FITNESS & HEALTH

Perbedaan Sariawan dengan Kanker Mulut

Raka Lestari
Sabtu 14 November 2020 / 10:02
Jakarta: Sariawan merupakan salah satu gangguan pada mulut yang cukup sering dialami. Jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik, peradangan tersebut bisa membahayakan bahkan bisa berujung pada kanker mulut. Akan tetapi, sariawan dan kanker mulut merupakan dua hal yang berbeda.

“Sariawan tidak termasuk penyakit mulut yang serius dan tidak berbahaya, sehingga perawatannya kerap dianggap sebelah mata," ujar dr.Rusmawati,Sp. PM dari RS Mitra Keluarga Bintaro, dalam acara Media Webinar Kalbe "Membedakan Sariawan Biasa dan Kanker Mulut" pada Jumat, 13 November 2020.

Menurut dr. Rusmawati, secara umum kita harus bisa membedakan sariawan biasa dengan kanker. Yaitu waktu penyembuhan sariawan, tingkat kesakitan, lokasi sariawan, meraba sekitar luka sariawan serta melihat perubahan warna ada bercak putih dan merah atau tidak di rongga mulut.

“Beberapa hal yang merupakan gejala kanker mulut yakni sariawan lebih dari 1 bulan, rasa sakit di rongga mulut yang tidak sembuh, pembengkakan pada dagu akibat pembengkakan kelenjar limfa submandibular. Adanya rasa ganjal di tenggorakan yang tidak hilang, kesulitan mengunyah dan menelan, gigi goyang/tanggal di sekitar tumor, benjolan pada leher, penurunan berat badan dan bau mulut,” lanjut dr.Rusmawati.

Untuk itu, penting sekali menjaga kesehatan mulut agar tidak menyebabkan sariawan atau berbagai macam penyakit yang berkaitan dengan kesehatan mulut kita. Dengan menjaga kesehatan mulut, selain mencegah sariawan juga tentunya dapat mencegah risiko terjadinya kanker mulut.

“Dalam menjaga kesehatan mulut, kita bisa melakukannya secara mandiri melalui gerakan Sa-Mu-Ri (Periksa Mulut Sendiri) yang terdiri dari beberapa langkah. Yaitu cuci tangan hingga bersih, berdiri di depan cermin, periksa bibir bagian atas dan bawah, periksa gusi atas dan bawah, periksa pipi bagian kanan dan kiri, periksa lidah bagian atas dan bawah, periksa rongga mulut atas dan bawah, periksa lidah sisi kanan dan kiri serta periksa kelincahan, kekakuan dan pergerakan lidah,” tambah dr.Rusmawati.

Kanker mulut memang masih terbilang jarang terjadi di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasa (Riskesdas) 2018, tercatat 5,6 persen dari total kasus kanker. Akan tetapi, diperkirakan akanmeningkat 21,5 persen di tahun 2020 akibat kurangnya deteksi dini dan gejala yang kerap diabaikan.
(YDH)

MOST SEARCH