5 Mitos Eksim yang Masih Dipercaya, Salah Satunya Bisa Menular!
- Kondisi kulit eksim kerap dikaitkan dengan berbagai anggapan.
- Hal ini mulai dari bisa menular lewat sentuhan hingga penderita harus menghindari banyak jenis makanan.
- Padahal, tidak semua anggapan dari anggapan eksim adalah benar.
Jakarta: Sobat Medcom, tak semua penyakit kulit memiliki fakta-fakta yang jelas. Eksim atau dermatitis atopik masih sering disalahpahami. Apa saja, ya?
Kondisi kulit eksim kerap dikaitkan dengan berbagai anggapan. Hal ini mulai dari bisa menular lewat sentuhan hingga penderita harus menghindari banyak jenis makanan.
Padahal, tidak semua anggapan tersebut benar. Eksim merupakan kondisi kulit yang dapat kambuh dan membutuhkan perawatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing penderita.
Baca Juga :
Ketahui Ini Penyebab hingga Cara Atasi Eksim
Karena itu, penting mengetahui fakta di balik mitos yang beredar agar penderita eksim tidak melakukan pembatasan atau perawatan yang justru tidak diperlukan. Lantas, apa saja mitos eksim yang masih banyak dipercaya masyarakat? Inilah beberapa daftarnya, antara lain:
1. Mitos eksim menular
Salah satu mitos yang paling sering beredar adalah eksim dapat menular melalui kontak fisik. Padahal, eksim tidak disebabkan oleh infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
Dermatitis atopik berkaitan dengan kondisi atopi atau kecenderungan seseorang mengalami penyakit alergi tertentu. Kecenderungan tersebut dapat diturunkan dalam keluarga, tetapi berbeda dengan penularan.
2. Mitos perlu hindari banyak makanan
Makanan tertentu juga sering dianggap sebagai penyebab eksim. Padahal, tidak semua penderita eksim harus langsung menghindari berbagai jenis makanan.
Makanan memang dapat berkaitan dengan alergi pada sebagian orang. Namun, pantangan sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan tanpa mengetahui apakah seseorang memang memiliki alergi terhadap makanan tertentu.
Pemeriksaan alergi dapat dilakukan untuk mengetahui makanan yang menjadi pencetus. Makanan seperti seafood, telur, dan produk olahan susu tidak serta-merta menyebabkan eksim. Beberapa makanan memang dapat memperparah kondisi, tetapi bukan berarti penyebab utama.
3. Mitos dapat sembuh total
Ketika kulit sudah kembali mulus dan rasa gatal menghilang, bukan berarti eksim telah sembuh total. Dermatitis atopik memiliki sifat kambuhan, terutama apabila faktor pencetus masih ada.
Karena itu, kondisi kulit yang sudah membaik tetap perlu dirawat. Perawatan ditujukan untuk menjaga skin barrier dan membantu mencegah kekambuhan.
4. Mitos steroid tidak boleh digunakan untuk eksim
Obat steroid juga masih sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari oleh penderita eksim. Padahal, menurut Wolipop, steroid dapat digunakan untuk membantu mengatasi peradangan pada eksim selama penggunaannya disesuaikan dengan kondisi pasien dan berada dalam perencanaan dokter.
Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan steroid secara tidak tepat, misalnya terus-menerus tanpa pengawasan atau tanpa aturan yang jelas mengenai kapan mulai dan berhenti menggunakannya. Jenis obat, dosis, cara penggunaan, durasi pemakaian, hingga penghentian obat perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
5. Mitos semua pasien mendapat perawatan sama
Mitos lainnya adalah anggapan bahwa semua penderita eksim dapat menggunakan pola perawatan yang sama. Faktanya, kondisi kulit dan faktor pencetus setiap orang dapat berbeda.
Perawatan yang berhasil pada satu orang belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama kepada penderita lainnya. Tidak ada satu aturan perawatan yang berlaku untuk semua penderita eksim.
(TIN)