FITNESS & HEALTH

Pentingnya Memantau Kualitas Udara saat Berolahraga

Raka Lestari
Rabu 18 November 2020 / 10:05
Jakarta: Adanya pandemi covid-19 membuat sebagian besar masyarakat memilih kegiatan olahraga luar ruangan (outdoor) agar kesehatannya tetap terjaga. Beberapa pilihan olahraga yang paling banyak diminati antara lain bersepeda, lari, jalan santai, hingga bermain futsal.

Namun, nyatanya ada risiko pada kesehatan yang kurang disadari saat melakukan olahraga outdoor, yakni bahaya polusi udara.

Tingginya tingkat polusi ini pun berpengaruh pada efektivitas lamanya berolahraga yang disarankan. Semakin tinggi tingkat Polusi Particulate Matter (PM)2,5 (melebihi 100), maka semakin singkat waktu olahraga yang disarankan.

Berdasarkan studi dari University of Cambridge yang berjudul “Dapatkah polusi udara menghapus manfaat kesehatan dari bersepeda dan berjalan kaki?”, jika level PM2.5 mencapai 100 ug/m3, maka berolahraga di atas 90 menit tidak akan bermanfaat bagi tubuh dan justru membahayakan tubuh. Selanjutnya, jika tingkat PM2.5 di atas 165 ug/m3, maka waktu olahraga yang optimal adalah maksimal 30 menit.

Menurut Dr. Erlang Samoedro, Dokter Spesialis Paru (Pulmonologist), PM2.5 merupakan polutan paling berbahaya jika terhirup di tubuh manusia. “Sekali kita berolahraga, tingkat pernapasan akan meningkat signifikan hingga 40-60 napas per menit, berbeda dengan aktivitas normal yang hanya mengambil napas 15 kali per menit," ujarnya dalam Virtual Media Briefing Aplikasi Nafas, pada Selasa, 17 November 2020.

"Ditambah lagi, intensitas olahraga yang berbeda menyebabkan perbedaan volume udara yang dihirup. Tentu adanya peningkatan pernapasan saat berolahraga di kualitas udara yang buruk semakin memberi risiko jumlah aerosol yang terhirup, termasuk PM2.5. Beberapa risiko penyakit yang mungkin muncul karena terhirupnya PM2.5 antara lain asma, stroke, dan kanker paru-paru," ujar Dr. Erlang.

Piotr Jakubowski, Co-founder & Chief Growth Officer nafas menjelaskan, sudah bukan rahasia bahwa polusi udara sudah menjadi masalah terbesar di dunia, termasuk Indonesia.

"Ibukota Jakarta pun saat ini masuk ke dalam peringkat keempat kota paling tercemar di dunia. Melihat adanya tren olahraga outdoor yang semakin marak, kami mencoba untuk mengamati data kualitas udara di Jabodetabek yang diharapkan bisa menjadi penentu keselamatan saat berolahraga."

"Berdasarkan data temuan, banyak lokasi yang sering kali memiliki tingkat PM2.5 yang telah melebihi 100 (ambang batas aman). Tentu ini menyoroti pentingnya mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk olahraga yang aman. Jangan sampai risiko kesehatan dari polusi udara ternyata melebihi manfaat berolahraga," tutup Piotr.
(YDH)

MOST SEARCH