FITNESS & HEALTH

Ini 3 Program Utama Tangani Kasus Kanker di Indonesia

Medcom
Rabu 09 November 2022 / 06:09
Jakarta: Pada tahun 2020 penyakit kanker payudara, paru, dan prostat menempati peringkat teratas penyebab kematian di Indonesia. Berdasarkan data riset 2018, menunjukan bahwa ekuivalensi kanker di Indonesia meningkat sebanyak 28% dari 1.4%/seribu penduduk di tahun 2013. Hingga saat ini, kanker masih menjadi penyakit yang kurang penanganannya di Indonesia.

Roche Indonesia bekerjasama dengan Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais untuk meningkatkan upaya penanganan kanker. Hal itu terwujud dengan membuat 3 program utama. Yaitu, telementoring ECHO (Extension for Community Healthare Outcomes), pengembangan kapasitas perawat onkologi, dan implementasi peran Navigator Pasien Kanker (NAPAK).

Program telemonitoring ECHO yaitu, memberikan pelatihan keperawatan onkologi dasar, dimulainya pembelajaran untuk 31 orang penerima beasiswa perawat spesialis onkologi di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Serta dimulainya pembelajaran untuk 25 orang peserta program navigator pasien kanker di Tata Memorial, Center India.

Project ECHO merupakan model telementoring inovatif yang menghubungkan tenaga kesehatan di daerah dengan spesialis/ahli di pusat rujukan. Sehingga pasien bisa ditangani tanpa harus selalu dirujuk. Berlangsung sejak tahun 2021, Program ECHO menargetkan untuk mendirikan 10 layanan kanker yang tersebar di wilayah Indonesia bagian barat hingga timur dengan partisipasi lebih dari 100 rumah sakit pada tahun 2024.

Selain itu, Roche Indonesia bersama RS. Kanker Dharmais, FIK-UI, serta HIMPONI yang turut didukung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, membangun kapasitas perawat onkologi melalui program beasiswa di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Tanpa menggeser posisi dokter spesialis, perawat onkologi sangat dibutuhkan oleh pasien kanker. Namun, saat ini di Indonesia sendiri masih mengandalkan on-the-job training dan hampir tidak ada perawat spesialis onkologi. Hal ini menyebabkan kondisi rendahnya kualitas perawatan pasien, kelelahan perawat, dan hasil perawatan kanker yang tidak optimal.

Agus Setiawan, S.Kp., M.N., D.N. - Dekan FIK-UI mengatakan, program studi perawat spesialis onkologi di FIK-UI merupakan yang pertama dan masih menjadi satu-satunya di Indonesia. “Untuk program beasiswa spesialis onkologi di UI, para penerima beasiswa akan mengikuti program magister dan spesialis selama 3 tahun,” kata Agus.

Program terakhir yaitu, NAPAK memberikan beasiswa pelatihan profesional, pendampingan pelaksanaan NAPAK dalam sistem pelayanan rumah sakit, transfer pengetahuan melalui bantuan teknis untuk mengembangkan kurikulum lokal serta pembentukan pusat pelatihan lokal NAPAK dengan akreditasi nasional.

Kini sebanyak 25 tenaga kesehatan profesional (dokter dan perawat) dari 8 rumah sakit di berbagai wilayah Indonesia telah terpilih untuk mengikuti program pelatihan selama satu tahun.

Nandhita Nur Fadjriah
(YDH)

MOST SEARCH