Kegiatan yang berlangsung selama 200 jam mulai Februari hingga Mei 2026 di Fakultas Psikologi Kampus UGM Yogyakarta ini merupakan implementasi dari Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., dan Direktur IHC, Avifi Arka, Ph.D., pada Februari 2026 lalu.
Salah satu fokus utama dari kolaborasi ini adalah menepis mitos bahwa hipnoterapi hanyalah tontonan hiburan. Apalagi di masyarakat masih ada yang menstigmatisasi hipnotis sebagai tindak kriminal atau kejahatan.
Edilburga Wulan Saptandari, M.Psi., Ph.D., Psikolog, selaku Ketua Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian integral dari proses disertasi mahasiswa doktor, sehingga seluruh proses dapat terstandarisasi dengan ketat dan terukur.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. dr. Kwartarini Wahyu Yuniarti, Ph.D., menegaskan pentingnya mitigasi keilmuan dalam praktik clinical hypnosis.
"Kami memasukkan mitigasi keilmuan dengan sangat fokus agar clinical hypnosis ini tidak dianggap sebagai ilmu 'luar angkasa', tetapi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," ujarnya dikutip Minggu, 29 Maret 2026.
Kolaborasi ini juga bertujuan untuk menguji efikasi hipnoterapi terhadap berbagai kasus medis seperti nyeri kronis, diabetes, hingga kanker secara saintifik.
Kwartarini menambahkan, data internal menunjukkan efektivitas metode clinical hypnosis ini sangat menjanjikan, dengan tingkat keberhasilan mencapai 93 persen hanya dalam enam sesi. Angka ini jauh lebih efisien dibandingkan metode konvensional seperti psychoanalysis.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur IHC, Avifi Arka, Ph.D., menambahkan bahwa kerja sama ini memberikan legitimasi kuat bagi para praktisi. Dengan kurikulum yang telah disesuaikan dengan standar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta sertifikasi dari BNSP dan LSK, diharapkan ke depan 15.500 alumni IHC memiliki kompetensi dengan kualitas sesuai standar akademik UGM.
"IHC berkomitmen untuk menyediakan ekosistem pendukung bagi para akademisi. Kami percaya bahwa sinergi dengan UGM akan membawa standar pelatihan hipnoterapi kita ke tingkat yang lebih tinggi, sekaligus memberikan pengakuan profesional yang lebih luas bagi para praktisi di Indonesia," ujar Avifi.
Dengan dukungan institusi sekaliber UGM yang memiliki rekam jejak riset dan pengabdian masyarakat yang diakui secara nasional maupun internasional — hipnoterapi kini memiliki landasan akademis yang kokoh untuk berkembang sebagai profesi yang kredibel, terstandarisasi, dan berdampak luas.
Langkah UGM dan IHC ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara dunia akademis dan para praktisi yang dapat direplikasi oleh institusi lain dalam upaya memajukan kesehatan mental masyarakat Indonesia secara holistik dan berbasis sains.
| Baca juga: Warga Asal Magelang Merapat, Ada Beasiswa Mahasiswa Berprestasi Nih! Daftar Yuk |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News