FITNESS & HEALTH
Stunting Enggak Datang Tiba-Tiba, Ini Tanda Awalnya Menurut IDAI
A. Firdaus
Rabu 05 Agustus 2026 / 12:39
- Pemantauan pertumbuhan bukan sekadar menimbang berat badan.
- Pada usia dua tahun, perkembangan otak telah mencapai sekitar 80 persen
- Stunting tidak terjadi secara tiba-tiba.
Jakarta: Risiko stunting pada anak sebenarnya dapat dikenali sejak dini. Karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk rutin memantau pertumbuhan anak menggunakan kurva pertumbuhan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar gangguan tumbuh kembang bisa segera ditangani sebelum berkembang menjadi stunting.
Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. I Gusti Ayu Trisna Windiani, Sp.A., Subsp. T.K.P.S.(K), menjelaskan bahwa pemantauan pertumbuhan bukan sekadar menimbang berat badan. Proses ini meliputi pengukuran, pencatatan, plotting pada kurva pertumbuhan, hingga interpretasi hasil pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala secara berkala.
"Dengan melakukan pemantauan, kita bisa menemukan risiko penyimpangan pertumbuhan. Kita bisa menilai arah pertumbuhan anak dari waktu ke waktu, bukan hanya sekali ukur," ujar Dr. Trisna dalam seminar daring IDAI.
Menurut Dr. Trisna, dua tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Pada usia dua tahun, perkembangan otak telah mencapai sekitar 80 persen, meningkat menjadi 85 persen saat usia tiga tahun, dan sekitar 95 persen ketika anak berusia enam tahun.
Karena itu, setiap penyimpangan pertumbuhan perlu dikenali sedini mungkin agar anak dapat segera memperoleh penanganan yang tepat, mulai dari perbaikan nutrisi, stimulasi perkembangan, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan bila diperlukan.
Dr. Trisna menjelaskan, salah satu tanda awal gangguan pertumbuhan adalah weight faltering, yaitu kondisi ketika kenaikan berat badan anak melambat atau tidak sesuai dengan usianya.
"Awalnya memang underweight dulu. Weight faltering dulu," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini umumnya diawali dengan berat badan yang tidak naik sesuai kurva pertumbuhan, kemudian berkembang menjadi berat badan di bawah normal (underweight). Jika kekurangan gizi terus berlanjut tanpa penanganan, pertumbuhan tinggi badan anak dapat ikut terganggu hingga akhirnya mengalami stunting.
Stunting sendiri didefinisikan sebagai kondisi ketika panjang atau tinggi badan anak menurut umur berada di bawah minus dua standar deviasi berdasarkan kurva pertumbuhan WHO.
IDAI mengingatkan bahwa penilaian pertumbuhan anak tidak boleh hanya berdasarkan satu kali pengukuran. Yang lebih penting adalah melihat pola atau tren pertumbuhan dari waktu ke waktu.
Orang tua dapat memanfaatkan kurva pertumbuhan standar WHO yang tersedia di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Grafik tersebut menjadi acuan global untuk memantau pertumbuhan anak usia 0–5 tahun berdasarkan indikator berat badan, panjang atau tinggi badan, serta indeks massa tubuh menggunakan sistem Z-score.
"Lakukan pemantauan pertumbuhan ini secara rutin dan berkala, sehingga kita bisa melakukan deteksi terhadap potensi masalah kesehatan maupun pertumbuhan, dan melakukan pencegahan maupun intervensi," tutup Trisna.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. I Gusti Ayu Trisna Windiani, Sp.A., Subsp. T.K.P.S.(K), menjelaskan bahwa pemantauan pertumbuhan bukan sekadar menimbang berat badan. Proses ini meliputi pengukuran, pencatatan, plotting pada kurva pertumbuhan, hingga interpretasi hasil pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala secara berkala.
"Dengan melakukan pemantauan, kita bisa menemukan risiko penyimpangan pertumbuhan. Kita bisa menilai arah pertumbuhan anak dari waktu ke waktu, bukan hanya sekali ukur," ujar Dr. Trisna dalam seminar daring IDAI.
Dua tahun pertama jadi periode emas
Menurut Dr. Trisna, dua tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Pada usia dua tahun, perkembangan otak telah mencapai sekitar 80 persen, meningkat menjadi 85 persen saat usia tiga tahun, dan sekitar 95 persen ketika anak berusia enam tahun.
Karena itu, setiap penyimpangan pertumbuhan perlu dikenali sedini mungkin agar anak dapat segera memperoleh penanganan yang tepat, mulai dari perbaikan nutrisi, stimulasi perkembangan, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan bila diperlukan.
Berat badan yang sulit naik bisa jadi alarm
Dr. Trisna menjelaskan, salah satu tanda awal gangguan pertumbuhan adalah weight faltering, yaitu kondisi ketika kenaikan berat badan anak melambat atau tidak sesuai dengan usianya.
"Awalnya memang underweight dulu. Weight faltering dulu," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini umumnya diawali dengan berat badan yang tidak naik sesuai kurva pertumbuhan, kemudian berkembang menjadi berat badan di bawah normal (underweight). Jika kekurangan gizi terus berlanjut tanpa penanganan, pertumbuhan tinggi badan anak dapat ikut terganggu hingga akhirnya mengalami stunting.
Stunting sendiri didefinisikan sebagai kondisi ketika panjang atau tinggi badan anak menurut umur berada di bawah minus dua standar deviasi berdasarkan kurva pertumbuhan WHO.
Jangan hanya melihat hasil sekali ukur
IDAI mengingatkan bahwa penilaian pertumbuhan anak tidak boleh hanya berdasarkan satu kali pengukuran. Yang lebih penting adalah melihat pola atau tren pertumbuhan dari waktu ke waktu.
Orang tua dapat memanfaatkan kurva pertumbuhan standar WHO yang tersedia di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Grafik tersebut menjadi acuan global untuk memantau pertumbuhan anak usia 0–5 tahun berdasarkan indikator berat badan, panjang atau tinggi badan, serta indeks massa tubuh menggunakan sistem Z-score.
"Lakukan pemantauan pertumbuhan ini secara rutin dan berkala, sehingga kita bisa melakukan deteksi terhadap potensi masalah kesehatan maupun pertumbuhan, dan melakukan pencegahan maupun intervensi," tutup Trisna.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)