FITNESS & HEALTH
Investasi Masa Depan Bukan Cuma Saham, Jantung Juga Butuh di-Maintenance!
A. Firdaus
Rabu 10 Juni 2026 / 11:07
- Penumpukan plak yang berlangsung bertahun-tahun membuat aliran darah semakin menyempit.
- Selain kolesterol tinggi, beberapa faktor lain yang mempercepat kerusakan pembuluh darah antara lain diabetes, hipertensi, obesitas, dan kebiasaan merokok.
- Selain pemeriksaan rutin, perubahan gaya hidup juga menjadi langkah utama untuk menjaga kesehatan jantung.
Jakarta: Kolesterol jahat atau LDL dan trigliserida, memiliki peran besar dalam pembentukan plak pada dinding pembuluh darah. Penumpukan plak yang berlangsung bertahun-tahun membuat aliran darah semakin menyempit.
Kondisi tersebut seperti selang air yang lama-kelamaan dipenuhi lumut, sehingga alirannya tidak lagi lancar. Selain kolesterol tinggi, beberapa faktor lain yang mempercepat kerusakan pembuluh darah antara lain diabetes, hipertensi, obesitas, dan kebiasaan merokok.
"Kalau tekanan darah terus tinggi, dinding pembuluh darah lama-lama mengalami erosi. Saat dindingnya rusak, kolesterol lebih mudah menempel dan membentuk plak," jelas dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FSCAI (PERKI) dalam acara Daewoong Indonesia Heart Talk di WeWork Noble House Jakarta, Selasa (09/06/26).
Menurut dr. Febtusia, pasien serangan jantung kini juga semakin banyak ditemukan pada usia muda. Jika dahulu mayoritas pasien berusia di atas 60 tahun, kini kasus pada usia 20 hingga 30 tahun semakin sering dijumpai.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Febtusia juga menyoroti dampak merokok terhadap kesehatan pembuluh darah dan jantung. Ia menjelaskan bahwa karbon monoksida dari asap rokok, dapat mengganggu fungsi sel darah merah, yang seharusnya membawa oksigen ke seluruh tubuh.
"Sel darah merah yang harusnya mengangkut oksigen justru dibajak oleh karbon monoksida. Akibatnya, proses regenerasi sel tubuh terganggu," katanya.
Selain itu, zat dalam rokok juga memiliki efek yang dapat menutupi gejala penyakit, sehingga banyak orang merasa baik-baik saja, meski sebenarnya sudah mengalami kerusakan pembuluh darah.
Meski nyeri dada sebelah kiri sering dianggap sebagai tanda khas serangan jantung, dr. Febtusia mengingatkan bahwa gejalanya bisa sangat beragam.
"Nyeri dada yang khas memang terasa seperti tertindih beban berat dan bisa menjalar ke lengan kiri, punggung, hingga rahang. Tapi banyak pasien yang gejalanya tidak khas," ujarnya.
Pada beberapa kasus, gejala hanya berupa cepat lelah saat beraktivitas ringan, mudah sesak napas saat menaiki tangga, atau penurunan stamina yang tidak biasa.
Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting, untuk mendeteksi risiko penyakit jantung lebih awal.
Dokter. Febtusia menganjurkan pemeriksaan kesehatan rutin setidaknya satu kali dalam setahun, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi.
"Sebenarnya sejak usia 20 tahun sudah dianjurkan untuk mengecek kadar kolesterol, apalagi kalau ada faktor risiko dari keluarga," ujarnya.
Selain pemeriksaan rutin, perubahan gaya hidup juga menjadi langkah utama untuk menjaga kesehatan jantung. Pola makan seimbang, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, berhenti merokok, serta rutin berolahraga menjadi fondasi penting dalam pencegahan penyakit jantung.
Ia menjelaskan bahwa olahraga, yang dianjurkan adalah aktivitas fisik selama sekitar 30 menit sebanyak tiga hingga lima kali per minggu. Menurutnya, olahraga singkat namun rutin jauh lebih baik, dibandingkan berolahraga berat hanya sekali dalam seminggu.
