FITNESS & HEALTH

Awas, Penggunaan Ganja Jangka Panjang Pengaruhi Kognisi dan Psikologi

Mia Vale
Senin 16 Mei 2022 / 17:00
Jakarta: Ganja telah digunakan oleh manusia selama ribuan tahun dan merupakan salah satu obat yang digunakan. Dengan efek seperti perasaan gembira dan relaksasi, juga legal untuk meresepkan atau mengambil di beberapa negara. Tapi bisakah menggunakan obat memengaruhi pikiran? 

Dalam tiga penelitian terbaru, yang diterbitkan dalam The Journal of Psychopharmacology, Neuropsychopharmacology, dan International Journal of Neuropsychopharmacology, menunjukkan bahwa hal itu dapat memengaruhi sejumlah proses kognitif dan psikologis

Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan melaporkan bahwa pengguna utama adalah remaja dan dewasa muda, yang otaknya masih dalam perkembangan. Oleh karena itu, mereka mungkin sangat rentan terhadap efek penggunaan ganja pada otak dalam jangka panjang. Hal ini seperti yang diberitakan dari laman Neuroscience News.

Tetrahydrocannabinol (THC) adalah senyawa psikoaktif utama dalam ganja. Ini bekerja pada "sistem endocannabinoid" otak, yang merupakan reseptor yang merespons komponen kimia ganja. 

Mereka mengatur pensinyalan zat kimia otak dopamin, asam gamma-aminobutirat (GABA) dan glutamat. Kita tahu bahwa dopamin terlibat dalam motivasi, penghargaan, dan pembelajaran. GABA dan glutamat berperan dalam proses kognitif, termasuk pembelajaran dan memori.
 

Efek kognitif 


Penggunaan ganja dapat memengaruhi kognisi, terutama pada mereka yang memiliki gangguan penggunaan ganja. Hal ini ditandai dengan keinginan terus-menerus untuk menggunakan narkoba dan gangguan aktivitas sehari-hari, seperti pekerjaan atau pendidikan. 

Ini juga berdampak negatif pada "fungsi eksekutif" mereka, yang merupakan proses mental termasuk pemikiran yang fleksibel. Efek ini tampaknya terkait dengan usia di mana orang mulai menggunakan obat. Semakin muda mereka, semakin terganggu fungsi eksekutifnya. 


pengaruh ganja pada otak
(Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan melaporkan bahwa pengguna utama remaja dan dewasa muda, yang otaknya masih dalam perkembangan mungkin sangat rentan terhadap efek penggunaan ganja pada otak dalam jangka panjang. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Gangguan kognitif telah dicatat pada pengguna ganja ringan juga. Pengguna seperti itu cenderung membuat keputusan yang lebih berisiko daripada yang lain dan memiliki lebih banyak masalah dengan perencanaan. 

Uniknya, ada bukti perbedaan jenis kelamin dalam efek penggunaan ganja pada kognisi. Kami menunjukkan bahwa, sementara pengguna ganja pria memiliki memori yang lebih buruk untuk mengenali sesuatu secara visual, pengguna wanita memiliki lebih banyak masalah dengan perhatian dan fungsi eksekutif. 
 

Penghargaan dan motivasi


Penggunaan ganja juga dapat memengaruhi perasaan, sehingga semakin memengaruhi pemikiran kita. Misalnya, beberapa penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa penghargaan dan motivasi dapat terganggu ketika kita menggunakan ganja. 

Hal ini dapat memengaruhi kinerja kita di sekolah atau tempat kerja karena dapat membuat kita merasa kurang termotivasi untuk bekerja keras, dan kurang dihargai ketika kita melakukannya dengan baik.  
 

Menyebabkan masalah kesehatan mental


Hal ini telah menunjukkan adanya keterkaitan dengan "anhedonia" yang lebih tinggi atau ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan pada remaja. Menariknya, efek ini sangat terasa selama lockdown pandemi covid-19.

Penggunaan ganja selama masa remaja juga telah dilaporkan sebagai faktor risiko untuk mengembangkan pengalaman psikotik serta skizofrenia. 

Satu studi menunjukkan bahwa penggunaan ganja secara moderat meningkatkan risiko gejala psikotik pada orang muda, tetapi memiliki efek yang jauh lebih kuat pada mereka yang memiliki kecenderungan psikosis.

Namun, menurut penelitian efek kognitif dan psikologis dari penggunaan ganja pada akhirnya mungkin tergantung pada dosis (frekuensi, durasi dan kekuatan), jenis kelamin, kerentanan genetik dan usia onset. 

(TIN)

MOST SEARCH