FITNESS & HEALTH

Smartwatch Ternyata Bisa Jadi Early Warning Jantung

Aulia Putriningtias
Sabtu 14 Februari 2026 / 12:13
Ringkasnya gini..
  • Prevalensi aritmia jantung (gangguan irama jantung) berkisar antara 1,5 persen
  • Smartwatch menggunakan foto sensor.
  • Cara paling gampang alah raba nadi kita.
Jakarta: Aritmia jantung adalah masalah gangguan kesehatan yang serius. Kamu bisa mulai deteksi dini mulai dari pemakaian smartwatch atau jam tangan digital yang canggih itu, loh, Sobat Medcom! Gimana caranya, ya?

Aritmia jantung sendiri merupakan gangguan yang sangat berkaitan dengan kondisi kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, gagal ginjal, penyakit katup jantung dan penyakit arteri coroner. Salah satu yang kasusnya tinggi adalah Atrial fibrilasi.

Data epidemiologi global menunjukkan bahwa prevalensi aritmia jantung (gangguan irama jantung) berkisar antara 1,5 persen hingga 5 persen dari populasi. Atrial fibrilasi merupakan jenis aritmia dengan insiden paling tinggi mencapai 46,3 juta kasus. 
Angka tersebut memang mengkhawatirkan. Maka dari itu, dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP,(K) CCDS selaku Dokter Spesialis Jantung Eka Hospital MT Haryono menjelaskan keunggulan smartwatch sebagai alat yang membantu kita mendeteksi dini aritmia jantung ini.

"Smartwatch yang biasa kita pakai itu menggunakan foto sensor. Dia menghitung denyut nadi kita, bukan denyut jantung. Denyut nadi yang dikeluarkan dari denyutan jantung," papar dr. Evan kepada tim Medcom.id saat ditemui di acara Launching & Health Talk Atrial Fibrilation Clinic di Eka Hospital MT Haryono, Jumat, 13 Februari 2026.

Smartwatch memang dapat menghitung denyut nadi kita. Namun, yang menjadi kekurangan adalah alat tersebut harus selalu dipakai jika ingin tahu perkembangan denyut nadi, agar bisa menjadi laporan bantuan dokter saat berkonsultasi.


dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP,(K) CCDS. Dok. Aulia/Medcom
 

Bagaimana jika tidak menggunakan smartwatch?


Dr. Evan juga memaklumi tak semua orang memiliki smartwatch. Jadi, ia menyarankan untuk melakukan raba nadi. Karena nadi cepat dan pelan itu bisa varian normal. Namun, jika tidak beraturan dan terlalu sering terjadi, harus segera waspada.

"Cara paling gampang alah raba nadi kita di bagian ungu darah kita. Jika tidak beraturan, kemungkinan itu atrium fibrilasi atau gangguan irama (aritmia) lainnya," jelas dr. Evan.

Ia menambahkan bahwa untuk meraba nadi memang harus latihan terlebih dahulu. Jadi, tidak masalah bagi mereka yang obesitas atau tidak, raba nadi sendiri bisa dilakukan jika kita latihan untuk mendapatkan hasil denyut yang benar.

"Tidak selalu kita, apalagi orang awam (bisa melakukan raba nadi). Andaikan saja nadinya bagus, kencang sekuat tenaga, tapi rabanya salah, itu juga tidak akan terasa rabanya," tutup dr. Evan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH