FITNESS & HEALTH

Dewasa tapi Masih Hobi Ngambek? Fix, Emosi Kamu Enggak Stabil!

Yatin Suleha
Minggu 21 Juni 2026 / 20:07
Ringkasnya gini..
  • Jadi orang dewasa bukan jaminan otomatis punya kematangan emosional.
  • Nyatanya, masih banyak orang yang gampang marah, antikritik, hobi cari kambing hitam, atau asal ambil tindakan pas lagi pusing.
  • Perilaku ini sekilas mirip banget sama cara anak kecil merespons sesuatu kalau keinginannya gak diturutin.
Jakarta: Jadi orang dewasa bukan jaminan otomatis punya kematangan emosional. Nyatanya, masih banyak orang yang gampang marah, antikritik, hobi cari kambing hitam, atau asal ambil tindakan pas lagi pusing.

Perilaku ini sekilas mirip banget sama cara anak kecil merespons sesuatu kalau keinginannya gak diturutin. 

Nah, para ahli biasanya menilai kedewasaan seseorang dari cara mereka mengelola emosi, menghadapi konflik, dan gimana mereka memperlakukan orang di sekitarnya.
 
Mengutip dari Psychology Today, Psikolog Susan Heitler, Ph.D. merangkum ada 10 tanda kalau seseorang sebenarnya belum matang secara emosional. Penasaran apa saja tandanya?
 

1. Emosi mudah meledak


Anak-anak cenderung mudah menangis, merajuk, atau marah saat keinginannya tidak terpenuhi. Pada orang dewasa, ledakan emosi yang terlalu sering, juga bisa menjadi tanda kurangnya kematangan emosional. Sebaliknya, individu yang matang biasanya mampu menenangkan diri sebelum bereaksi.
 

2. Sering menyalahkan orang lain


Ketika menghadapi masalah, orang yang belum matang secara emosional, cenderung sibuk mencari pihak yang bisa disalahkan. Orang dewasa yang matang lebih fokus mencari solusi daripada mencari kambing hitam.
 

3. Sulit jujur saat menghadapi situasi tidak nyaman


Berbohong untuk menghindari konsekuensi merupakan perilaku, yang umum pada anak-anak. Namun, orang dewasa yang matang, umumnya berusaha menghadapi kenyataan dan bertanggung jawab atas tindakannya.
 

4. Suka menghina atau menyerang pribadi



(Orang dewasa yang suka ngambek biasanya kesulitan mengelola emosinya karena mereka tidak terbiasa menyampaikan kebutuhan secara asertif. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Saat berkonflik, individu yang tidak matang sering menyerang karakter atau kepribadian orang lain. Sebaliknya, orang dewasa fokus membahas masalah yang terjadi, tanpa menjatuhkan atau merendahkan lawan bicaranya.
 

5. Bertindak terlalu impulsif


Ketika marah atau terluka, anak-anak sering bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Pola yang sama juga dapat muncul pada orang dewasa yang memiliki kontrol emosi rendah, seperti berbicara kasar, menyela pembicaraan, atau mengambil keputusan secara tergesa-gesa.
 

6. Selalu ingin menjadi pusat perhatian


Keinginan untuk terus diperhatikan dan sulit memberi ruang bagi orang lain, juga dapat menjadi tanda ketidakdewasaan emosional. 

Orang yang matang mampu berbagi perhatian, dan menghargai keberadaan orang lain dalam suatu percakapan atau situasi.
 

7. Suka memaksakan kehendak


Perilaku merundung atau memaksakan keinginan, agar selalu dituruti sering kali berakar dari pola pikir yang belum matang. Sebaliknya, orang dewasa yang sehat menghormati batasan, hak, dan kebutuhan orang lain.
 

8. Memiliki sikap narsistik berlebihan


Narsisme membuat seseorang merasa aturan tidak berlaku untuk dirinya. Fokus utamanya hanya pada kebutuhan dan keinginannya sendiri. Akibatnya, ia sulit memahami sudut pandang maupun perasaan orang lain.
 

9. Menggunakan mekanisme pertahanan yang tidak sehat


Menurut Freud, mekanisme pertahanan adalah cara seseorang melindungi diri saat menghadapi tekanan. Orang dewasa yang matang, biasanya memilih komunikasi dan pemecahan masalah. 

Sebaliknya, perilaku seperti menyangkal kesalahan, menyerang balik, atau menolak fakta merupakan bentuk pertahanan yang lebih primitif.
 


10. Sulit mengakui kesalahan


Salah satu tanda utama kematangan emosional adalah kemampuan mengevaluasi diri. Orang yang matang dapat menyadari, ketika dirinya bertindak tidak tepat dan bersedia belajar dari kesalahan tersebut. 

Sebaliknya, individu yang belum matang cenderung membenarkan perilakunya, dan menyalahkan orang lain atas tindakannya.


Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH