FITNESS & HEALTH
Minum Minuman Manis Sebabkan Fatty Liver? Ini Jawaban Dokter
Aulia Putriningtias
Selasa 27 Oktober 2026 / 18:37
- Menurut Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG, konsumsi minuman manis secara berlebihan merupakan salah satu penyebab fatty liver.
- Fatty liver atau perlemakan hati sendiri adalah kondisi penumpukan lemak berlebih di dalam sel-sel hati.
- Ketika berat lemak sudah melebihi 5 hingga 10 persen dari total berat organ hati, diklasifikasikan sebagai fatty liver.
Jakarta: Sobat Medcom, siapa di sini yang suka dengan minuman manis? Ternyata ada fakta bahwa minum minuman manis berisiko fatty liver, apakah benar?
Menurut Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG Konsultan Gastroenterohepatoloai Eka Hospital MT Haryono, konsumsi minuman manis secara berlebihan merupakan salah satu penyebab fatty liver.
"(Hal ini) karena kandungan gula, khususnya fruktosa, akan langsung diproses oleh organ hati dan diubah menjadi cadangan lemak," katanya kepada tim Medcom.id.
Fatty liver atau perlemakan hati sendiri adalah kondisi penumpukan lemak berlebih di dalam sel-sel hati yang perlahan dapat mengganggu fungsi organ tersebut. Ketika berat lemak sudah melebihi 5 hingga 10 persen dari total berat organ hati, kondisi tersebut secara medis diklasifikasikan sebagai fatty liver.
Meningkatnya kasus fatty liver atau Metabolic dvsfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Peningkatan kasus perlemakan hati ini sangat berhubungan dengan gaya hidup modern yang sarat oleh pola makan tinggi kalori, konsumsi makanan ultra-proses, dan kurangnya aktivitas fisik harian (sedentary lifestyle).
Hampir seluruh fruktosa yang masuk ke dalam tubuh harus dimetabolisme di dalam hati. Ketika Anda minum minuman manis dalam jumlah besar, organ hati akan kewalahan memproses lonjakan fruktosa tersebut.
"Hati mau tidak mau akan mengubah kelebihan fruktosa menjadi trigliserida (lemak) melaluj proses yang disebut lipogenesis de novo. Lemak-lemak baru ini kemudian menumpuk di dalam sel-sel hati," jelasnya.
Pertanyaan lainnya, apakah bisa sembuh? Sebelum berbicara soal sembuh atau tidak, fatty liver sebenarnya tidak boleh diabaikan. Hal ini karena penumpukan lemak yang dibiarkan bertahun-tahun akan memicu peradangan kronis yang perlahan menghancurkan sel-sel hati sehat dan mengubahnya menjadi jaringan parut (fibrosis).
Mengingat gejala fatty liver yang sangat minim, skrining dini adalah kunci utama. Tes darah untuk enzim hati (seperti SGOT dan SGPT) memang dapat mendeteksi adanya peradangan, namun enzim hati yang normal tidak selalu menjamin hati bebas dari tumpukan lemak.
Oleh karena itu, pemeriksaan pencitraan sangat dibutuhkan. Eka Hospital MT Haryono dilengkapi dengan fasilitas FibroScan, yakni teknologi ultrasound khusus yang diakui secara global sebagai standar emas non-invasif untuk memeriksa hati.
FibroScan mampu mengukur dua hal sekaligus secara cepat, akurat, dan tanpa rasa sakit: tingkat tumpukan lemak (steatosis) dan tingkat kekakuan hati (fibrosis). Evaluasi menggunakan FibroScan sangat membantu dokter dalam menentukan stadium penyakit dan merencanakan terapi yang paling presisi.
Selain pengobatan, pencegahan dan penanganan fatty liver berpusat pada mengganti gaya hidup secara konsisten, terutama membatasi asupan gula harian, meningkatkan aktivitas fisik, dan menurunkan berat badar secara bertahap bagi penderita obesitas.
Ia menegaskan bahwa obat terbaik untuk fatty liver pada tahap awal bukanlah pil atau suplemen, melainkan perubahan pola makan. Kamu dapat mulai dengan langkah-langkah berikut:
(TIN)
Menurut Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG Konsultan Gastroenterohepatoloai Eka Hospital MT Haryono, konsumsi minuman manis secara berlebihan merupakan salah satu penyebab fatty liver.
