FITNESS & HEALTH

Hindari Kemandulan, Remaja Perlu Deteksi Dini Kesehatan Hormon

A. Firdaus
Jumat 16 Januari 2026 / 12:10
Jakarta: Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti Aging dari Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM, mengungkapkan bahwa gangguan hormon tidak hanya dialami oleh orang dewasa atau lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak dan remaja.

Menurut Prof. Wimpie, paparan bahan beracun dan gaya hidup tidak sehat menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gangguan hormon sejak usia muda. Termasuk penurunan hormon testosteron.

“Bukan berarti anak-anak dan remaja tidak ada yang mengalami kekurangan hormon. Akibat bahan beracun, banyak juga anak-anak dan remaja yang mengalami kekurangan testosteron dan hormon lainnya,” kata Prof. Wimpie dilansir Antara.
Gangguan hormon yang tidak ditangani sejak dini, lanjut dia, dapat berdampak pada perkembangan organ reproduksi yang tidak optimal. Prof. Wimpie mencontohkan kasus remaja dengan kadar testosteron rendah yang baru terdeteksi setelah memasuki usia remaja akhir.

“Ada pasien usia 17 tahun, ukuran penisnya kurang dari satu sentimeter karena hormon testosteronnya rendah. Setelah mendapatkan pengobatan, ukuran penisnya bertambah menjadi tiga sentimeter, tetapi testisnya tetap tidak berubah,” jelasnya.

Prof. Wimpie menegaskan, terapi hormon testosteron pada penderita mikropenis yang baru dilakukan saat dewasa berisiko menyebabkan kemandulan. Hal tersebut terjadi karena terapi hanya berdampak pada pembesaran penis, sementara fungsi testis tidak berkembang secara optimal.

“Kalau terapi dilakukan terlambat, penisnya bisa membesar, tapi testisnya tidak berkembang. Artinya, dia bisa berhubungan seksual, tapi tidak bisa membuahi,” ujarnya.

Karena itu, Prof. Wimpie menyarankan orang tua untuk melakukan pemeriksaan lebih awal apabila terdapat perubahan yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangan normal anak. Idealnya, pemeriksaan dilakukan sebelum anak memasuki usia remaja, yakni pada usia 12 hingga 13 tahun, atau maksimal 14 tahun.

“Maksimal 14 tahun. Sebelum usia itu masih bisa diintervensi. Setelah lewat usia tersebut, pengobatan biasanya harus dilakukan seumur hidup dan risikonya adalah kemandulan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Wimpie juga mengingatkan masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap isu seksualitas. Menurutnya, fungsi seksual bukan semata-mata soal aktivitas seks, melainkan indikator penting kondisi kesehatan seseorang.

“Kalau kita bicara seks jangan dianggap tabu. Yang penting justru apa yang ada di balik gangguan seks itu. Misalnya, gangguan ereksi pada pria bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain,” katanya.

Senada dengan hal tersebut, Dokter Anti Aging Specialist Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AMM), menekankan pentingnya peran orang tua dalam memantau perkembangan organ reproduksi anak, khususnya pada anak laki-laki.

“Sejak usia lima tahun sebenarnya sudah bisa terlihat. Tapi tentu harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan fisik dan laboratorium,” ujar Ivonne.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan sehat dengan mengutamakan makanan alami (real food) dan membatasi konsumsi makanan cepat saji. Peningkatan lemak tubuh akibat pola makan tidak sehat dapat memicu penurunan hormon yang berdampak jangka panjang, terutama pada fungsi seksual dan reproduksi.

Menurut Ivonne, hormon seperti testosteron kerap disalahartikan hanya berfungsi untuk aktivitas seksual. Padahal, gejala testosteron rendah bisa ditandai dengan penurunan energi, performa fisik yang melemah, mudah lelah, hingga pertumbuhan otot yang tidak optimal meski rutin berolahraga.

“Hormon itu sangat penting bagi tubuh. Kita bisa tertawa, menangis, dan merasakan emosi karena hormon. Penuaan terjadi karena hormon menurun, bukan sebaliknya,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH