usia sekolah dan remaja untuk mendukung proses pembelajaran serta pematangan fungsi otak," ungkapnya kepada tim Medcom.id.
Meski 1000 hari pertama kelahiran merupaka terpenting, proses mielinisasi korteks prefrontal, yang berperan dalam atensi, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls masih terus berlangsung hingga masa remaja.
"Oleh karena itu. asupan AA dan DHA yang memadai dapat mendukung fungsi eksekutif, konsentrasi, regulasi perilaku dan emosi, serta plastisitas sinaptik yang berperan dalam proses belajar dan memori," lanjutnya.
Menurut data an dihimpu oleh berbagai lembaga kesehatan anak, defisiensi DHA pada anak usia sekolah dapat mempengaruhi kemampuan belajar, daya ingat, hingga regulasi emosi. Namun, masih banyak yang tidak menyadarinya.
Dr. Shyrien menambahkan bahwa peran orang tua dalam memilih asupan anak diperlukan. Orang tua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan rasa yang disukai, tetapi juga kandungan nutrisinya.
"Rasa memang memengaruhi penerimaan anak, sehingga pilihan minuman bernutrisi termasuk yang mengandung DHA, idealnya tetap hadir dalam format ang dapat diterima dan dinikmati anak tanpa paksaan," jelasnya.
Anak-anak yang tumbuh dengan kecukupan DHA optimal memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang menidi generas yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing tinggi.
Masalah kekurangan DHA pada anak Indonesia bukan sekadar isu gizi individual; ini adalah isu generasi. Orang tua, tenaga kesehatan, dan pelaku industri pangan diharapkan dapat bersinergi untuk menciptakan ekosistem gizi yang mendukung tumbuh embang optimal anak Indonesia.
(TIN)
DHA atau docosahexaenoic acid adalah jenis asam lemak omega-3 yang sangat penting untuk pertumbuhan, fungsi otak, dan kesehatan mata. Nutrisi ini merupakan komponen utama penyusun jaringan saraf di dalam otak dan retina mata manusia.
Fakta mengejutkan sekaligus alarm untuk kita bahwa sekitar 8 dari 10 anak Indonesia usia 4-12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah tingkat minimum yang direkomendasikan FAO/WHO. Data ini berasal dari publikasi British Journal of Nutrition pada tahun 2016.
Padahal, DHA sebagai salah satu asam lemak omega-3 memiliki peran penting dalam perkembangan dan fungsi sistem saraf, termasuk otak. Temuan ini menjadi semakin relevan ketika kebiasaan dan pilihan makanan dan minuman anak yang memasuki usia sekolah mulai berubah.
Masalah kebiasaan anak dalam memilih minuman
Ketika anak memasuki jenjang sekolah dasar, umumnya di rentang usia 7 hingga 12 tahun, preferensi minuman mereka berubah drastis. Minuman bercita rasa seperti minuman cokelat, teh kemasan, hingga minuman ringan menjadi pilihan utama.
Sayangnya, susu yang selama ini menjadi sumber utama nutrisi penting mulai ditinggalkan. Padahal, susu selama ini dikenal sebagai salah satu sumber DHA yang mudah dikonsumsi oleh anak-anak.
Menurut dr. Shyrien Amalina MSc, SpA, Dokter Spesialis Anak, ketika konsumsi susu turun drastis, asupan DHA pun ikut merosot sementara kebutuhan otak anak di usia ini justru tengah berada di puncaknya.
"DHA penting bagi anak usia sekolah dan remaja untuk mendukung proses pembelajaran serta pematangan fungsi otak," ungkapnya kepada tim Medcom.id.
Meski 1000 hari pertama kelahiran merupaka terpenting, proses mielinisasi korteks prefrontal, yang berperan dalam atensi, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls masih terus berlangsung hingga masa remaja.
"Oleh karena itu. asupan AA dan DHA yang memadai dapat mendukung fungsi eksekutif, konsentrasi, regulasi perilaku dan emosi, serta plastisitas sinaptik yang berperan dalam proses belajar dan memori," lanjutnya.
Pentingnya pemilihan asupan DHA di usia sekolah
Menurut data an dihimpu oleh berbagai lembaga kesehatan anak, defisiensi DHA pada anak usia sekolah dapat mempengaruhi kemampuan belajar, daya ingat, hingga regulasi emosi. Namun, masih banyak yang tidak menyadarinya.
Dr. Shyrien menambahkan bahwa peran orang tua dalam memilih asupan anak diperlukan. Orang tua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan rasa yang disukai, tetapi juga kandungan nutrisinya.
"Rasa memang memengaruhi penerimaan anak, sehingga pilihan minuman bernutrisi termasuk yang mengandung DHA, idealnya tetap hadir dalam format ang dapat diterima dan dinikmati anak tanpa paksaan," jelasnya.
Anak-anak yang tumbuh dengan kecukupan DHA optimal memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang menidi generas yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing tinggi.
Masalah kekurangan DHA pada anak Indonesia bukan sekadar isu gizi individual; ini adalah isu generasi. Orang tua, tenaga kesehatan, dan pelaku industri pangan diharapkan dapat bersinergi untuk menciptakan ekosistem gizi yang mendukung tumbuh embang optimal anak Indonesia.
(TIN)