FITNESS & HEALTH

Kemenkes: Pakai AI Kesehatan Tak Boleh Asal, Wajib Ketat & Beretika!

Yatin Suleha
Selasa 09 Juni 2026 / 19:03
Ringkasnya gini..
  • Wamenkes Dante Saksono Harbuwonoingatkan kalau pakai AI di dunia medis itu gak boleh asal-asalan.
  • Menurut Dante, penerapan AI di bidang kesehatan bukan sekadar soal kecanggihan teknologi, melainkan menyangkut hidup dan nyawa manusia.
  • Pemanfaatannya harus dibarengi tata kelola yang kuat, aturan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta komitmen etika.
Jakarta: Wamenkes Dante Saksono Harbuwono saat buka Konferensi Nasional AI Kesehatan di Jakarta, Senin (8/6) kemarin, ingatkan kalau pakai AI di dunia medis itu gak boleh asal-asalan.

Soalnya, ini menyangkut keselamatan dan nyawa pasien, jadi taruhannya gede banget alias gak bisa dibuat main-main!

“Ketika sebuah program komputer merekomendasikan diagnosis kepada seorang dokter, siapa yang bertanggung jawab jika rekomendasinya salah? Pertanyaan inilah yang membawa kita semua ke ruangan ini hari ini,” kata Dante.

Menurut Dante, penerapan AI di bidang kesehatan bukan sekadar soal kecanggihan teknologi, melainkan menyangkut hidup dan nyawa manusia. Karena itu, pemanfaatannya harus dibarengi tata kelola yang kuat, aturan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta komitmen etika yang tidak bisa ditawar.
 
Ia mengakui AI membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, mulai dari mendeteksi penyakit lebih dini, mempercepat diagnosis, hingga mengolah data kesehatan dalam jumlah besar. 

Namun, teknologi ini juga membawa risiko, seperti hasil yang bias atau keliru, kesalahan diagnosis, hingga ancaman terhadap keamanan data pasien yang bersifat pribadi.

Dante menegaskan, pemanfaatan AI di sektor kesehatan bukan lagi sekadar rencana, melainkan sudah berjalan di lapangan.
 

Sejak 2023, Kemenkes telah gunakan AI 




(Wamenkes Dante Saksono Harbuwono mengatakan pemanfaatan AI  harus dibarengi tata kelola yang kuat, aturan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta komitmen etika yang tidak bisa ditawar. Foto: Ilustrasi/Dok. Pexels.com)

Sejak 2023, Kemenkes telah menggunakan AI untuk mendeteksi Tuberkulosis (TB) melalui alat rontgen portabel berteknologi AI. Hingga 2025, sekitar 200 ribu warga telah diperiksa menggunakan teknologi tersebut. Selain itu, sejumlah uji coba AI juga menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Pada deteksi kanker paru bersama Harrison.ai, tingkat ketepatan AI dalam menemukan kasus mencapai 90 persen, lebih tinggi dibanding pembacaan dokter radiologi tanpa bantuan AI yang berada di angka 83 persen.

Sementara itu, pada deteksi stroke melalui CT scan otak bersama RSUP Dr. M. Djamil dan RS Pusat Otak Nasional, tingkat ketepatan AI dalam memastikan pasien yang benar-benar sehat mencapai 98 persen, dibandingkan 74 persen pada pembacaan manual.

Adapun pada skrining TB massal bersama Qure.ai, dari 38 ribu pemeriksaan, AI berhasil menemukan 4 ribu orang yang diduga TB sekaligus mendeteksi 12 ribu kelainan paru lainnya.

“Data ini membuktikan satu hal: AI tidak hanya mendeteksi satu penyakit, tetapi membuka peluang yang lebih besar untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pasien,” ujar Dante.

Meski manfaatnya nyata, Dante menekankan teknologi harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang baik agar risikonya dapat ditekan.

“Inovasi tanpa tata kelola adalah risiko. Dan tata kelola tanpa inovasi adalah stagnasi,” tegasnya.

Ia berharap forum ini bisa menghasilkan rekomendasi yang konkret dan bukan sekadar wacana. Mulai dari aturan main alat medis berbasis AI, tata kelola data, wajibnya persetujuan pasien sebelum datanya dipakai, sampai penguatan kapasitas Komite Etik buat nge-review riset-riset AI.

Fyi, Konferensi Nasional bertajuk "Menuju Masa Depan Ekosistem Kecerdasan Buatan Kesehatan yang Aman, Adil, dan Bertanggung Jawab" ini digelar barengan sama workshop tentang panduan etik, patient consent, dan tata kelola data AI medis. Acaranya sendiri diadakan di Ruang Leimena, Gedung Adhyatma, Jakarta Selatan.
 
Di momen yang sama, Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, juga nge-spill kalau dunia kita sekarang emang lagi dikontrol banget sama AI. Teknologi ini bener-bener mengubah cara kita hidup, kerja, sampai cara ambil keputusan—termasuk dalam urusan pelayanan kesehatan.

Menurutnya, AI telah menunjukkan manfaat nyata, mulai dari membantu diagnosis penyakit, mengembangkan pengobatan yang lebih sesuai bagi tiap pasien, hingga penggunaan robot di bidang kesehatan.

Namun, manfaat tersebut harus diimbangi perhatian serius terhadap keamanan data masyarakat.

“Penelitian ke depan harus didahului oleh suatu wadah yang mengawasi. Karena itu, Kementerian Kesehatan membentuk SATUSEHAT dan SATUSEHAT AI untuk menjaga agar data masyarakat Indonesia tidak disalahgunakan atau dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” terang Azhar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH