FITNESS & HEALTH

Kemenkes dan GSK Ajak Keluarga Indonesia Lengkapi Imunisasi Anak

A. Firdaus
Rabu 20 April 2022 / 12:20
Jakarta: Pada 18 April 2022 lalu, Pekan Imunisasi Dunia (PID) diperingati dengan tema 'Long Life for All - sehatkan keluarga, lewati pandemi dengan imunisasi lengkap'. Kementerian Kesehatan bersama dengan GlaxoSmithKline (GSK) Indonesia, perusahaan kesehatan global, kembali menekankan pentingnya imunisasi untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya.

Dua tahun terakhir, sejak dunia terdampak pandemi, pelaksanaan layanan imunisasi cukup mengalami tantangan. Secara global, pada 2020 WHO merilis terdapat 23 juta anak di bawah umur satu tahun yang tidak menerima imunisasi dasar. Fakta ini merupakan angka tertinggi sejak tahun 2009 .  

Di Indonesia, Kemenkes dan UNICEF melaporkan setidaknya 84% dari fasilitas pelayanan kesehatan imunisasi anak di Indonesia terdampak Covid-19. Dampaknya, capaian imunisasi dasar lengkap yang baru mencapai 58,4% dari target 79.1% per Oktober 2021.

Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes, dr. Prima Yosephine MKM mengatakan bahwa dalam menjawab tantangan ini Pemerintah telah mengeluarkan dan mensosialisasikan Keputusan Menteri Kesehatan RI. Keputusan itu tentang Petunjuk Teknis untuk mengatur pelaksanaan pelayanan imunisasi rutin pada masa pandemi Covid-19 serta melakukan akselerasi imunisasi bagi anak yang belum lengkap statusnya.

"Disamping sikap waspada terhadap virus Covid-19 yang terus dijaga, layanan imunisasi pada anak harus tetap diberikan untuk menghindari risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang diakibatkan oleh Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi,” ujar dr. Prima dalam acara peringatan PID.

Potensi wabah KLB dapat terjadi mengingat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti difteri dapat menular. Difteri merupakan bakteri yang menyerang saluran pernapasan pada selaput lendir hidung dan tenggorokan yang menyebabkan anak sulit bernapas. Pada November dan Desember 2021 lalu dilaporkan bahwa tiga kabupaten di Sulawesi Selatan, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Sidenreng Rappang, dan Kabupaten Barru mengalami kasus KLB difteri dan campak.

Untuk itu, Dokter Spesialis Anak, Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) mengatakan agar menghindari terjadinya serta meluasnya kasus Kejadian Luar Biasa (KLB). Penting bagi orang tua untuk segera melengkapi dan mengejar imunisasi anak yang tertinggal tanpa harus mengulang jadwal imunisasi dari awal.

Peran imunisasi terbukti efektif dalam meningkatkan kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah beragam penyakit. Setiap tahun imunisasi telah membantu mencegah kematian 2 hingga 3 juta anak di Indonesia. Semakin lengkap imunisasi yang diberikan pada anak, maka semakin baik pula perlindungan kesehatan anak dan tentunya juga akan berdampak pada kualitas hidup anak di masa depan.

Baca juga: Cakupan Imunisasi Anak Merosot saat Pandemi

Orang tua juga dapat merujuk pada jadwal imunisasi yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Secara rinci, IDAI merekomendasikan anak berusia 0-12 perlu mendapatkan imunisasi vaksin Hepatitis B, Polio, BCG, DTP, Hib, PCV, Rotavirus, Influenza, MR, JE, dan Hepatitis A.

Pada usia 1-2 tahun, anak perlu diberikan vaksin MMR, Varisela, vaksin ulangan DTP-Hib-Hepatitis B. Pada usia 24 bulan, anak perlu menerima vaksin Tifoid. Beranjak usia 9 tahun, anak juga direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin HPV dan Dengue.

Beruntungnya, sebagian besar vaksin tersebut telah masuk dalam program imunisasi nasional, sehingga masyarakat dapat mengakses secara gratis melalui fasilitas kesehatan seperti Puskesmas maupun Posyandu.

Pada pertengahan 2022 ini, Kemenkes juga akan menambahkan vaksin PCV untuk mencegah penyakit pneumonia, dan Rotavirus untuk mencegah diare. Hal ini merupakan upaya yang dilakukan Pemerintah dalam memberikan akses imunisasi dasar lengkap kepada seluruh anak-anak Indonesia.

Demi mendukung pemerintah, GSK Indonesia berkomitmen membangun dan memelihara kesehatan masyarakat. Hal itu disampaikan dr. Deliana Permatasari, Vaccine Medical Director GSK Indonesia.

"kolaborasi public dan private dalam upaya untuk menyampaikan informasi ilmiah kepada petugas kesehatan dan juga masyarakat umum terkait imunisasi harus terus lakukan agar dapat mempercepat cakupan imunisasi lengkap terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) diantaranya seperti Difteri Tetanus Pertussis, Rotavirus, dan Pneumokokus," pungkasnya.
(FIR)

MOST SEARCH