FITNESS & HEALTH

Deltacron Masuk dalam Kategori Variant under Monitoring

Raka Lestari
Sabtu 19 Maret 2022 / 15:15
Jakarta: Sejak ditemukan pada akhir 2019 lalu, Covid-19 terus mengalami mutasi dengan adanya berbagai varian. Mulai dari varian Alpha, Beta, Delta, dan yang terbaru adalah Omicron. Beberapa waktu belakangan ini, ada juga Deltacron yang membuat masyarakat khawatir dengan adanya hal tersebut.

“Deltacron itu sebenarnya bukan mutasi. Itu seperti kombinasi dari 2 varian, Delta dan Omicron,” ujar Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam Konferensi Pers Hasil Sero Survei Nasional.

Menurut Budi, sampai sekarang di Eropa pun Deltacron ini baru teridentifikasi. Deltacron masuk dalam kategori variant under monitoring.

“Artinya belum dipastikan transmisinya lebih cepat atau tidak. Belum bisa dipastikan apakah dia lebih parah atau tidak severity-nya. Belum bisa dipastikan apakah dia bisa escape immunity atau tidak,” jelas Menkes Budi.

“Tapi yang jelas kombinasi Delta dan Omicron ini sudah masuk lama yaitu sekitar sebulan dan tidak ada progress nya. Berbeda dengan Omicron, kalau Omicron masuk di WHO, 2 minggu sudah langsung dinaikkan jadi Variant of Concern (VoC). Jadi kalau kita melihat gejalanya mungkin ini kaya Mu dan Lambda, tidak mengkhawatirkan seperti yang kita bayangkan sebelumnya,” tutur Menkes Budi.

Mengenai gejala dari Deltacron, pada umumnya hampir sama dengan gejala yang ditimbulkan ketika terinfeksi Omicron. Gejala yang timbul di antaranya batuk, pilek, sakit tenggorokan dan demam. Namun, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai gejala penderita Deltacron.

Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Dalam Negeri dan Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI mengumumkan hasil survei serologi antibodi penduduk Indonesia terhadap virus SARS-CoV-2. Hasilnya sebanyak 86,6% populasi Indonesia memiliki antibodi terhadap covid-19.

Sero survey dilakukan pada November- Desember 2021. Artinya 86,6% penduduk Indonesia memiliki kekebalan terhadap covid-19 itu pada bulan tersebut. Namun seiring dengan masih dilakukannya vaksinasi covid-19 maka jumlah penduduk yang memiliki kekebalan terhadap covid-19 akan semakin bertambah.

“Dengan kita masih memiliki kekebalan, kita akan lebih bebas bergerak karena kalaupun terkena risiko masuk rumah sakit dan wafatnya jauh lebih rendah. Otomatis protokol kesehatannya harus selalu diingat dan dijaga,” pungkas Budi Gunadi.
(FIR)

MOST SEARCH