FITNESS & HEALTH
Kesehatan Mental dan Fisik Saling Terhubung, Kenali Dampaknya bagi Tubuh
Elang Riki Yanuar
Selasa 03 November 2026 / 19:20
- Kesehatan mental dan fisik saling berkaitan, sehingga pengelolaan stres dan kesadaran mencari bantuan profesional penting untuk menjaga kualitas hidup.
- Konsultasi gangguan kecemasan di Halodoc meningkat 47,2 persen pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
- Studi Zurich mengungkap pekerja dengan ketahanan diri tinggi memiliki kinerja lebih baik, sehingga kesehatan fisik dan mental perlu dijaga secara seimbang.
Jakarta: Menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi fisik. Kesehatan mental juga memiliki peran penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang. Tekanan psikologis yang tidak dikelola dengan baik bahkan dapat memengaruhi kondisi tubuh, meningkatkan risiko gangguan kesehatan, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kesadaran mengenai hubungan antara kesehatan mental dan fisik menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tekanan kehidupan modern. Tuntutan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, serta perubahan gaya hidup dapat memicu stres berkepanjangan yang berdampak pada kesejahteraan seseorang.
CEO dan Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengingatkan bahwa kesehatan mental dan fisik tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya saling berkaitan sehingga membutuhkan perhatian yang seimbang dalam upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Menurut Jonathan, tekanan psikologis yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menimbulkan dampak nyata terhadap tubuh. Karena itu, masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi emosional maupun fisik yang dialami.
“Kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan kondisi fisik, bahkan tekanan psikologis yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak nyata bagi tubuh. Hal ini semakin relevan mengingat konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2% dibandingkan dengan semester I 2025," katanya di Jakarta.
"Kepedulian terhadap kesehatan ini pun perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari mengenali kondisi diri hingga mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan merupakan investasi untuk kualitas hidup yang lebih baik di masa depan," lanjutnya.
Peningkatan konsultasi terkait gangguan kecemasan tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai pentingnya akses terhadap layanan kesehatan mental. Gangguan kecemasan yang tidak ditangani dapat memengaruhi konsentrasi, pola tidur, kemampuan beraktivitas, hingga hubungan sosial seseorang.
Selain berdampak pada kondisi psikologis, stres berkepanjangan juga dapat memicu respons tubuh yang mengganggu kesehatan. Seseorang bisa mengalami gangguan tidur, kelelahan, perubahan nafsu makan, sakit kepala, hingga ketegangan otot. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian yang sama seperti kesehatan fisik.
Kesadaran menjaga kesehatan secara menyeluruh juga berkaitan dengan ketahanan diri atau resilience. Kemampuan seseorang untuk menghadapi tekanan dan bangkit dari situasi sulit tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi mental, tetapi juga kebugaran dan kesehatan tubuh.
Hal tersebut turut diperkuat oleh studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce. Penelitian tersebut menemukan bahwa 88 persen pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan memiliki kinerja baik atau sangat baik. Angka itu hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok pekerja dengan tingkat resilience terendah, yakni 44 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan dan ketahanan diri memiliki kaitan dengan kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk dalam lingkungan pekerjaan. Karena itu, membangun kebiasaan hidup sehat perlu menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas dalam jangka panjang.
Di sisi lain, perhatian terhadap kesehatan juga perlu mencakup pencegahan dan pengelolaan penyakit kronis. Peningkatan usia harapan hidup tidak selalu diikuti dengan bertambahnya masa hidup dalam kondisi sehat. Seseorang bisa hidup lebih lama, tetapi harus menghadapi berbagai gangguan kesehatan selama sebagian tahun kehidupannya.
Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Musi Samosir, menjelaskan bahwa terdapat kesenjangan antara lifespan atau usia hidup dan healthspan atau masa hidup dalam kondisi sehat. Kesenjangan tersebut dapat berlangsung hingga satu dekade sehingga seseorang berpotensi menghabiskan tahun-tahun terakhir kehidupannya dengan kondisi kesehatan yang kurang optimal.
“Usia kita memang semakin panjang, tapi kesehatan kita belum mengikuti panjangnya usia. Artinya, ada kesenjangan antara lifespan dan healthspan yang bisa mencapai dalam satu dekade,” ujar Musi.
Ia menilai perawatan penyakit kronis memiliki peran penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pengelolaan penyakit tidak cukup hanya dilakukan ketika kondisi sudah memburuk, tetapi perlu disertai langkah pencegahan dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.
Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam perayaan 35 tahun Zurich Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, mereka memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards 2026 sebagai bentuk apresiasi kepada perusahaan yang menerapkan praktik untuk mendukung kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan.
“Selama 35 tahun hadir di Indonesia, kami melihat bahwa kebutuhan perlindungan terus berkembang. Karena itu, membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” ujar Edhi Tjahja Negara selaku Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk.
(ELG)
Kesadaran mengenai hubungan antara kesehatan mental dan fisik menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tekanan kehidupan modern. Tuntutan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, serta perubahan gaya hidup dapat memicu stres berkepanjangan yang berdampak pada kesejahteraan seseorang.
CEO dan Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengingatkan bahwa kesehatan mental dan fisik tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya saling berkaitan sehingga membutuhkan perhatian yang seimbang dalam upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Menurut Jonathan, tekanan psikologis yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menimbulkan dampak nyata terhadap tubuh. Karena itu, masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi emosional maupun fisik yang dialami.
“Kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan kondisi fisik, bahkan tekanan psikologis yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak nyata bagi tubuh. Hal ini semakin relevan mengingat konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2% dibandingkan dengan semester I 2025," katanya di Jakarta.
"Kepedulian terhadap kesehatan ini pun perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari mengenali kondisi diri hingga mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan merupakan investasi untuk kualitas hidup yang lebih baik di masa depan," lanjutnya.
Peningkatan konsultasi terkait gangguan kecemasan tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai pentingnya akses terhadap layanan kesehatan mental. Gangguan kecemasan yang tidak ditangani dapat memengaruhi konsentrasi, pola tidur, kemampuan beraktivitas, hingga hubungan sosial seseorang.
Selain berdampak pada kondisi psikologis, stres berkepanjangan juga dapat memicu respons tubuh yang mengganggu kesehatan. Seseorang bisa mengalami gangguan tidur, kelelahan, perubahan nafsu makan, sakit kepala, hingga ketegangan otot. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian yang sama seperti kesehatan fisik.
Kesadaran menjaga kesehatan secara menyeluruh juga berkaitan dengan ketahanan diri atau resilience. Kemampuan seseorang untuk menghadapi tekanan dan bangkit dari situasi sulit tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi mental, tetapi juga kebugaran dan kesehatan tubuh.
Hal tersebut turut diperkuat oleh studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce. Penelitian tersebut menemukan bahwa 88 persen pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan memiliki kinerja baik atau sangat baik. Angka itu hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok pekerja dengan tingkat resilience terendah, yakni 44 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan dan ketahanan diri memiliki kaitan dengan kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk dalam lingkungan pekerjaan. Karena itu, membangun kebiasaan hidup sehat perlu menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas dalam jangka panjang.
Di sisi lain, perhatian terhadap kesehatan juga perlu mencakup pencegahan dan pengelolaan penyakit kronis. Peningkatan usia harapan hidup tidak selalu diikuti dengan bertambahnya masa hidup dalam kondisi sehat. Seseorang bisa hidup lebih lama, tetapi harus menghadapi berbagai gangguan kesehatan selama sebagian tahun kehidupannya.
Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Musi Samosir, menjelaskan bahwa terdapat kesenjangan antara lifespan atau usia hidup dan healthspan atau masa hidup dalam kondisi sehat. Kesenjangan tersebut dapat berlangsung hingga satu dekade sehingga seseorang berpotensi menghabiskan tahun-tahun terakhir kehidupannya dengan kondisi kesehatan yang kurang optimal.
“Usia kita memang semakin panjang, tapi kesehatan kita belum mengikuti panjangnya usia. Artinya, ada kesenjangan antara lifespan dan healthspan yang bisa mencapai dalam satu dekade,” ujar Musi.
Ia menilai perawatan penyakit kronis memiliki peran penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pengelolaan penyakit tidak cukup hanya dilakukan ketika kondisi sudah memburuk, tetapi perlu disertai langkah pencegahan dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.
Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam perayaan 35 tahun Zurich Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, mereka memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards 2026 sebagai bentuk apresiasi kepada perusahaan yang menerapkan praktik untuk mendukung kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan.
“Selama 35 tahun hadir di Indonesia, kami melihat bahwa kebutuhan perlindungan terus berkembang. Karena itu, membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” ujar Edhi Tjahja Negara selaku Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk.
(ELG)