Menutup paparannya, dr. Febtusia mengajak masyarakat untuk mulai berinvestasi pada kesehatan sejak dini.
"Kita harus mulai hidup lebih sehat supaya tetap bisa menjalankan aktivitas sampai usia lanjut, tetap bermanfaat, mandiri, dan tidak merepotkan orang lain," pungkasnya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Kondisi tersebut seperti selang air yang lama-kelamaan dipenuhi lumut, sehingga alirannya tidak lagi lancar. Selain kolesterol tinggi, beberapa faktor lain yang mempercepat kerusakan pembuluh darah antara lain diabetes, hipertensi, obesitas, dan kebiasaan merokok.
"Kalau tekanan darah terus tinggi, dinding pembuluh darah lama-lama mengalami erosi. Saat dindingnya rusak, kolesterol lebih mudah menempel dan membentuk plak," jelas dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FSCAI (PERKI) dalam acara Daewoong Indonesia Heart Talk di WeWork Noble House Jakarta, Selasa (09/06/26).
Menurut dr. Febtusia, pasien serangan jantung kini juga semakin banyak ditemukan pada usia muda. Jika dahulu mayoritas pasien berusia di atas 60 tahun, kini kasus pada usia 20 hingga 30 tahun semakin sering dijumpai.
Bahaya rokok bagi kesehatan jantung
Dalam kesempatan tersebut, dr. Febtusia juga menyoroti dampak merokok terhadap kesehatan pembuluh darah dan jantung. Ia menjelaskan bahwa karbon monoksida dari asap rokok, dapat mengganggu fungsi sel darah merah, yang seharusnya membawa oksigen ke seluruh tubuh.
"Sel darah merah yang harusnya mengangkut oksigen justru dibajak oleh karbon monoksida. Akibatnya, proses regenerasi sel tubuh terganggu," katanya.
Selain itu, zat dalam rokok juga memiliki efek yang dapat menutupi gejala penyakit, sehingga banyak orang merasa baik-baik saja, meski sebenarnya sudah mengalami kerusakan pembuluh darah.
Kenali gejala serangan jantung sejak dini
Meski nyeri dada sebelah kiri sering dianggap sebagai tanda khas serangan jantung, dr. Febtusia mengingatkan bahwa gejalanya bisa sangat beragam.
"Nyeri dada yang khas memang terasa seperti tertindih beban berat dan bisa menjalar ke lengan kiri, punggung, hingga rahang. Tapi banyak pasien yang gejalanya tidak khas," ujarnya.
Pada beberapa kasus, gejala hanya berupa cepat lelah saat beraktivitas ringan, mudah sesak napas saat menaiki tangga, atau penurunan stamina yang tidak biasa.
Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting, untuk mendeteksi risiko penyakit jantung lebih awal.
Medical check-up dan gaya hidup sehat jadi kunci pencegahan
Dokter. Febtusia menganjurkan pemeriksaan kesehatan rutin setidaknya satu kali dalam setahun, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi.
"Sebenarnya sejak usia 20 tahun sudah dianjurkan untuk mengecek kadar kolesterol, apalagi kalau ada faktor risiko dari keluarga," ujarnya.
Selain pemeriksaan rutin, perubahan gaya hidup juga menjadi langkah utama untuk menjaga kesehatan jantung. Pola makan seimbang, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, berhenti merokok, serta rutin berolahraga menjadi fondasi penting dalam pencegahan penyakit jantung.
Ia menjelaskan bahwa olahraga, yang dianjurkan adalah aktivitas fisik selama sekitar 30 menit sebanyak tiga hingga lima kali per minggu. Menurutnya, olahraga singkat namun rutin jauh lebih baik, dibandingkan berolahraga berat hanya sekali dalam seminggu.
Menutup paparannya, dr. Febtusia mengajak masyarakat untuk mulai berinvestasi pada kesehatan sejak dini.
"Kita harus mulai hidup lebih sehat supaya tetap bisa menjalankan aktivitas sampai usia lanjut, tetap bermanfaat, mandiri, dan tidak merepotkan orang lain," pungkasnya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)