FITNESS & HEALTH

Penyebab Kanker Bisa Terjadi karena Faktor Random, Apa Maksudnya?

Raka Lestari
Selasa 22 Februari 2022 / 08:00
Jakarta: Kanker merupakan salah satu penyakit yang berbahaya. Ada banyak jeni kanker dan pada umumnya tidak menimbulkan gejala ketika masih pada stadium awal. Penyebab terjadinya kanker sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti. Penyebab kanker juga bisa berbeda-beda pada setiap individu.  

Di sisi lain, penyebab kanker sendiri bisa dari faktor genetik maupun gaya hidup yang memicu munculnya tumor ganas. Namun, ada juga faktor random, yang dijelaskan  oleh Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia(YKI), Prof. Dr. dr. Aru W Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FACP. 

“Kita pakai kata random. Kanker itu akibat peristiwa mutasi. Tubuh kita itu selnya selalu membelah, berganti baru. Dalam rangka pembelahan sel itu, selalu terjadi mutasi dan ada yang namanya random mutation. Jadi tidak ada penyebab apa-apa,” tutur Prof. Aru dalam talkshow Kalbe dengan topik 'Beyond Physical: Mental and Emotional Impact.'

Ia menambahkan, “Mengapa kita tidak kena kanker? Itu karena kita mempunyai sistem repair, di dalam tubuh kita seperti ada satpam yang keliling-keliling kalau menemukan ada sel yang sedang  tidak benar membelah sel, kita akan reparasi, dimatikan,” papar Prof. Aru.


Kanker terjadi karena peristiwa mutasi
(Ketika divonis terpapar kanker, tak hanya perjuangan pasien yang dibutuhkan, tetapi juga dukungan dari keluarga. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Pada keadaan seimbang itu, maka tubuh manusia dinyatakan masih sehat. Namun, di dalam tubuh    manusia selalu mengalami berjuta-juta mutasi. Tak heran sejumlah penyebab kanker tidak berdasarkan faktor genetik maupun lifestyle. Lalu, bagaimana pencegahannya?

“Random kesalahan yang kebetulan itu tidak direparasi dengan sistem tubuh, karena ada yang kita tidak ketahui. Memang untuk mencegah itu penting tapi tidak ada tolak ukurnya, akhirnya yang penting itu deteksi dini," katanya.

"Itu pun enggak gampang karena beberapa tumor seperti kanker ginjal dan kanker pankreas, sebelum dia menekan saraf, sebelum dia membuat gangguan fungsi, itu tidak akan ketahuan gejalanya,” jelasnya.

Ketika divonis terpapar kanker, tak hanya perjuangan pasien yang dibutuhkan, tetapi juga dukungan dari keluarga. Namun, dukungan keluarga yang berlebihan dapat menimbulkan toxic positivity. 

Contohnya, ketika terus-menerus memberikan motivasi positif yang justru bisa membuat pasien kanker merasa tidak dipahami karena terkadang pasien kanker memiliki ketakutan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH