FITNESS & HEALTH

Benarkah Minyak Ikan Mampu Mengatasi Penyakit Jantung?

Sandra Odilifia
Rabu 25 November 2020 / 08:00
Jakarta: Banyak orang mempercayai bahwa suplemen minyak ikan dapat mengatasi penyakit jantung. Namun apakah cara itu benar-benar efektif?

Melansir Healthline, penelitian baru dari Klinik Cleveland telah menemukan bahwa jenis minyak ikan yang umum mungkin tidak bermanfaat bagi jantung seperti yang diperkirakan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association pada 15 November, menemukan bahwa asam lemak omega-3 dosis tinggi tidak mengurangi kemungkinan orang mengalami kejadian kardiovaskular utama.

Meski bukti mengenai penggunaan minyak ikan untuk kesehatan jantung beragam. Seringkali, hasilnya dipengaruhi oleh jenis minyak ikan dan jenis plasebo yang digunakan.

Dokter jantung mencurigai berbagai jenis minyak ikan khususnya asam eicosapentaenoic (EPA) dan asam lemak docosahexaenoic acid (DHA) memiliki efek berbeda pada tubuh. Sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami berbagai jenis minyak ikan dan dampaknya pada sistem kardiovaskular.

“Lebih banyak penelitian diperlukan untuk melihat minyak ikan EPA yang dimurnikan melawan plasebo minyak jagung netral atau formulasi lain dari minyak ikan DHA dan EPA melawan minyak ikan EPA yang dimurnikan,” ujar Dr. Guy Mintz, direktur kesehatan jantung & lipidologi kardiologi di Rumah Sakit Jantung Sandra Atlas Bass Northwell Health di Manhasset, New York.
 

Minyak ikan tidak berpengaruh pada jantung


Dalam uji klinis yang dilakukan secara acak, 13.078 orang menerima suplementasi harian asam lemak omega-3 dosis tinggi yang terbuat dari DHA dan EPA atau plasebo yang terbuat dari minyak jagung.

Para pasien tersebut sudah mengonsumsi statin (obat untuk menurunkan kolesterol) dan mereka sebelumnya telah didiagnosis dengan risiko kardiovaskular tinggi, hipertrigliseridemia atau kolesterol lipoprotein densitas tinggi yang rendah.

Namun pada akhirnya, penelitian dihentikan lebih awal karena tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok.

Selain itu, sekitar 67 persen peserta yang mengonsumsi suplemen minyak ikan mengalami fibrilasi atrium (detak jantung tidak teratur), yang menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko yang terkait dengan suplemen yang mengandung asam lemak EPA dan DHA.

Akibatnya, para peneliti tidak merekomendasikan formulasi asam lemak omega-3 EPA-DHA untuk mengurangi kardiovaskular.

“Kombinasi minyak ikan DHA dan EPA tidak menunjukkan manfaat kardiovaskular yang signifikan, bahkan pada dosis tinggi dan secara khusus dalam uji coba kekuatan,” kata Mintz.

Lebih lanjut, menurut Mintz, banyak bukti tentang minyak ikan telah dicampur. Sehingga minyak ikan secara luas dianggap dapat meningkatkan kesehatan jantung karena sifat anti-inflamasi, efek pengencer darah, dan peningkatan kadar trigliserida.

Penelitian sebelumnya telah mengamati perbedaan jumlah minyak ikan dan jenis plasebo (misalnya minyak jagung atau minyak mineral). Mereka juga mengevaluasi komposisi minyak ikan yang berbeda.

Menurut Dr. Sanjiv Patel, ahli jantung intervensi di MemorialCare Heart California, perbedaan tersebut membuat peneliti kesulitan untuk membandingkan semua temuan yang ada.

Di sisi lain, Dr. Richard Wright, ahli jantung di Pusat Kesehatan Providence Saint John di California mengatakan, tidak ada penelitian yang secara meyakinkan menunjukkan bahwa minyak ikan umum yang dijual bebas memberikan manfaat klinis.
(FIR)

MOST SEARCH