"(Hal ini) karena kandungan gula, khususnya fruktosa, akan langsung diproses oleh organ hati dan diubah menjadi cadangan lemak," katanya kepada tim Medcom.id.
Fatty liver atau perlemakan hati sendiri adalah kondisi penumpukan lemak berlebih di dalam sel-sel hati yang perlahan dapat mengganggu fungsi organ tersebut. Ketika berat lemak sudah melebihi 5 hingga 10 persen dari total berat organ hati, kondisi tersebut secara medis diklasifikasikan sebagai fatty liver.
Meningkatnya kasus fatty liver atau Metabolic dvsfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Peningkatan kasus perlemakan hati ini sangat berhubungan dengan gaya hidup modern yang sarat oleh pola makan tinggi kalori, konsumsi makanan ultra-proses, dan kurangnya aktivitas fisik harian (sedentary lifestyle).
Hampir seluruh fruktosa yang masuk ke dalam tubuh harus dimetabolisme di dalam hati. Ketika Anda minum minuman manis dalam jumlah besar, organ hati akan kewalahan memproses lonjakan fruktosa tersebut.
"Hati mau tidak mau akan mengubah kelebihan fruktosa menjadi trigliserida (lemak) melaluj proses yang disebut lipogenesis de novo. Lemak-lemak baru ini kemudian menumpuk di dalam sel-sel hati," jelasnya.
Pertanyaan lainnya, apakah bisa sembuh? Sebelum berbicara soal sembuh atau tidak, fatty liver sebenarnya tidak boleh diabaikan. Hal ini karena penumpukan lemak yang dibiarkan bertahun-tahun akan memicu peradangan kronis yang perlahan menghancurkan sel-sel hati sehat dan mengubahnya menjadi jaringan parut (fibrosis).
Mengingat gejala fatty liver yang sangat minim, skrining dini adalah kunci utama. Tes darah untuk enzim hati (seperti SGOT dan SGPT) memang dapat mendeteksi adanya peradangan, namun enzim hati yang normal tidak selalu menjamin hati bebas dari tumpukan lemak.
Oleh karena itu, pemeriksaan pencitraan sangat dibutuhkan. Eka Hospital MT Haryono dilengkapi dengan fasilitas FibroScan, yakni teknologi ultrasound khusus yang diakui secara global sebagai standar emas non-invasif untuk memeriksa hati.
FibroScan mampu mengukur dua hal sekaligus secara cepat, akurat, dan tanpa rasa sakit: tingkat tumpukan lemak (steatosis) dan tingkat kekakuan hati (fibrosis). Evaluasi menggunakan FibroScan sangat membantu dokter dalam menentukan stadium penyakit dan merencanakan terapi yang paling presisi.
Selain pengobatan, pencegahan dan penanganan fatty liver berpusat pada mengganti gaya hidup secara konsisten, terutama membatasi asupan gula harian, meningkatkan aktivitas fisik, dan menurunkan berat badar secara bertahap bagi penderita obesitas.
Ia menegaskan bahwa obat terbaik untuk fatty liver pada tahap awal bukanlah pil atau suplemen, melainkan perubahan pola makan. Kamu dapat mulai dengan langkah-langkah berikut:
1. Kurangi gula tambahan
Hentikan atau kurangi secara drastis kebiasaan mengonsumsi minuman manis, soda, jus buah kemasan, dan camilan manis. Ganti dengan air putih teh tanpa gula, atau kopi hitam.2. Turunkan berat badan:
Penurunan berat badan sebesar 7 hingga 10 persen dari total berat tubuh terbukti secara medis mampu mengurangi peradangan hati dan menguras tumpukan lemak. Lakukan secara bertahap, hindari diet ekstrem yang menurunkan berat badan terlalu drastis karena justru dapat memperburuk peradangan hati.3. Diet mediterania
Perbanyak asupan sayuran, buah utuh kaya serat, biji-bijian, dan lemak sehat (seperti minyak zaitun dan alpukat). Hindari makanan ultra proses dan lemak trans.(TIN)