FITNESS & HEALTH
Piala Dunia 2026 Hadirkan Hydration Break, Ahli Ungkap Pentingnya Hidrasi saat Bertanding
A. Firdaus
Jumat 19 Juni 2026 / 08:14
- Kebijakan tersebut semakin menegaskan bahwa menjaga asupan cairan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam menjaga performa pemain selama 90 menit.
- Kehilangan cairan tubuh saat pertandingan dapat berdampak langsung pada kemampuan fisik dan mental atlet.
- Untuk aktivitas yang berlangsung lebih dari satu jam, air putih belum tentu mampu memenuhi kebutuhan tubuh.
Jakarta: Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan format baru dengan 48 tim peserta, tetapi juga membawa perhatian lebih besar terhadap kesehatan dan keselamatan pemain. Salah satunya melalui penerapan sesi hydration break atau jeda minum di tengah pertandingan, terutama saat cuaca panas ekstrem yang diperkirakan akan menjadi tantangan di sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Kebijakan tersebut semakin menegaskan bahwa menjaga asupan cairan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam menjaga performa pemain selama 90 menit. Bahkan, sebagian besar penonton sepak bola mungkin menganggap jeda babak pertama atau halftime hanya sebagai waktu istirahat. Namun, di level profesional, momen tersebut justru menjadi salah satu penentu performa di babak kedua.
Direktur Sports Performance and Nutrition Education Herbalife, Dr. Krissy Ladner, mengatakan kehilangan cairan tubuh saat pertandingan dapat berdampak langsung pada kemampuan fisik dan mental atlet.
"Atlet dapat kehilangan satu hingga tiga liter keringat setiap jam. Bahkan kehilangan cairan sebesar dua persen dari berat badan sudah cukup untuk menurunkan performa, seperti kecepatan sprint, kemampuan menggiring bola, waktu reaksi, hingga meningkatkan rasa lelah," kata Dr. Ladner.
Dengan durasi pertandingan 90 menit dan cuaca yang kerap panas, jeda 15 menit saat halftime tidak hanya dimanfaatkan untuk menyusun strategi. Bagi tim medis dan ahli nutrisi, waktu tersebut merupakan kesempatan penting untuk mengisi kembali energi dan cairan yang hilang.
Hal ini sejalan dengan penerapan hydration break dalam sejumlah pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Suhu yang tinggi membuat pemain membutuhkan asupan cairan tambahan agar terhindar dari dehidrasi dan penurunan performa.
Menurut Dr. Ladner, keringat tidak hanya terdiri dari air, tetapi juga mengandung berbagai elektrolit penting seperti natrium, klorida, kalium, magnesium, dan kalsium.
Mineral-mineral tersebut berperan menjaga fungsi saraf, kontraksi otot, hingga kesehatan jantung. Ketika tubuh kehilangan terlalu banyak elektrolit, seseorang dapat mengalami kram, pusing, sakit kepala, waktu reaksi melambat, hingga kelelahan berlebihan.
Untuk aktivitas yang berlangsung lebih dari satu jam, air putih belum tentu mampu memenuhi kebutuhan tubuh.
"Air dapat menggantikan volume cairan yang hilang, tetapi tidak menggantikan natrium. Padahal, natrium membantu mempertahankan cairan di dalam tubuh dan mendukung penyerapannya ke dalam sel," jelasnya.
Karena itu, minuman olahraga dengan kandungan karbohidrat dan elektrolit sering digunakan atlet untuk membantu menjaga performa selama pertandingan.
Dalam mendampingi pemain sepak bola profesional, Dr. Ladner menerapkan tiga komponen penting selama waktu istirahat:
Pemain dianjurkan mengonsumsi 30-60 gram karbohidrat sederhana yang mudah dicerna. Jumlah tersebut dapat diperoleh dari minuman olahraga, pisang, gel karbohidrat, atau energy chews. Tujuannya untuk mengisi kembali cadangan glikogen dan menjaga fokus saat memasuki babak kedua.
Natrium menjadi prioritas utama karena berperan besar dalam mempertahankan cairan tubuh dan mencegah dehidrasi. Kalium dan magnesium juga membantu fungsi otot serta sistem saraf.
Atlet disarankan mengonsumsi sekitar 350-700 mililiter cairan selama jeda babak pertama, serta 120-240 mililiter setiap 15 menit selama pertandingan berlangsung.
Prinsip hidrasi tersebut ternyata juga berlaku bagi masyarakat yang rutin berolahraga, seperti pelari, pesepeda, hingga pemain futsal.
"Jika kamu beraktivitas lebih dari 60 menit atau berkeringat banyak, kemungkinan air putih saja tidak cukup. Tubuh juga membutuhkan natrium dan karbohidrat, terutama ketika intensitas olahraga tinggi," ujar Dr. Ladner.
- Perhatikan warna urine. Warna kuning muda seperti limun menunjukkan hidrasi yang baik, sedangkan warna lebih gelap menandakan tubuh membutuhkan lebih banyak cairan.
Penerapan hydration break pada Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa perhatian terhadap hidrasi kini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan performa atlet. Bahkan, jeda pertandingan bukan lagi sekadar waktu bernapas sejenak, melainkan momen strategis untuk mengisi ulang energi.
"Jadi, lain kali ketika Anda menyaksikan pertandingan dan peluit tanda waktu istirahat dibunyikan, jangan menganggapnya sebagai jeda semata. Anggaplah itu sebagai momen ketika hasil babak kedua mulai ditentukan, seteguk demi seteguk," tutup Dr. Ladner.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Kebijakan tersebut semakin menegaskan bahwa menjaga asupan cairan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam menjaga performa pemain selama 90 menit. Bahkan, sebagian besar penonton sepak bola mungkin menganggap jeda babak pertama atau halftime hanya sebagai waktu istirahat. Namun, di level profesional, momen tersebut justru menjadi salah satu penentu performa di babak kedua.
Direktur Sports Performance and Nutrition Education Herbalife, Dr. Krissy Ladner, mengatakan kehilangan cairan tubuh saat pertandingan dapat berdampak langsung pada kemampuan fisik dan mental atlet.
"Atlet dapat kehilangan satu hingga tiga liter keringat setiap jam. Bahkan kehilangan cairan sebesar dua persen dari berat badan sudah cukup untuk menurunkan performa, seperti kecepatan sprint, kemampuan menggiring bola, waktu reaksi, hingga meningkatkan rasa lelah," kata Dr. Ladner.
Jeda babak pertama jadi momen krusial
Dengan durasi pertandingan 90 menit dan cuaca yang kerap panas, jeda 15 menit saat halftime tidak hanya dimanfaatkan untuk menyusun strategi. Bagi tim medis dan ahli nutrisi, waktu tersebut merupakan kesempatan penting untuk mengisi kembali energi dan cairan yang hilang.
Hal ini sejalan dengan penerapan hydration break dalam sejumlah pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Suhu yang tinggi membuat pemain membutuhkan asupan cairan tambahan agar terhindar dari dehidrasi dan penurunan performa.
Menurut Dr. Ladner, keringat tidak hanya terdiri dari air, tetapi juga mengandung berbagai elektrolit penting seperti natrium, klorida, kalium, magnesium, dan kalsium.
Mineral-mineral tersebut berperan menjaga fungsi saraf, kontraksi otot, hingga kesehatan jantung. Ketika tubuh kehilangan terlalu banyak elektrolit, seseorang dapat mengalami kram, pusing, sakit kepala, waktu reaksi melambat, hingga kelelahan berlebihan.
Air putih saja tak selalu cukup
Untuk aktivitas yang berlangsung lebih dari satu jam, air putih belum tentu mampu memenuhi kebutuhan tubuh.
"Air dapat menggantikan volume cairan yang hilang, tetapi tidak menggantikan natrium. Padahal, natrium membantu mempertahankan cairan di dalam tubuh dan mendukung penyerapannya ke dalam sel," jelasnya.
Karena itu, minuman olahraga dengan kandungan karbohidrat dan elektrolit sering digunakan atlet untuk membantu menjaga performa selama pertandingan.
Formula hidrasi ala pesepak bola
Dalam mendampingi pemain sepak bola profesional, Dr. Ladner menerapkan tiga komponen penting selama waktu istirahat:
1. Karbohidrat
Pemain dianjurkan mengonsumsi 30-60 gram karbohidrat sederhana yang mudah dicerna. Jumlah tersebut dapat diperoleh dari minuman olahraga, pisang, gel karbohidrat, atau energy chews. Tujuannya untuk mengisi kembali cadangan glikogen dan menjaga fokus saat memasuki babak kedua.
2. Elektrolit
Natrium menjadi prioritas utama karena berperan besar dalam mempertahankan cairan tubuh dan mencegah dehidrasi. Kalium dan magnesium juga membantu fungsi otot serta sistem saraf.
3. Volume Cairan
Atlet disarankan mengonsumsi sekitar 350-700 mililiter cairan selama jeda babak pertama, serta 120-240 mililiter setiap 15 menit selama pertandingan berlangsung.
Bukan hanya untuk atlet profesional
Prinsip hidrasi tersebut ternyata juga berlaku bagi masyarakat yang rutin berolahraga, seperti pelari, pesepeda, hingga pemain futsal.
"Jika kamu beraktivitas lebih dari 60 menit atau berkeringat banyak, kemungkinan air putih saja tidak cukup. Tubuh juga membutuhkan natrium dan karbohidrat, terutama ketika intensitas olahraga tinggi," ujar Dr. Ladner.
Ada dua cara sederhana untuk mengetahui apakah tubuh mengalami dehidrasi:
- Timbang berat badan sebelum dan sesudah olahraga. Penurunan berat badan dua persen atau lebih menjadi tanda tubuh kekurangan cairan.- Perhatikan warna urine. Warna kuning muda seperti limun menunjukkan hidrasi yang baik, sedangkan warna lebih gelap menandakan tubuh membutuhkan lebih banyak cairan.
Hasil babak kedua ditentukan dari seteguk demi seteguk
Penerapan hydration break pada Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa perhatian terhadap hidrasi kini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan performa atlet. Bahkan, jeda pertandingan bukan lagi sekadar waktu bernapas sejenak, melainkan momen strategis untuk mengisi ulang energi.
"Jadi, lain kali ketika Anda menyaksikan pertandingan dan peluit tanda waktu istirahat dibunyikan, jangan menganggapnya sebagai jeda semata. Anggaplah itu sebagai momen ketika hasil babak kedua mulai ditentukan, seteguk demi seteguk," tutup Dr. Ladner.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)